The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hiks hiks hiks



"Ya udah ayo kita pulang aja, Risa kita pamit pulang dulu ya"


"Hiks hiks hiks" tiba-tiba Risa menangis saat aku bilang mau pulang.


"Risa kamu kenapa?" khawatir Angkasa pada Risa yang tiba-tiba nangis tanpa sebab.


"A-andin, k-kembalikan A-andin" tintah Risa di sela-sela tangisannya.


Aku menghembuskan napas berat karena permintaan itu sulit untuk ku kabulkan.


"Kami akan cari Andin sampai ketemu, kami mohon doanya semoga Andin segera ketemu" jawab Roy.


"Iya Risa, kami pasti akan cari Andin, Andin pasti akan ketemu, kamu tidak usah khawatir"


Risa mengangguk meski air mata terus mengalir sebab ia sudah sangat merindukan temannya yang hilang seperti di telan bumi beberapa hari ini.


"Kami pulang dulu ya, kami pasti akan cari Andin sampai ketemu" pamit Reno.


Risa mengangguk, ia menyeka air matanya.


"Ayo kita pulang sebelum keburu malam" ajak Angkasa.


Kami mengangguk lalu berjalan meninggalkan Risa.


"A-andin di s-sekap" mendengar ucapan Risa kami langsung menghentikan langkah dan berbalik menatapnya dengan tidak percaya.


"DI SEKAP"


Risa mengangguk.


"Di sekap di mana?" penasaran Reno.


"A-aku t-tidak t-tau, t-tapi s-sebelum A-andin h-hlang d-dia p-pernah b-bilang k-kalau d-dia di s-sekap s-sama anak-anak" jawab Risa.


"Di sekap sama anak-anak" Angkasa berpikir keras setelah mendengar jawaban Risa.


"Jadi musuhnya Andin ini memang berniat membunuhnya"


"Itu pasti za, aku merasa selama ini Andin di perlakukan tidak baik oleh pembunuh-pembunuhnya itu" dugaan Angkasa.


"Kita harus cari tau siapa yang udah bunuh Andin, kita harus laporin mereka ke polisi, biar mereka di hukum seberat-beratnya" geram Roy pada orang yang menyebabkan Andin meninggal.


"J-jadi A-andin s-sudah m-meninggal?" tak percaya Risa yang mendengar ucapan kami.


Kami mengangguk dengan menunduk, kami tak tau harus menjelaskan bagaimana, karena kami juga masih belum tau siapa pembunuh Andin.


"Andin" tangis Risa kembali pecah saat tau kebenarannya.


"Risa kamu yang sabar, aku tau ini berat buat kamu, tapi ini sudah terjadi dan tidak bisa di ulang kembali" aku menenangkan Risa yang shock berat mendengar kalau Andin sudah meninggal dunia.


"Iya Risa, kamu yang tabah menghadapi cobaan ini, tolong doakan kami agar kami bisa segera nemuin titik terang dari kematian Andin ini" Angkasa juga mencoba menenangkan Risa yang terus menangis setelah tau kebenarannya.


Risa terus menangis, dia masih tak menyangka jika Andin sudah meninggal.


"Kita harus temuin jasad Andin hari ini juga, aku mau dia ketemu walaupun kita harus lebur"


"Iya, aku gak apa-apa kok pulang malam yang penting Andin ketemu" jawab Roy.


"Ayo kita berangkat ke sekolahan lagi, kita cari tau keberadaan Andin di sana, aku yakin Andin di sekap di sekolah, Risa kamu tunggu kami di sini ya, kami pasti akan bawa Andin mu kembali"


Risa mengangguk dengan tangisan yang terus kami dengar.


"C-cepat b-bawa A-andin k-kembali" tintah Risa.


Aku mengangguk cepat.


"Ayo kita ke sekolahan lagi, kita harus cari Andin di setiap tempat"


Mereka mengangguk lalu kami berlari menuju motor.


Angkasa dan Reno serta Roy mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi, mereka ingin segera sampai di sekolahan dalam waktu singkat karen tinggal beberapa jam lagi matahari terbenam.


Risa menatap punggung kami yang pergi meninggalkan desanya.


2R dan 1A terus menyetir motor dengan kecepatan tinggi, mereka tidak memikirkan apapun lagi, yang mereka pikirkan bagaimana caranya sampai di sekolah secepatnya.


"Ayo ren cepat, kita harus sampai di sekolahan, kita harus temuin jasad Andin" tintah Alisa.


Reno terus mengemudikan motor itu dengan kencang.


"Za telpon Ustadz Fahri, beritahu kalau kita tidak bisa kerja malam ini karena ngurus kasus Andin" suruh Angkasa setengah berteriak karena takut suaranya tidak ku dengar.


Aku mengangguk lalu menghubungi Ustadz Fahri.


"Assalamualaikum ada apa Aliza?"


"Ustadz maaf kami malam ini gak bisa ke restoran, karena kami mau nyelidiki kasus gadis pucat itu sampai malam"


"Ya sudah tidak apa-apa, masalah restoran biar saya yang handle"


"Makasih Ustadz, tadz saya boleh minta tolong hubungi bunda, suruh dia pulang, karena Aliza gak bisa urus restoran tanpanya, ustadz bisa kan"


"Bisa, nanti saya akan hubungi bunda mu"


"Makasih tadz, Aliza tutup dulu assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Setelah mendengar jawaban itu aku langsung mematikan sambungan.


Angkasa terus melajukan motor dengan kecepatan tinggi.


Jalanan yang tadinya sangat panjang itu terasa begitu singkat, di depan ku sudah terlihat rumah kosong yang angker itu.


Angkasa melewati rumah itu dan alhamdulilahnya tidak ada makhluk halus yang mengganggu kami.


"Ayo sa lebih cepat lagi, kita harus segera sampai di sekolahan sebelum magrib"


Angkasa mengangguk lalu menambah kecepatan.


Motor yang Angkasa kendarai memimpin jalan, Reno dan Roy terus berusaha mengejar motor kami yang melaju dengan kencang.


"Ayo ren lebih cepat lagi, liat Angkasa makin jauh" teriak Alisa yang heboh sendiri, ia tidak mau kehilangan jejak kami seperti kehilangan jejak Roy.


"Diam apa, aku ini lagi nyetir, bukan lagi main game, kenapa kamu terus teriak-teriak, ganggu tau" kesal Reno yang terganggu dengan suara Alisa.


"Habisnya kamu lelet banget" omel Alisa yang berada posisi paling belakang di antara yang lain.


"Ren berhenti sebentar, kita tukar posisi" tintah Alisa.


"Gak" jawab Reno.


"Berhenti gak" tintah Alisa.


Reno tidak menjawab dan malah terus melajukan motornya.


"Reno berhenti, biarkan aku yang nyetir, aku pengen nyalip mereka semua" rengek Alisa dengan berteriak.


"Bisa diam gak sih, pengang kuping aku" omel Reno.


"Gak bisa, aku gak bisa diam, ayo cepat berhenti sebentar, kita gantian" tintah Alisa yang masih ingin menyetir motor itu.


Reno pura-pura tidak dengar dan terus mengejar kami yang berada di depannya.


"Reni berhenti, kenapa kamu ngeyel banget sih" geram Alisa memukul punggung Reno dengan membabi-buta.


Pukulan Alisa tak ada apa-apanya bagi Reno.


"Reno" teriak Alisa yang geram sekali pada Reno yang malah diam saja.


"Ih kenapa Reno ngeselin banget, aku kan cuman minta berhenti sebentar buat gantian, kenapa dia malah diam aja, awas aja nanti, akan aku hajar dia" batin Alisa yang masih geram pada Reno.


Reno melirik Alisa dari kaca spion.


Terlihat wajah Alisa yang masam karena ia tidak mengizinkan Alisa untuk menyetir motor ini.