
"Ren mbk pergi dulu, kamu jaga Rani baik-baik, hanya kamu yang bisa melindunginya, saat ini mbk sudah tidak bisa menjaga kalian, karena mbk sudah bukan makhluk sebangsa kalian" pesan mbk Reni.
"Reno janji mbk, Reno akan jaga Rani, mbk pergi lah dengan tenang, setidaknya Reno bisa melihat mbk setelah sekian lama Reno tidak bertemu dengan mbk, andai Reno tau mbk di jadikan tumbal pesugihan, Reno pasti akan bantuin mbk melarikan diri" jawab Reno.
"Ini sudah terjadi, kamu jangan merasa bersalah atas apa yang menimpa mbk" kata mbk Reni.
Tiba-tiba aku merasakan tubuh ku yang semakin berat.
"Kenapa tubuh ku semakin berat saja, ya Allah hamba mohon kuatkan lah hamba agar kakak adik di depan hamba yang sudah berada akan masih bisa bertemu untuk yang terakhir kalinya" batin ku memohon.
Semakin lama tubuh ku semakin berat, aku masih berusaha untuk tetap diam dan terus mendengarkan tiap kata yang mereka katakan.
Keringat-keringat terus saja keluar membasahi wajah ku.
"Kok wajah Alisa makin pucat, kenapa dia sebenarnya, kok aku jadi khawatir begini, semoga saja tidak ada apa-apa sama Aliza, hamba mohon pada mu ya Allah" batin Angkasa tak tenang.
"Iya mbk, mbk pergilah dengan tenang masalah aku dan Rani, kami sudah aman kok, tidak ada lagi dukun yang akan membuat kami dalam bahaya, yang penting itu saat ini mbk sudah bisa bebas dari Ki Suryo, yang selama ini sudah mengurung mbk" jawab Reno.
"Iya dek, mbk bersyukur sekali bisa keluar dari dalam botol, sungguh mbk selalu berpikir kalau mbk gak akan bisa keluar dari dalamnya, tapi alhamdulilah Allah masih baik sama mbk, dia mengeluarkan mbk lewat perantara kalian semua, kamu jaga diri baik-baik ya dek" kata mbk Reni.
Reno mengangguk sambil tersenyum.
"Semuanya terimakasih sudah membantu mbk dan yang lain" kata mbk Reni.
"Sama-sama mbk" jawab mereka kecuali aku.
Mbk Reni dan yang lainnya melambaikan tangan lalu menghilang untuk selamanya.
Aku melepaskan tangan ku yang memegang tangan keduanya kemudian tubuhnya ambruk.
Dengan cepat Angkasa langsung menangkap tubuh ku.
"Liza" pekik Angkasa.
"Za, Liza bangun za" kata Alisa.
Mata ku terpejam kuat, aku masih dapat mendengar suara mereka namun aku tak bisa berbuat apa-apa karena tubuh ku yang kehilangan energi.
"Ini pasti energi dalam tubuh Alisa berkurang karena telah mempertemukan dua orang berbeda, mangkanya dia bisa pingsan seperti ini, kita harus bawa Aliza ke mobil aja, ren kamu bawa Ki Suryo keluar dari dalam hutan ini" kata Angkasa.
"Baik, ayo sa bantuin aku" jawab Reno.
"Iih kamu doang yang di suruh, bukan aku, aku gak mau lah pegang iblis ini, bisa-bisa tangan aku ternodai lagi" tolak Alisa.
"Ayo gak usah manja, kita harus segera pergi dari sini sebelum matahari tenggelam, nanti bisa-bisa kita di hadang lagi oleh mereka yang tak kasat mata" jawab Reno.
"Ya udah deh aku mau, sini, menyusahkan sekali manusia tak berguna ini, waras banyak memakan korban, gila pun masih menyusahkan orang" kesal Alisa.
"Huft anak ini" batin Reno tak habis pikir.
Angkasa menggendong tubuh ku keluar dari hutan ini
Di sepanjang jalanan menuju desa, hutan yang gelap terus saja mereka lewati, meski terdengar suara-suara menyeramkan dari makhluk halus dan juga hewan-hewan, mereka tak memperdulikannya dan terus saja berjalan.
"Assalamualaikum pak kades, saya Reno ingin menyerahkan sepenuhnya Ki Suryo pada bapak selaku kepala desa di desa ini, beliau menjadi tidak waras karena tongkat saktinya telah patah, memang tujuan kami ke sini hanya untuk membebaskan korban-korban Ki Suryo" kata Reno.
"Ya Allah, terimakasih nak, saya sebagai kepala desa sangat berterima kasih sekali, Ki Suryo ini memang sangat meresahkan warga dengan ilmu hitamnya, kami memang ingin sekali membuat Ki Suryo tobat, tapi usaha kami tidak berhasil, malahan banyak korban yang berjatuhan karena Ki Suryo, sekali lagi terimakasih banyak telah membuat Ki Suryo tidak berkutik lagi, in syaa Allah desa ini akan kembali nyaman setelah tidak adanya beliau yang selalu berulah" jawab kepala desa.
"Maaf pak kami tidak bisa berlama-lama, kami undur diri dulu Assalamualaikum" pamit Reno.
"Wa'alaikum salam" jawab pak kades.
Angkasa meletakkan tubuh ku di kursi belakang, kali ini Reno menyetir mobil.
Saat perjalanan pulang tidak ada gangguan apapun yang mereka hadapi
"Ya Allah semoga Aliza baik-baik saja, tolong sembuhkan dia ya Allah" kata Angkasa pelan, dia terus memegang tangan ku yang dingin.
Angkasa begitu khawatir sekali dengan kondisi ku.
"Gak nyangka ternyata Ki Suryo itu juga meresahkan warga di desa ini, aku pikir tadi kamu bakal di marahin habis-habisan karena kita telah membuat Ki Suryo itu menjadi gila" kata Alisa.
"Iya, sumpah tadi aku khawatir banget kalau sampai warga di desa ini akan marah-marah pada ku, ehh gak taunya mereka malah bersyukur karena Ki Suryo menjadi gila" jawab Reno.
"Memang pantas dia seperti itu, tadi dalam lubuk hati ku yang paling dalam, sebenarnya aku ingin sekali membunuh Ki Suryo dengan kedua tangan ku, biar dia tau rasanya sekaratul maut yang sesungguhnya" geram Alisa.
"Jangan, nanti bisa-bisa Ki Suryo akan gentayangan dan menganggu kamu bagaimana, kamu juga yang akan ketakutan" jawab Reno.
"Iya juga, untung aku tidak melakukan itu semua, kalau tidak aku pasti akan di ganggu sama Ki Suryo, iih ngeri" bergidik ngeri Alisa.
Akhirnya mobil yang membawa kami keluar meninggalkan desa Pongkolan.
Sampai di tengah perjalanan aku menggeliat.
"Za" kata Angkasa kala melihat mata ku yang pelan-pelan terbuka.
"Ini di mana?" tanya ku menatap sekeliling.
"Kita masih ada di jalan, kamu istirahat aja dulu" jawab Angkasa.
Aku mengangguk dan menyadarkan tubuh ku ke sandaran kursi.
"Aku laper tau, kita mampir aja ke rumah makan dulu, baru lanjut jalan lagi" kata ku.
"Iya kita cari rumah makan dulu, kita juga laper, ren berhenti di rumah makan ya" kata Alisa.
"Iya tenang, aku akan cari dulu di mana rumah makan terdekat nanti" jawab Reno.
Mobil melewati jalanan raya, Reno menepikan mobil di depan rumah makan.
"Sini aja ya, hanya rumah makan ini yang buka di jam segini, yang lain masih nutup, mungkin sekitar jam 6 sore baru mereka buka" kata Reno.
"Iya gpp kok ren" jawab Alisa lalu keluar dari dalam mobil.