The Indigo Twins

The Indigo Twins
Diskors



Alisa dan Roy menatap punggung kami yang terus berjalan menuju kelas kembali.


"Ayo Roy kita balik ke kelas sebelum telat" ajak Alisa.


"Ayo" jawab Roy.


Keduanya berjalan menuju kelas.


"Eh tunggu"


Teriak seseorang yang membuat langkah mereka terhenti.


Mereka berbalik badan menghadap ke belakang untuk tau siapa yang sudah memanggilnya.


"Kenapa?" Roy menatap ke arah orang yang sudah menghentikan langkahnya.


"Kalian di panggil ke kantor" jawab Rifki.


"Ada apa kok kita di panggil ke kantor?" gelisah Alisa.


"Mana aku tau, aku cuman di suruh aja, sana kalian ke kantor gih" jawab Rifki.


"Iya, kita akan ke sana" sahut Roy.


"Sana cepatan gih ke sana, kalian udah di tungguin" suruh Rifki.


"Iya" jawab mereka.


"Ayo sa kita ke sana" ajak Roy.


Alisa mengangguk lalu berjalan menuju kantor.


"Ada apa sih kok kita di panggil ke kantor, apa kita akan di hukum ya" pikir Alisa yang merasa was-was.


"Kita kan gak ngelakuin kesalahan, gak mungkin kita di hukum" jawab Roy.


"Moga aja gitu" harapan Alisa.


"Ayo cepetan kita ke sana, sebelum ada guru yang masuk ke dalam kelas, bisa-bisa kita di hukum karena telat masuk ke kelas" ajak Roy.


Alisa mengangguk lalu keduanya berlari untuk bisa segera sampai di dalam kantor.


Setelah beberapa saat berlari mereka menghentikan langkah tepat di depan kantor.


"Ayo masuk" ajak Roy.


"Bismillah semoga saja gak ada apa-apa" harapan Alisa.


Alisa dan Roy masuk ke dalam kantor dan mendekati bu Riska selaku kepala sekolah.


"Assalamualaikum" salam mereka.


"Wa'alaikum salam, cepat duduk" jawab bu Riska ketus.


Mereka duduk tepat di hadapan mereka.


"Ada apa bu manggil kami?" Alisa langsung bertanya hal itu.


"Kenapa kamu dorong Hani dari atas tangga"


Alisa mengerutkan alis mendengar itu semua.


"Sejak kapan saya dorong Hani dari atas tangga" terkejut Alisa pada apa yang bu Riska katakan.


"Tadi pas istirahat, kamu jangan pura-pura gak tau, kamu yang udah dorong Hani sampai dia terluka kan" jawab bu Riska.


"Maaf bu saya tidak dorong Hani, saya tadi bersama saudara kembar saya, Reno, Angkasa dan juga Roy" bantah Alisa.


"Tapi kata anak-anak kamu yang udah dorong Hani sampai jatuh, kamu jangan pura-pura lagi, cepat ngaku" titah bu Riska.


"Saya gak dorong Hani bu, saya berani bersumpah" jawab Alisa.


"Iya bu Alisa gak ada sangkut pautnya sama sekali tentang jatuhnya Hani, tadi itu dia bersama saya dan beberapa anak kelas IPA, saya berani jamin jika Alisa bukanlah orang yang sudah nyelakain Hani" Roy ikut membela Alisa yang di tuduh bukan-bukan.


"Tapi saksinya itu banyak, kamu jangan bohong dan kamu jangan belain dia, dia itu gak pantas buat di bela" bu Riska terus memaksa Alisa mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat.


"Walaupun saksinya banyak kalau saya tidak melakukannya saya tidak mau mengakuinya, karena kejadian ini tidak ada sangkut pautnya sama saya" tegas Alisa yang sudah mulai geram karena di tuduh yang bukan-bukan.


"Maaf ya bu, saya ini tidak melakukan apa yang anda sebutkan barusan, saya berani sumpah kalau saya memang tidak melakukannya, anda itu kepala sekolah di sekolahan ini, seharusnya anda itu cari tau dulu, baru bertindak, jika anda hanya mendengar sepatah dua patah kata dari orang lain itu tidak akurat, karena bisa saja mereka itu berbohong" Alisa berkata dengan penuh penekanan.


"Berani kamu ya ngelawan saya, mau jadi apa kamu nantinya" hardik bu Riska.


"Saya berani ngelawan ibu, kenapa saya harus takut pada ibu, ibu itu manusia dan saya juga manusia, kita di ciptakan oleh tuhan yang sama, kenapa saya harus takut pada sesama manusia" jawab Alisa.


"Tapi saya ini kepala sekolah, kenapa kau berani sekali pada saya?" bu Riska memberikan tatapan tajamnya pada Alisa.


"Anda hanyalah seorang kepala sekolah, bukan tuhan pencipta alam semesta, kenapa saya harus takut pada anda" jawab Alisa dengan beraninya.


"Kamu makin di diamkan makin ngelunjak, dasar orang gila" hina bu Riska.


Alisa tersenyum kecut mendengar hinaan yang begitu menyakitkan itu.


"Seperti ini kepala sekolah di sekolahan SMA kebangsaan yang termasuk sekolahan favorit" teriak Alisa dengan lantangnya.


Guru-guru yang mendengar hal itu langsung melihat ke arah mereka.


"Haha kepala sekolah yang kalian angkat ini sama hanyalah dengan SAMPAH!" tegas Alisa penuh penekanan.


"Seumur hidup baru kali ini saya bertemu dengan kepala sekolah seburuk ini, dia ini sebenarnya tidak pantas menjadi seorang kepala sekolah"


Plakkk


Tamparan keras itu mendarat tepat di pipi Alisa.


"Kamu sudah berani ngelawan saya, udah salah masih aja gak mau ngaku, sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah masuk ke sekolah ini lagi selama tiga hari, kamu diskors dari sekolah ini"


Alisa memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan keras itu.


"Baik saya akan pergi dari sini" jawab Alisa yang masih tak ada takut-takutnya pada bu Riska.


Alisa keluar dari dalam kantor dengan sangat kesal, ia begitu geram sekali pada bu Riska.


"Alisa"


Panggil Roy mengejar Alisa yang keluar dari dalam kamar ini.


Bu Riska melihat kepergian Alisa."Dasar anak tidak berguna"


"Alisa, Alisa, Alisa, kamu mau kemana?" Roy menarik lengan Alisa untuk menghentikannya.


"Lepasin Roy, aku mau pergi dari sini" jawab Alisa berusaha menahan tangisnya.


"Alisa kamu jangan pergi, kamu gak salah, aku akan jelasin semuanya pada bu Riska, dia pasti ngerti kok"


"Gak usah Roy, kamu gak usah ngemis-ngemis sama nenek lampir itu biar dia gak besar kepala" jawab Alisa yang masih sangat geram pada bu Riska.


"Tapi Alisa...


"Cukup Roy, aku gak mau, biarin aja nenek lampir itu hukum aku, meski aku tidak bersalah"


"Tapi sa-


"Aku gak apa-apa, kamu jangan pikirin aku" jawab Alisa yang kini hatinya penuh dengan rasa kesal dan marah ia ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk meluapkan kekesalannya.


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Aku mau pulang, aku gak mau di sini"


Roy menghapus air mata Alisa yang jatuh secara tiba-tiba.


"Ya udah ayo aku anterin kamu pulang" ajak Roy.


Alisa mengangguk setuju.


"Roy tas aku ada di dalam kelas, aku mau ambil sebentar" jawab Alisa.


"Iya ayo, aku mau ambil tas aku juga"


"Kamu mau bolos?"


"Iya, aku mau bolos hari ini, udah ayo kita ke kelas" jawab Roy.


Keduanya berjalan menuju kelas yang tak seberapa jauh itu.