
"Ayo kita ke restoran, kita beres-beres di sana"
"Iya ayo" setuju mereka.
Kami semua melangkah mendekati garasi untuk mengeluarkan motor.
"Kakak, kakak jangan pergi, Rani gak mau sendirian di sini" Rani langsung memeluk Reno, ia tak mengizinkan kakaknya pergi sama sekali.
"Kakak cuman mau pergi ke restoran, di sini banyak orang kok, kamu main saja sama Dita di dalam, jangan keluar rumah" jawab Reno.
"Enggak mau, kakak pokoknya gak boleh pergi, kakak harus tetap di sini, Rani gak mau sendiri lagi" titah Rani.
Reno merasa iba pada adiknya yang terus mengemis-ngemis agar dia tidak pergi.
"Ya udah kamu di sini aja ren, temenin Rani, dia pasti masih trauma mangkanya dia gak mau jauh-jauh dari kamu" perintah Alisa.
"Baiklah aku akan tetap di sini, nanti kalau kalian ada kesulitan, telpon aku aja, aku akan datang ke sana" suruh Reno.
"Siap" jawab kami.
Motor melaju meninggalkan rumah, aku dan Angkasa berboncengan sedangkan Alisa sendirian.
Motor melaju memasuki jalanan desa yang sepi dan sunyi, tidak ada lagi gangguan saat melewati jalanan desa yang sepi itu karena biang keroknya perlahan-lahan mulai di tangkap.
Setelah beberapa menit di habiskan untuk melewatinya, akhirnya kami bertemu dengan jalanan raya yang besar dan padat.
Angkasa dan Alisa melajukan motor menuju restoran, tak berselang lama dari itu kami sampai di restoran.
Aku menatap ke arah restoran yang benar-benar kacau, banyak sekali benda-benda seperti kursi dan meja yang patah dan berserakan di mana-mana.
Hidung ku mencium bau bensin di sekitar sini.
"Kayak bau bensin, kalian dengar gak?"
"Dengar, tadi malam kan kata bunda pak Tejo memang lagi berusaha buat bakar restoran, untung aja usahanya bisa di hentikan" jawab Alisa.
"Ayo kita masuk ke dalam, kita beresin meja-meja dan kursi yang patah itu, biar gak berserakan di mana-mana" ajak Angkasa.
"Iya ayo"
Kami semua masuk ke dalam, pelan-pelan kami mengangkat kursi dan meja yang patah dan di taruh di gudang restoran.
Pelan-pelan benda-benda yang berserakan itu masuk ke dalam gudang.
"Huft capek juga" Alisa mengelap peluh yang membasahi dahinya.
"Kita istirahat bentar, ini cuman tinggal di sapu doang, baru selesai"
Mereka setuju, kami duduk di depan restoran.
Drrt
Drrt
Drrt
Tiba-tiba hp Angkasa bergetar, ia langsung mengeluarkan hpnya dari dalam saku.
"Mama, ngapain mama nelpon aku"
"Angkat aja sa, siapa tau penting"
Angkasa mengangkat panggilan itu.
"Halo ada apa ma?"
"Eyang ada di rumah, kamu sekarang ke sana temani eyang, mama sama papa masih belum pulang"
"Iya ma Angkasa bakal ke sana"
"Ya udah mama tutup dulu, jangan lupa pulang"
"Baik ma"
Setelah itu Angkasa memastikan sambungan.
"Ada apa sa, tante Lani bilang apa?"
"Mama bilang kalau eyang udah ada di rumah, dia nyuruh aku pulang" jawab Angkasa.
"Kamu mau pulang sekarang?"
"Iya, kasihan eyang di rumah sendirian, papa sama mama masih ada di luar negeri, mereka gak akan bisa pulang secepatnya, jadi terpaksa aku harus pulang, besok aku akan ke sini lagi kok, kamu tenang aja" jawab Angkasa.
"Pulang aja gak apa-apa sa, mau sampai selamanya juga gak apa-apa" ikhlas Alisa saat musuh bebuyutannya pulang.
"Iya aku pulang, puas!" balas Angkasa.
"Puas dong, di rumah nanti gak akan ada yang gangguin aku, aku bisa bikin onar" gembira Alisa.
"Terserah mu, aku gak ngurus" jawab Angkasa.
"Iya za, besok pagi-pagi sekali aku akan pulang ke desa, malam ini aku mau ke rumah dulu, kasihan eyang di sana sendirian" jawab Angkasa.
Wajah ku tampak layu saat mendengar kalau Angkasa akan pergi.
"Aku pulang dulu ya, kalian beresin aja sisanya, tinggal dikit" pamit Angkasa.
"Iya pulang aja, kami yang akan urus" jawab Alisa.
"Aku pulang dulu bye"
Setelah mengatakan itu Angkasa langsung melajukan motor menuju rumahnya.
Aku menatap kepergiannya yang pelan-pelan menghilang karena jarak yang cukup jauh.
"Akhirnya biang kerok yang suka gangguin aku menghilang, aku bisa bebas ngelakuin apa aja" gembira Alisa.
Alisa melirik ke arah ku yang tampak layu.
"Kenapa layu bos, ada apa nih"
"Bising, ayo kita lanjut beres-beres baru pulang ke desa lagi"
"Siap"
Aku dan Alisa membereskan sisanya, Alisa membuang semua beling yang berserakan di lantai sedangkan aku menyapu beling-beling kecil yang masih berada di lantai hingga bersih.
"Sudah bersih, ayo kita pulang aja, masalah kaca restoran yang pecah dan barang-barang lainnya itu urusan bunda, biar bunda nanti yang suruh orang buat benerin" ajak Alisa.
"Iya ayo"
"Tunggu-tunggu" Alisa menghentikan langkah ku yang hendak keluar dari restoran.
"Ada apa?"
"Kok wajah kamu manyun, ada apa nih?"
"Gak ada apa-apa, ayo pulang"
Alisa terkekeh kecil ia pun mengekor di belakang ku.
"Ayo naik kenapa masih diam"
"Aku yang nyetir za, udah lama aku gak nyetir"
"Ya udah, ayo cepat kita pulang, ini sudah mau sore"
"Siap"
Alisa melajukan motor, aku terus menatap kosong ke arah jalanan yang banyak sekali kendaraan-kendaraan yang melintas.
"Za kamu kenapa diam aja"
"Enggak apa-apa"
"Za masalah pak Jarwo itu gimana?"
"Masalah apa lagi, pak Jarwo kan udah meninggal, urusannya otomatis selesai"
"Bukan itu, tapi nyi Gayatri makhluk yang dia sembah selama ini, bagaimana dengan dia, dia kan masih belum kita usir"
"Tapi dia udah gak ada di rumah pak Jarwo, kemungkinan besar dia sudah kembali ke desa gaib itu, karena kan gak ada yang mau nyembah dia lagi"
"Semoga aja gitu, desa kita akan aman kalau dia pergi"
Aku tak menjawab dan terus menatap ke depan.
"Sa awassss"
Alisa panik saat melihat ada motor yang ugal-ugalan mendekat.
"Arrrrgghh"
Brukkk
Tubuh ku terlempar jauh, kepala ku menghantam trotoar dengan dahsyatnya, kegelapan langsung menyergap ku, aku sudah tidak mendengar suara-suara apapun saat kepala ku menghantam trotoar.
Alisa jatuh ke aspal dalam poisi tengkurap, ia masih sadar, ia menatap ke arah ku yang penuh dengan darah.
"A-aliza" lirih Alisa yang tubuhnya seakan remuk saat di hantam dengan hebatnya oleh motor itu.
Salah satu pengemudi yang sudah menabrak kami masuk ke dalam sungai, satunya lagi terguling-guling di jalanan.
Orang-orang yang berada di tempat kejadian langsung menolong kami, mereka langsung mendekati ku dan Alisa.
"Siapa mereka?"
"Dari mana asal mereka?"
Suara-suara orang yang berkerumun itu terdengar di telinga Alisa yang lagi engap-engapan.