
"Hiks hiks hiks"
Tiba-tiba aku menghentikan langkah kala mendengar suara tangisan seseorang di dalam hutan ini.
Suara tangisan itu terdengar lirih, namun karena suasana hutan yang sepi membuat ku dapat mendengarnya dengan jelas.
"Kingkong" kingkong berbalik menatap ke arah ku.
"Kenapa?"
"Suara siapa itu kingkong?"
"Hiks hiks hiks"
"Bukan siapa-siapa, ayo ikut aku keluar dari sini"
"Tidak kingkong, itu suara orang, dia ada di sini, aku harus cari dia"
"Jangan Aliza, ayo ikut aku pergi dari sini saja"
"Tidak mau, aku ingin nyari dia dulu, kau jangan halangi aku, aku yakin sekali suara tangisan itu tidak jauh dari sini, aku harus bisa temuin dia"
Aku mencari-cari keberadaan pemilik suara tangisan itu.
"Di sini tidak ada apapun Aliza, suara itu bukan milik manusia tapi makhluk halus yang sebangsa dengan ku, ayo lebih baik kau ikut aku pergi dari sini sebelum tuan ku datang"
"Aku tidak mau kingkong, aku ingin mencarinya sebentar, aku harus pastikan dulu kebenarannya, baru aku bisa percayalah pada ucapan mu"
Kingkong menghela napas."Kenapa bocah ini susah sekali untuk aku kelabui, apa dia memang tidak percaya pada makhluk halus selama ini" batin kingkong.
Aku mencari-cari keberadaan pemilik suara tangisan itu yang tiba-tiba hilang begitu saja.
"Halo apa di sini ada orang, tolong katakan, aku akan bantu kamu, kamu tidak usah takut pada ku" teriak ku berharap ada tanggapan dari pemilik suara tangisan yang barusan ku dengar.
"Kemana dia, kenapa tidak ada lagi, di mana teman mu nyembunyiin dia?" aku memberikan tatapan tajam pada kingkong.
"Itu bukan manusia Aliza, itu anak jin, ayo keluar dari sini, kau jangan membuat kekacauan di sini" aku mendengus kesal lalu mengikuti kingkong dari belakang.
"Kingkong siapa tuan mu?" kingkong diam, ia menghiraukan sama sekali pertanyaan ku.
"Woy aku bertanya, kenapa kau diam!"
"Dia warga di desa ini, nanti kau juga akan tau siapa dia, kau sudah keluar dari sini, itu teman-teman mu" tunjuk kingkong ke arah mereka semua yang lagi ada di luar hutan seperti sedang mencari sesuatu.
Aku berjalan mendekati mereka semua.
"Aliza" mereka terkejut ketika melihat ku.
"Kenapa kalian kaget?"
"Kamu dari mana aja za, kita udah cemas nyariin kamu" khawatir Angkasa.
"Aku kan masuk ke dalam hutan, kenapa kalian terlihat kayak orang yang lagi kehilangan jejak ku"
"Kami tadi pas masuk ke dalam hutan gak nemuin kamu, ya udah kami keluar karena takut tersasar juga" jawab Alisa.
"Aku kira kalian yang tersesat karena tadi saat aku masuk ke dalam hutan, aku gak lihat kalian sama sekali"
"Kamu nemuin apa aja di sana?" penasaran Angkasa.
"Aku gak nemuin apapun, aku cuman ketemu sama kingkong, dia biang mbk Indri harus nikah sama orang lain kalau ingin terlepas dari suami gaibnya"
"Masalahnya mbk Indri mau nikah sama siapa, adakah orang yang mau nikah sama dia, kalau tau dia udah pernah nikah sama makhluk halus?" bingung Reno.
"Mungkin aja mbk Indri masih punya calon, ayo kita kasih tau dia, moga aja setelah dia nikah sama orang lain, dia gak bakal di ganggu sama makhluk halus lagi"
"Kita gak jadi nih yang mau masuk ke rumah pak Jarwo?" aku menghentikan langkah ketika mendengar ucapan Angkasa.
"Iya juga, kita harus cari tau dulu apa maksud pak Tejo datang ke rumah pak Jarwo, baru pulang ke rumah"
Kami semua masuk ke dalam semak-semak tak peduli kalau di dalam semak-semak ada durinya yang penting kami tidak ketahuan sama mereka berdua.
Mereka berdua berjalan mendekati hutan yang berada tak jauh dari tempat persembunyian kami.
tap
tap
tap
Ketegangan terpancar di wajah kami saat langkah kaki mereka semakin mendekat, aku hanya takut di antara kami ada yang sampai ketahuan sama mereka.
Mata Alisa terbelalak saat melihat ulat bulu yang berada tepat di depannya.
Reno yang melihat Alisa akan teriak langsung menutup mulutnya.
"Mppp"
"Ssttt"
Alisa diam, ia sungguh geli melihat ulat bulu yang berada tepat di depannya, Reno terus berusaha menutup mulut Alisa agar dia tidak membuat kami ketahuan.
Pak Jarwo dan pak Tejo berjalan melewati semak-semak yang di dalamnya ada kami semua.
Rasa tegang menyelimuti tubuh kami, jantung Alisa seakan berhenti berdetak saat ulat bulu itu berjalan di tangannya.
Alisa menatap Reno, Reno tau kalau Alisa sangat takut sekali pada ulat bulu itu namun saat ini ia tidak bisa berbuat banyak.
Aku melihat pak Jarwo dan pak Tejo yang masuk ke dalam hutan gelap itu, pelan-pelan punggung mereka sudah tidak lagi terlihat karena jarak yang cukup jauh.
Kami semua bernapas lega saat mereka tidak menyadari keberadaan kami.
Alisa langsung bangkit dari duduk, ia bagaikan udang yang tidak bisa diam kala ulat itu masih berada di tangannya.
"Iiih geli, Reno buang" teriak Alisa yang sangat geli ketika melihat ulat, hewan yang ia benci.
"Kamu diam dulu, bagaimana aku bisa buang ulat ini kalau kamu gak bisa diam" Alisa diam, tak lagi memberontak, ia menatap ke arah lain, tak mau menatap ulat bulu itu.
Reno menyingkirkan ulat dari tangan Alisa dengan menggunakan ranting kayu.
"Udah, dia sekarang sudah pergi" Alisa bernapas lega ketika mendengar hal itu.
"Iih kenapa aku harus bertemu dengan ulat" Alisa mengusap kedua pundaknya dengan ekspresi geli.
"Mereka masuk ke dalam, apa kita ikutin mereka saja?"
"Itu harus, kita harus tau mereka mau apa masuk ke sana, aku ngerasa ada hal penting sehingga mereka nekat masuk ke sana, kita harus cari tau" setuju Angkasa.
"Ayo kita masuk ke sana" ajak Reno.
Kami melangkahkan kaki mendekati hutan gelap itu.
"Jangan masuk ke sini, pergi kalian" kingkong yang tadi aku temui berdiri menghadap kami.
"Kenapa kami tidak boleh masuk?"
"Mereka bisa buat kalian tidak akan bisa keluar lagi, sekarang lebih baik kalian pulang saja, jangan nekat masuk ke dalam, jika kalian masih ingin kembali" jawab kingkong.
Kami semua saling menatap."Bagaimana ini, kita pulang aja apa lanjut masuk ke dalam?"
"Pulang aja za, lihat ini, tangan aku gatal, itu semua pasti gara-gara ulat tadi" Alisa menunjukan tangannya yang merah-merah dan banyak bintik-bintik kecil yang pelan-pelan membesar.
"Lebih baik kita pulang aja, nanti malam kita lanjut nyelidiki pak Tejo lagi" kami semua setuju pada apa yang Ustadz Fahri katakan.
Kami kemudian berjalan menuju rumah kembali.