
Mbk Hilda lalu masuk ke dalam raga pak Abu.
Pak Abu yang saat ini raganya di kendalikan oleh mbk Hilda berjalan mendekati tante Celina dengan tatapan murkanya.
"Aauw" pekik tante Celina yang mendapati lehernya di cekik oleh seseorang dari belakang.
Semua orang terkejut melihat tindakan pak Abu yang mencekik leher tante Celina dengan sangat keras.
"Lepaskan Aliza" teriak pak Abu.
Pak Heru yang melihat rekan kerjanya terkejut menyaksikan tindakan pak Abu.
"Mas tolong aku" tintah tante Celina di sela cekikikan keras pak Abu.
"Lepaskan Aliza" teriak pak Abu lagi, suara pak Abu berubah menjadi suara perempuan.
Angkasa merasa gak asing dengar suara itu.
"MBK HILDA yah itu suara nbj Hilda, makasih mbk telah datang di waktu yang tepat untuk membantu kami yang terjebak di sini" batin Angkasa merasa sedikit tenang.
"Lepaskan istri ku" teriak om Tio tak kalah murka saat melihat istrinya kesakitan karena ulah pak Abu.
"Lepaskan dulu Aliza, baru aku akan melepaskan istri tercinta mu ini" kata pak Abu.
"Kau dulu, baru aku akan melepaskan bocah tengil ini" teriak om Tio.
Wajah mbk Hilda menjadi sangat murka mengdengar kata terakhir yang di ucapkan oleh om Tio.
"Hei Teriot, dia itu bukan bocah tengil, Jika dia bocah tengil berarti kamu apa hah Iblis neraka iya" tak terima pak Abu.
"Hei Royeni, iya aku mengaku jika aku memang iblis neraka, kenapa kau hah" balas om Tio.
"Hei Teriot, kembalilah kamu ke mereka jehanam sana" teriak pak Abu.
"Hmm ini kesempatan terbaik untuk ku agar bisa terbebas dari iblis ini, apalagi saat ini nih iblis sedang lengah, aku harus gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin" batin ku.
Aku menggigit tangan om Tio dengan gigi taring ku dengan sangat keras.
"Aaauw" pekik om Tio yang tanpa sengaja membebaskan ku dari cengkraman tangannya.
Dengan cepat aku langsung berlari ke arah Angkasa dan om Devan.
"Sial, hei Royeni liat lah mangsa ku melarikan diri karena mu" amuk om Tio kala melihat ku berhasil melarikan diri.
"Hahaha belum juga aku bertindak kau sudah kalah, dasar kau memang lemah Teriot-teriot" tawa pak Abu.
Mata om Tio menatap tajam ke arah pak Abu yang menertawakannya
Angkasa memberi kode pada pak Heru dan pak Jerry.
Pak Heru mengangguk paham, beliau mengeluarkan senjatanya, pak Heru masuk ke dalam dan-
"Jangan bergerak" pak Heru mengarahkan pistol ke arah om Tio.
Om Tio terkejut melihat ada polisi di ruangan bawah tanah ini.
"Pak Tio letakkan senjata anda" perintah pak Heru dengan tegas.
Dengan kegugupan serta ketegangan yang melanda, om Tio menuruti perintah pak Heru, dia meletakkan senjata dan mengangkat tangannya.
"Pak Jerry tangkap dia" suruh pak Heru.
"Siap komandan" pak Jerry.
Arwan mbk Hilda keluar dari dalam raga pak Abu, pak Abu menatap linglung mereka semua.
"Pak Abu bawa dia" perintah pak Heru.
Pak Abu tetap konsisten walaupun sukmanya baru kedalam raganya.
"Ayo om kita keluar dari sini" ajak ku pada om Devan.
Om Devan mengangguk.
Kami semua melangkah meninggalkan kamar rahasia.
Langkah om Devan terhenti, saat melihat seorang anak laki-laki yang berdiri dengan butiran-butiran air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
"Papaa" teriak Dava yang berlari memeluk om Devan.
Om Devan terpaku saat seorang anak laki-laki itu memeluknya dan menyebutnya dengan kata 'papa'.
Om Devan membalas pelukan Dava.
Dava terisak di dalam pelukan om Devan, tak ada ucapan yang keluar dari kedua ayah dan anak itu, mereka masih berpelukan dengan butiran-butiran sebening kristal yang menghiasi momen yang paling om Devan inginkan sejak dulu.
Dava menggeleng cepat.
"Enggak pa, ini bukan salah papa, ini itu salah mama sama om Tio" jawab Dava.
'Aaaw kenapa nih leher tiba-tiba sakit gini perasaan tadi ga sesakit ini aku harus bisa tahan rasa sakit ini' batin Aliza, wajah Aliza kini pucat pasi.
Tangan ku memegang pintu kamar ruangan rahasia.
"Kok makin lama sakitnya makin bertambah, aku harus bisa tahan, aku gak boleh merusak suasana bahagia seperti ini" batin ku.
Aku memegangi kepala yang sangat sakit, aku tidak lagi bisa menahan berat tubuh nya, Aliza terjatuh dan kegelapan menyergapnya.
"Zaa" teriak Angkasa.
Perhatian semua orang tertuju pada ku.
Dengan cepat Angkasa langsung mendekati tubuh ku.
"Za bangun za" kata Angkasa menepuk-nepuk pelan pipi ku.
Guratan kecemasan terpancar di wajah Angkasa, dalam kondisi seperti ini om Tio berusaha membebaskan diri dari pak Jerry.
Pelan-pelan om Tio mencoba untuk terlepas dari tangan pak Jerry yang memeganginya dengan sangat erat.
Namun naas pak Jerry menyadari apa yang di lakukanom Tio.
"Jangan sekali-kali anda mencoba untuk kabur" peringatan Pak Jerry, dia lalu memasang borgol agar om Tio tak akan bisa kabur.
"Angkasa kamu bawa Aliza ke mobil, om akan bawa penjahat-penjahat ini" suruh pak Heru.
Angkasa mengangguk lalu mengendong tubuh ku ala bridal style.
"Kok tangan Aliza dingin banget ya, duh gimana ini, ya Allah semoga tidak ada apa-apa sama Aliza" batin Angkasa yang tidak tenang.
Kami semua menaiki satu persatu tangga ruangan rahasia hingga tangga itu habis.
"Ini gimana cara untuk membukanya?" tanya pak Heru yang ada di posisi paling depan.
"Haha kalian tidak akan bisa membukanya, bebaskan aku dulu, baru kalian bisa keluar dari sini, itu syaratnya jika kalian ingin keluar dari ruangan rahasia yang sudah aku buat" syarat om Tio.
"Tekan tombol merah di samping itu om, jangan turuti penjahat ini, kita harus memasukkan dia ke dalam jeruji besi tidak boleh lolos sedikitpun dia sudah melakukan kejahatan yang besar dan harus di hukum" kata Angkasa.
Pak Heru menuruti perintah Angkasa, dia menekan tombol merah dan pintu ruangan rahasia terbuka dengan lebar, kami semua melangkah keluar dari ruangan bawah tanah.
Reno dan Alisa berdiri saat pintu ruangan aneh ini terbuka.
"Aliza kenapa sa?" tanya Alisa kala melihat ku yang tidak sadarkan diri.
"Aliza terluka gara-gara om Tio, kita harus bawa dia ke rumah sakit secepatnya" jawab Angkasa.
Alisa tak lagi bertanya dan ikut keluar dari rumah ini bersama kami semua.
Sampai di mobil.
"Pak Gerry antarkan mereka ke rumah sakit, kami akan menunggu mobil jemputan untuk membawa pak Tio dan Bu Celina ke penjara" suruh pak Heru.
"Baik komandan" jawab pak Gerry.
Alisa, Reno, Angkasa, Dava om Devan sekaligus dengan ku masuk ke dalam mobil.
Pak Gerry langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat.
'Ya Allah semoga tidak ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi pada Aliza selamatkan dia ya Allah' batin Angkasa.
Alisa menghubungi bunda.
"Bundaa" kata Alisa saat panggilan terhubung.
^^^"Kenapa sa?" tanya bunda cemas.^^^
"Bunda Aliza pingsan, kami mau membawanya ke rumah sakit, bunda sama ayah langsung ke sini aja, nanti Alisa share lokasinya" jawab Alisa.
^^^"PINGSAN kok bisa Aliza pingsan?" tanya bunda shock.^^^
"Lisa bakalan jelasin di RS nanti, bunda secepatnya ke sini aja, Alisa bakal share lokasinya" jawab Alisa langsung mematikan sambungan telepon.
"Ada apa Bun?" tanya ayah yang melihat raut wajah bunda yang cemas.
"Kata Alisa, Aliza pingsan dan di bawa ke rumah sakit, ayo ayah kita susul mereka, bunda mau lihat separah apa kondisi Aliza" ajak bunda.
Tanpa menjawab ayah langsung berdiri lalu mengendari mobil menuju rumah sakit.