The Indigo Twins

The Indigo Twins
Siluman ular



"Iya, tapi siapa yang sudah berani masuk ke dalam raga mbk Indri dan ngelakuin hal ini?" penasaran Angkasa.


"Kita harus cari tau sa, habis ini pasti mereka akan turun untuk ganti pakaian, kita harus bisa masuk ke dalam rumah pak Jarwo, kita harus tau apa bener itu mbk Indri yang asli atau bukan"


"Iya, kita harus bisa cari tau, kita tunggu sebentar lagi, dia pasti akan masuk ke dalam kamar lagi untuk ganti pakaian" kami menunggu dengan tenang walaupun hati dan pikirin tidak bisa di ajak berkompromi.


Apa yang kami tunggu-tunggu akhirnya terjadi.


Mempelai pria dan wanita itu masuk ke dalam rumah kembali untuk berganti pakaian, kami berdua berdiri dari duduk.


Bunda menatap tajam ke arah kami."Duduk, jangan kemana-mana"


"Kami mau keluar sebentar bunda, kami akan kembali secepatnya, ayo sa" aku menarik Angkasa untuk pergi dari sana secepatnya sebelum bunda kembali memarahi kami.


"Mau kemana?" kami lewat tepat di samping Ustadz yang berada di bangku barisan paling belakang.


"Ada urusan yang harus kita urus tadz, ini menyangkut mbk Indri" bisik Angkasa di telinga Ustadz Fahri.


"Mbk Indri, kenapa mereka bawa-bawa mbk Indri, ada apa sebenarnya" batin Ustadz Fahri.


Ustadz Fahri menatap kepergian kami, ia sangat penasaran kami akan melakukan apa, tapi dia tidak bisa pergi kemana-mana karena Dita tak akan mengizinkannya.


Aku melihat ke kanan dan kiri sebelum masuk ke dalam rumah pak Jarwo.


"Aman sa, kita bisa masuk ke dalam"


"Ayo za kita masuk ke dalam, kita harus pastikan mana mbk Indri yang asli" ajak Angkasa dengan suara yang sepelan mungkin.


Aku mengangguk lalu kami masuk ke dalam rumah pak Jarwo, orang-orang tidak ada yang memperhatikan kami karena mereka fokus melihat pertunjukan yang berlangsung di depan.


Kami melihat banyaknya penari yang sedang berias di dalam rumah itu.


Mata ku melihat ke kanan dan kiri mencari keberadaan mbk Indri.


"Di mana mbk Indri, kenapa gak ada di sini sa?"


"Kita harus cari za, tadi dia kayak ke sini, dia pasti ada di salah satu kamar yang ada di sini, aku yakin itu" jawab Angkasa.


"Bagaimana cara kita tau kamarnya, kita pasti akan di usir?"


"Dengan ini" Angkasa memperlihatkan dua topeng yang membuat senyuman terukir di wajah ku.


"Dari mana kamu dapat topeng ini?"


"Dari sana" tunjuk Angkasa pada topeng-topeng yang berjejer rapi dan di gantung di dinding.


"Bagus, ayo kita cari mbk Indri, dengan topeng ini mereka gak bakal kenalin kita" aku mengenakan topeng itu di wajah ku.


Angkasa setuju, kami mulai mencari mbk Indri di dalam ruangan yang banyak sekali penari-penari yang sedang di rias.


"Di mana mbk Indri, kenapa tidak ada di sini, dia tadi masuk ke kamar yang sebelah mana, kenapa susah sekali ku temukan" batin ku.


Aku masih terus mencari keberadaan mbk Indri di tengah banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di dekat ku.


"Sa di mana mbk Indri, kenapa gak ada"


"Dia pasti ada di sini za, kita cari saja dulu, aku tadi lihat dengan mata kepala ku sendiri kalau dia masuk ke dalam ruangan ini, gak mungkin dia gak ada di sini, pasti dia ada di salah satu kamar yang berada di sini" jawab Angkasa.


"Kita harus temuin dia lalu pergi dari sini, sebelum ada orang yang curiga pada kita"


"Iya, coba kita cari mbk Indri di sebelah sana" tunjuk Angkasa pada sebelah barat.


Aku melihat ke kanan dan kiri yang hanya menemukan satu kamar saja yang terletak paling pojok di sebelah barat.


"Sa apa mbk Indri di rias di sana?"


"Kayaknya iya, ayo kita periksa" kami melangkah mendekati kamar itu.


Belum sempat kami membuka kamar itu, tiba-tiba kami mendengar suara percakapan dua orang yang berada di dalam kamar itu.


"Ada orang di dalamnya, apa kita akan nekat buka pintunya buat ngecek?"


"Mau bagaimana lagi, kita harus cek, biar kita tau kebenarannya, apakah mbk Indri yang ada di sini itu asli atau bukan" aku mengangguk mengerti.


Dengan tangan yang gemetaran aku membuka pintu itu sedikit untuk tau siapa yang berada di dalam ruangan itu.


Bertapa terkejutnya aku ketika melihat pak Jarwo yang tengah bersujud di hadapan seorang wanita cantik yang separuh badannya manusia separuhnya lagi ular.


Aku hendak berteriak, dengan cepat Angkasa menutup mulut ku.


"Sstt"


Aku pun diam dengan tubuh yang gemetaran hebat ketika melihat siluman ular berada di ruangan itu.


"Ampun nyai Gayatri"


"Jarwo aku ingin acara perayaan ini berjalan dengan lancar, aku tidak mau ada kekacauan sama sekali di sini" titah nyi Gayatri.


"Baik nyai, saya akan memastikan kalau perayaan tahunan ini akan berjalan dengan lancar" jawab pak Jarwo dengan terus menunduk.


"Bagus, aku ingin semuanya berjalan dengan lancar"


"Saya akan berusaha perayaan kali ini akan berjalan dengan lancar seperti yang nyai inginkan" jawab pak Jarwo.


Nyi Gayatri berubah menjadi mbk Indri.


Aku dan Angkasa yang melihat dia berubah menjadi mbk Indri sangat terkejut.


"Pastikan jangan sampai ada yang tau kalau aku bukan Indri anak mu" perintah nyi Gayatri.


"Baik nyai, saya akan memastikannya, saya tidak akan biarkan siapapun tau kalau Indri tidak ada di sini lagi, dia sudah saya persembahkan pada mbah Brahma, warga-warga di sini tidak akan tau kalau nyai bukan Indri, mereka tidak kenal pada Indri, saya memang sengaja membesarkan Indri di luar kota agar tidak ada orang yang curiga" jawab pak Jarwo.


"Bagus, aku akan kembali ke pelaminan dulu, setelah acara perayaan ini selesai, kau urus suaminya Indri itu, jangan biarkan dia tau kalau aku bukan Indri istrinya" perintah nyai Gayatri.


Pak Jarwo mengangguk, nyi Gayatri hendak keluar dari ruangan itu, sebelum ia keluar Angkasa menarik ku ke samping ruangan itu untuk bersembunyi.


Nyi Gayatri melangkah dengan tenang tanpa curigai kalau pada keberadaan kami.


Aku bernapas lega saat nyi Gayatri sudah keluar dari rumah ini, ia berjalan menuju pelaminan bersama dengan Ilyas suami mbk Indri.


Angkasa kembali menutup mulut ku ketika aku hendak bicara.


"Mmpp"


"Ssttt"


Aku diam, telinga ku mendengar derap langkah kaki seseorang yang keluar dari ruangan itu.


Angkasa mengintip untuk tau siapa yang keluar dan ternyata itu pak Jarwo, Angkasa melepaskan tangannya yang menutupi mulut ku.