
Sampai di rumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Setelah itu aku menuruni anak tangga untuk makan siang bersama keluarga, di kesempatan kali ini akan aku gunakan untuk meminta izin pada ayah dan bunda.
Aku duduk di dekat Angkasa dan makan dengan tenang.
"Bun kami mau minta izin buat bantuin pak poci ya" kata ku.
"Orang mana dia?" tanya ayah.
"Orang jauh sih ayah, tapi jasadnya itu katanya ada di desa sebelah, aku dan yang lain mau ke sana buat bantuin menemukan jasadnya" jawab ku.
"Hati-hati jangan sampai ada apa-apa sama kalian, bunda gak mau kalian terkena masalah karena membatu mereka yang sudah tiada" kata bunda.
"Siap bunda" jawab kami.
"Meninggal kenapa dia?" tanya ayah.
"Gak tau juga sih ayah, pak pocinya masih belum bilang pada kami" jawab Alisa.
"Bunda gak ke restoran?" tanya ku.
"Setelah ini bunda sama ayah akan ke sana, kalian setelah selesai membantu pocong itu langsung ke restoran, di restoran saat ini lagi kekurangan karyawan soalnya ada banyak yang izin karena sakit" jawab bunda.
"Siap Bun kita akan langsung ke restoran setelah ini" kata Alisa.
Kami kembali melanjutkan makan siang.
Aku menyenggol sedikit lengan Alisa.
"Why?" tanya Alisa.
"Katanya mau minta bantuan sama Ustadz Fahri, kamu bilang gih sana sama orangnya mumpung dia masih belum berangkat ke restoran" bisik ku di telinga Alisa.
"Malu, kamu aja sana sekali-kali gitu, masa kamu gak punya rasa keberanian sedikitpun sih, ayolah kali ini saja lawan rasa takut mu itu" kata Alisa pelan.
"Aku gak takut, aku cuman malu, kamu sana, kamu kan anak yang pemberani" jawab ku pelan.
"Baiklah aku yang akan bilang" kata Alisa pasrah pelan.
Aku tersenyum manis mendengar hal itu.
Ustadz Fahri menatap gelagat kami yang nampak aneh di matanya.
"Ustadz" panggil Alisa.
Aku memalingkan wajah tak tahan dengan apa yang Alisa akan katakan.
"Iya kenapa?" tanya Ustadz Fahri.
"Begini, ceritanya ini kita mau ngajak Ustadz buat ikut membantu kita menolong pocong itu, sekalian biar Ustadz tau tentang desa ini, Ustadz mau gak" jawab Alisa.
Reno menjadi enek mendengar apa yang Alisa katakan barusan.
"Boleh" kata Ustadz Fahri.
"Yes" senang Alisa.
"Ya udah kalau seperti itu kalian bantu saja dulu pocong itu baru setelah itu langsung ke restoran" kata ayah.
"Baik ayah" jawab kami.
Selesai makan siang kami semua menatap mobil bunda yang sudah berisikan beliau dan ayah.
"Hati-hati ya jangan sampai kalian terluka" kata bunda.
"Baik Bun" jawab kami.
"Bunda gak usah khawatir, kami baik-baik saja kok" kata Alisa.
"Bunda sama ayah berangkat dulu assalamualaikum" kata ayah.
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
Mobil ayah lalu melaju meninggalkan rumah, kami menatapnya sampai hilang dari pandangan kami.
"Ayo kita langsung ke desa sebelah saja" ajak ku.
"Iya ayo, tapi kemana pak pocong itu, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Alisa.
Aku melihat pak poci yang meloncat-loncat mendekati kami.
"Tuh orangnya" tunjuk ku padanya.
"Kalian tanya saja nanti sama warga di sekitar tentang rumah bercat merah, aku akan tunggu kalian di sana" jawab pak poci.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita langsung ke sana" ajak ku.
Kami berangkat menuju ke desa sebelah dengan menggunakan motor, di atas kami sudah ada mbk Hilda yang mengawal.
Sedangkan Tiger duduk di jok belakang motor bunda yang di kendarai oleh Ustadz Fahri.
Motor terus melaju tiba-tiba motor ini berheti ketika kami melihat gapura desa sebelah.
"Lalu ini kemana lagi?" tanya Angkasa.
"Kita tanya aja dulu dari pada nyasar nantinya, tuh ada kedai kita tanya sama ibu pemilik kedai itu yuk" jawab ku yang melihat kedai yang ada di seberang jalan.
"Nah siapa yang akan bertanya ini?" tanya Alisa.
"Kau lah siapa lagi" jawab kami semua.
"Iih aku juga yang di suruh-suruh kalau ada hal seperti ini, ya udah kalian tunggu di sini biar aku yang maju" kata Alisa.
Alisa turun dari motor dan mendekati pemilik kedai itu.
"Untung ada tuh anak, kalau enggak kita gak akan bisa sampai di rumah yang pak poci maksud" kata ku dengan memandangi punggung Alisa yang semakin menjauh.
"Iya setidaknya saudara kembar mu itu bisa kita andalkan dalam masalah seperti ini" jawab Angkasa.
"Permisi Bu numpang tanya apa ibu tau rumah bercat merah di sini?" tanya Alisa.
Ibu pemilik kedai itu melihat ke arah Alisa.
"Rumah bercat merah, rumahnya pak Tresno maksud adek?" tanya ibu itu memastikan.
"Nah iya" jawab Alisa yang masih belum tau apakah benar pemilik rumah yang di maksud oleh pak poci bernama pak Tresno.
"Dari sini kamu tinggal lurus saja, terus kalau nanti ada pohon kelapa di pinggir jalan kamu belok ke kanan, nah di sana rumahnya pak Tresno berada" jelas ibu pemilik kedai.
"Makasih Bu informasinya" kata Alisa.
"Sama-sama" jawab ibu pemilik kedai.
Alisa melangkah mendekati kami lagi.
"Apa kata ibu itu?" tanya ku.
"Ternyata pemilik rumah bercat merah itu bernama pak Tresno, kalian semua ikutin aku sama Reno aja, aku akan tunjukkan di mana rumah pak Tresno berada" jawab Alisa.
"Oke" jawab kami.
"Ayo ren jalan" tintah Alisa.
Reno melanju motor kembali, kami semua mengikuti motor Reno dari belakang.
"Ini kemana lagi sa?" tanya Reno.
"Lurus terus" jawab Alisa.
Reno menuruti keinginan Alisa.
"Itu pohon kelapanya yang di maksud sama ibu pemilik kedai, gile banyak banget makhluk halus yang menjadi penghuni pohon kelapa ini, semoga saja dia tidak mengikuti aku, aku tidak mau kena masalah" batin Alisa melihat pohon kepala di pinggir jalan sebelah kanan.
"Ke kanan ren" teriak Alisa
Reno berbelok ke kanan.
Alisa melihat kebelakang tempat makhluk halus penghuni pohon kelapa itu berada.
"Huft syukurlah dia tidak mengikuti ku" batin Alisa merasa lega.
Motor kami berhenti tepat di bawah pohon rindang.
Aku melihat rumah bercat merah tak jauh dari posisi kami berhenti.
"Itu rumahnya?" tanya ku.
"Iya kayaknya, lihat tuh pak poci tadi siang ada di halaman rumah itu, eh dia melompat ke samping jalan di rumah pak Tresno, mau apa dia ke sana, kenapa tidak menghampiri kita dulu" jawab Angkasa yang melihat pak poci melompat-lompat ke jalanan samping rumah pak Tresno yang sempit dan tidak bisa di lewati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
"Kita harus ikutin dia, mungkin aja itu sebuah kode dari pak poci" kata Alisa.
"Ayo kita ikutin aja, mungkin itu sebuah petunjuk buat kita" jawab Ustadz Fahri.