
Kami terus berjalan di jalanan setapak itu untuk bisa sampai di rumah mbah Gamik.
Suasana hutan lambat laun semakin tambah mencekam, rasa merinding tiba-tiba menghampiri saat telinga kami mendengar suara burung hantu yang memenuhi hutan ini.
"Serem banget hutan ini, kalau aku tau hutan ini akan seseram ini, aku gak akan mau ikut ke sini" begidik ngeri Alisa dengan melihat sekeliling yang membuatnya tambah merinding.
"Gak akan ada apa-apa kok sa, semuanya akan baik-baik saja, kamu tidak usah takut" aku berusaha menenangkan Alisa yang mulai merinding, dia berjalan di belakang ku.
"Ini di mana rumahnya mbah Gamik itu, kenapa jauh banget" mulai lelah Reno yang sedari tadi terus berjalan melewati jalanan setapak namun rumah mbah Gamik masih tak kunjung terlihat juga.
"Kita jalan aja terus, nanti kita juga bakal nyampe di rumahnya mbah Gamik" jawab Angkasa yang berada di posisi paling belakang.
Kami terus berjalan dengan melihat sekeliling untuk waspada karena takut ada bahaya yang mengancam.
Alisa melihat sekeliling hutan ini untuk berjaga-jaga, ia melihat ke sebelah kiri tiba-tiba.
"Arrrrgghh"
Teriak Alisa yang sangat terkejut pada apa yang ia lihat.
"Ada apa sa, kenapa kamu teriak?"
"Apa yang kamu lihat?"
Panik kami ketika mendengar teriakan Alisa yang membuat kami kaget.
"Lihat, pohon itu serem banget" tunjuk Alisa pada pohon yang benar-benar menyeramkan, yang menyerupai makhluk yang begitu seram, dengan mata merah dan lidah yang menjulur ke depan.
Sungguh pohon itu benar-benar seram dan begitu menakutkan.
"Astaghfirullah hal adzim" kaget kami ketika melihat pohon yang seseram itu.
Alisa bersembunyi di belakang ku karena takut pada pohon itu.
"Kenapa ada pohon yang seseram ini di sini?" Ustadz Fahri tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan pohon seram itu di dalam hutan ini.
"Pohon apa ini, kenapa serem banget" penasaran Angkasa yang tidak mengenali pohon seram itu.
Angkasa mendekati pohon itu, ia begitu penasaran sekali pada pohon seram yang berhasil membuat kami terkejut.
"Berhenti kak" teriak Dita.
Angkasa pun berhenti dan menatap ke arah Dita dengan tidak percaya."Kenapa, kenapa kamu nyuruh aku berhenti?"
"Jangan dekati pohon itu, karena takutnya penunggunya marah, ayo kita lanjut jalan lagi, gak usah kepoin pohon itu" jawab Dita.
"Ucapan Dita ada benarnya juga, ayo kita lanjut jalan lagi" mereka mengangguk setuju lalu kembali berjalan meninggalkan pohon seram itu.
Di perjalanan pandangan ku melihat ke kanan dan kiri yang banyak sekali pohon-pohon aneh dan seram.
"Kenapa banyak sekali pohon-pohon yang seram-seram dan aneh di sini, pertanda apa ini sebenarnya" batin ku yang mulai gelisah.
Aku masih terus berjalan walaupun banyak sekali pohon-pohon yang aneh yang terus ku lihat namun aku tidak memberitahu yang lain karena mereka pasti akan kembali terkejut.
"Kenapa Dita, kenapa kamu berhenti?" Ustadz Fahri merasa aneh saat Dita yang berada di barisan pertama tiba-tiba berhenti.
"Itu" tunjuk Dita ke arah ular berwarna hijau yang berada di dahan pohon yang jauh.
"Astaghfirullah hal adzim" terkejut Ustadz Fahri ketika melihat apa yang Dita tunjuk.
"Arrrrgghh Reno takut" Alisa langsung bersembunyi di belakang Reno ketika melihat ular hijau itu.
"Kamu gak usah takut, ada aku di sini" Reno menenangkan Alisa yang ketakutan.
Ustadz Fahri mengangguk, ia melirik ke samping kirinya yang terdapat ranting kayu yang jatuh.
"Kalian mundur, biar saya yang akan bereskan ular itu" kami mengangguk lalu memundurkan tubuh kemudian Ustadz Fahri membunuh ular hijau itu agar tidak melukai kami.
Bugh
Bugh
Bugh
Ular itu mati ketika di pukul oleh kayu yang Ustadz Fahri temukan.
Ustadz Fahri membuang ular itu ke sebelah kiri bersama dengan kayu yang ia temukan itu.
"Aman, dia sudah tidak akan mengganggu kita lagi" aku benapas lega mendengar hal itu.
"Ayo kita lanjut jalan lagi" ajak Angkasa.
Kami setuju lalu kembali berjalan menuju rumah mbah Gamik yang berada di tengah-tengah hutan.
"Di mana sih rumahnya mbah Gamik itu, kenapa susah sekali kita nemuinnya, apa masih jauh lagi letak rumahnya dari sini?" Alisa mulai lelah karena terus berjalan sedari tadi.
"Menurut feeling ku, rumah mbah Gamik gak jauh dari sini, kayaknya gak lama lagi kita akan sampai di sana, ayo semangat, jangan nyerah dulu, perjalanan kita masih belum berakhir"
Alisa mengembuskan napas, ia merasakan lelah karena tak berhenti berjalan sedari tadi.
"Capek tau za, kita istirahat sebentar napa, aku udah capek banget, gak kuat aku yang mau jalan lagi" titah Alisa.
"Ya udah kita istirahat dulu, kita neduh di bawah pohon itu" tunjuk Angkasa pada pohon rindang yang tak terlalu jauh dari posisi kami saat ini.
Kami semua setuju lalu berlari mendekati pohon itu, kami duduk di bawah pohon itu untuk beristirahat karena sangat lelah.
Aku mengambil botol minum yang sudah ku bawa dari rumah karena takut haus di perjalanan.
Rasanya lega saat air itu melewati tenggorokan ku yang kering.
"Huft capek juga dari tadi jalan terus"
"Iya, ini sebenarnya di mana rumahnya mbah Gamik itu, kenapa jauh banget dari sini, apa mungkin rumahnya mbah Gamik itu memang berada di tengah-tengah hutan ini?" kaget Alisa yang takut hal itu benar adanya.
"Iyalah, rumahnya mbah Gamik memang ada di tengah-tengah hutan" jawab Angkasa.
"Kalau kayak gini magrib kita akan pulang ke rumah lagi, bisa-bisa di jalan nanti kita ketemu sama hantu, iihh gak mau, aku gak mau ketemu sama dia" begidik ngeri Alisa.
"Eh kok di hutan ini gak ada makhluk halus yang berkeliaran ya, kemana mereka semua?"
"Iya juga, dari tadi kita jalan tapi gak ketemu sama sekali dengan makhluk halus walau satupun" tersadar Reno pada keanahen itu.
"Mungkin aja mereka tau kalau kita akan ke sini sehingga mereka ngungsi dulu" jawab Angkasa.
"Tau dari mana, masa hilangnya Laras dan munculnya mbah Gamik sudah di rencanakan sehingga makhluk halus tau kita akan ke sini"
"Ya mungkin aja gitu" jawab Angkasa.
"Emang di desa sering ada anak hilang?" penasaran Ustadz Fahri.
"Sering tadz, tiap tahun pasti ada aja anak yang hilang, kadang 10 anak, kadang juga cuman 7 anak, tapi paling sedikit memang 7 anak yang hilang selama kurun waktu 1 tahun"
"Biasanya terjadi pada bulan apa?" aku berusaha mengingat-ingat karena aku tidak pernah menandai bulan atau tanggal hilangnya anak-anak kecil itu.