The Indigo Twins

The Indigo Twins
Mendatangi rumah pak Jarwo



"Allahu Akbar" terkejut ku ketika kembali dari desa gaib itu.


Aku melihat sekeliling, aku tidak lagi berada di desa gaib melainkan di kamar ku.


"Aliza kamu gak apa-apa nak?" khawatir bunda yang melihat ku pingsan seharian.


"Aku di mana bun?"


"Kamu di rumah, kamu kenapa bisa pingsan nak, apa yang udah terjadi sama kamu?" khawatir bunda yang menemukan ku pingsan di depan lemari besar.


"Mbk Indri, aku harus ke rumah mbk Indri" aku teringat pada mbk Indri, terakhir aku masuk ke dalam jurang bersamanya namun kini aku tidak melihatnya lagi.


"Ngapain kamu mau ke sana, ini masih sore, nanti malam kalau mau ke sana" bunda merasa aneh pada ku yang bangun-bangun malah ingin menemui mbk Indri.


"Enggak bun, aku harus ke sana, aku tadi udah berhasil bawa dia pergi dari desa gaib itu, mangkanya aku mau ke sana, karena aku tidak mau dia di bawa lagi ke alam gaib sama suaminya"


"Jadi kamu pingsan karena masuk ke desa gaib itu?" kaget Angkasa saat tau alasan aku pingsan.


Aku mengangguk."Iya, aku habis dari sana, aku udah berhasil bawa mbk Indri dari desa gaib itu, aku ingin nemuin dia di rumah pak Jarwo, dia pasti ada di sana"


"Tapi za pak Jarwo akan curiga kalau kita datang ke sana sore-sore gini" larang Reno.


"Iya za, kalau datang ke sana sore-sore gini pak Jarwo akan curiga pada kita, dia pasti tidak akan ngebiarin kita masuk ke dalam rumahnya" tambah Alisa.


"Terus ini gimana, mbk Indri kalau gak segera di keluarin dari rumah itu akan di bawa ke desa gaib lagi sama suaminya, aku tidak mau usaha ku bawa dia pergi dari sana sia-sia"


"Gini aja kita datang ke sana setelah sholat magrib, kita cari mbk Indri di sana, pasti dia ada di salah satu kamar yang berada di rumah pak Jarwo" usul Angkasa.


"Iya kita datang ke sana lebih awal aja, biar kita bisa nyari mbk Indri, bunda ayah dan Ustadz Fahri lebih baik ke rumah bu Weni saja dulu, sehabis tahlilan baru nyusul kita ke rumah pak Jarwo" tambah Alisa.


"Kalau kalian ketahuan nyari Indri gimana, kalian akan kena masalah?" khawatir bunda.


"Bunda doain aja usaha kami berhasil, kami akan hati-hati kok bun, sebisa mungkin kami akan berusaha jaga-jaga, tolong bunda izinin kami kali ini saja, ini nyangkut nyawa orang bun, tolong izinin kami ya"


"Ya sudah bunda kali ini izinin kalian, tapi kalian jangan sampai ketahuan karena jika sampai kalian ketahuan, semuanya akan kacau" peringatan bunda.


"Baik bun, kami akan berusaha untuk hati-hati saat nyari mbk Indri di sana, kami sangat yakin mbk Indri ada di sekitar sana"


"Hemm sekarang kalian siap-siap, udah gusdir itu, kumpul di masjid secepatnya, lalu berangkat ke rumah pak Jarwo, jangan lupa hati-hati" peringatan bunda.


"Baik bun, kami akan hati-hati, bunda tenang aja" jawab Alisa.


"Siap-siap sana gih, bunda tunggu di bawah" suruh bunda.


Kami mengangguk, mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap-siap.


Gusdur pun terdengar di desa ini, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh selama seharian tidak sadarkan diri karena masuk ke dalam desa gaib.


Sehabis membersihkan tubuh aku keluar dari dalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.


Setelah selesai aku pun turun ke bawah untuk menemui yang lain.


"Ayo kita berangkat, habis ini kita harus berangkat ke rumah pak Jarwo" ajak Angkasa.


"Iya, ayo kita berangkat"


Di depan rumah terdapat Tiger, White, mbk Hilda dan dua Kun yang berjaga.


Perjalanan dari rumah ke masjid hanya memakan waktu 5 menit saja.


Adzan magrib berkumandang dengan kerasnya di desa ini, satu persatu warga masuk ke dalam masjid.


Aku merasakan keanehan saat warga-warga yang sholat di masjid semakin hari semakin berkurang, mereka sibuk menonton pertunjukkan di rumah pak Jarwo, untuk sholat di masjid 5 menit saja mereka enggan melakukannya.


Mereka lebih sibuk mengurus perayaan yang bersamaan dengan pernikahannya mbk Indri.


Tahlilan di rumah bu Weni hanya ada sekitar 15-10 orang yang hadir, warga kebanyakan hadir di perayaan tahunan itu.


Setelah adzan selesai di kumandangkan, kami sholat magrib berjamaah di masjid yang di imami Ustadz Fahri.


Setelah selesai sholat dan berdzikir warga berangkat ke rumah bu Weni sedangkan aku, Angkasa, Alisa dan Reno berangkat menuju rumah pak Jarwo.


"Ayo kita harus cepat-cepat sampai di sana, sebelum mbk Indri di bawa sama suaminya ke desa gaib"


"Iya ayo"


Kami mempercepat langkah untuk sampai di rumah pak Jarwo yang berjarak 7 rumah dari rumah ku.


Butuh waktu sekitar 10 menitan untuk bisa sampai di sana.


Aku menghentikan langkah ketika sampai di depan rumah pak Jarwo yang sudah ramai, kebanyakan orang-orang datang ke rumah pak Jarwo setelah adzan magrib berkumandang.


"Ayo cepat kita masuk ke dalam, lalu cari mbk Indri, ingat jangan sampai kita ketahuan sama orang-orang apalagi pak Jarwo, semuanya akan kacau kalau mereka sampai tau"


"Iya, kami akan berusaha untuk lebih hati-hati" jawab Angkasa.


"Ayo kita masuk aja" ajak Alisa.


Kami melangkah masuk ke dalam rumah pak Jarwo yang ramai.


Wajah kami tampak biasa, tidak tegang ataupun panik agar tidak ada orang yang curiga pada kami.


Aku melihat mbk Indri yang palsu duduk di pelaminan bersama suaminya.


"Mbk Indri palsu ada di pelaminan, pak Jarwo lagi berbincang-bincang dengan pak Sabeni, ini waktunya kita melancarkan aksi" aku mengatakan hal itu dengan pelan karena di sekeliling ku banyak sekali warga-warga yang hadir di perayaan tahunan itu.


"Iya, ayo kita masuk ke dalam rumah pak Jarwo lalu kita cari mbk Indri yang asli dan kita bawa pergi dari sini" jawab Reno.


"Kita masuk ke sana satu-satu aja, karena kalau bareng-bareng akan ada yang curiga pada kita"


"Aku akan masuk duluan, baru kalian" jawab Alisa.


Alisa melangkahkan kakinya.


"Eh tunggu sa" cegah Angkasa.


"Kenapa?" merasa aneh Alisa.


"Pakai ini, nanti saat di dalam pakai ini" Angkasa memperlihatkan masker dan juga topeng yang sudah ia siapkan.