The Indigo Twins

The Indigo Twins
Penampakan dukun beranak



"Dia orang tua macam apa coba, dia gak ngerti sama sekali pada anaknya sendiri, pantaskah dia di sebut orang tua" tak habis pikir Roy.


"Kamu yang sabar saja, kamu jangan terlalu mikirin ucapan tante Dara" Angkasa terus berusaha menenangkan Roy.


"Iya Roy, kamu jangan masukin ucapan tante Dara ke dalam hati, itu tidak baik" Roy mengangguk walaupun saat ini keadaannya semakin kacau.


Roy menyeka air mata yang mengalir, ia mengipasi matanya agar air mata tidak kembali jatuh.


"Ayo kita pulang, hari sudah semakin malam" ajak Reno.


"Roy kamu bisa kan nyetir sendiri?" Alisa merasa cemas jika Roy pulang ke rumahnya dengan keadaan yang kacau seperti ini.


"Aku bisa, kalian jangan khawatir" jawab Roy.


"Kamu hati-hati ya, jangan ngebut-ngebutan" Roy mengangguk.


"Ayo kita pulang aja, ini udah malam" ajak Alisa.


Kami mengangguk, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan yang begitu lirih, namun masih dapat ku dengar dan suara itu tak jauh dari sini.


"Kalian dengar gak?"


Mereka langsung menghentikan aktivitas dan menatap ku dengan tatapan aneh.


"Dengar apaan?"


"Kayak ada orang nangis di sekitar sini, masa kalian gak dengar suaranya?"


Mereka semua mencoba mendengarkan suara tangisan itu.


Hiks hiks hiks hiks


Suara tangisan itu terdengar di telinga mereka semua.


"Iya, memang benar kayak ada orang nangis, tapi di mana?" Reno melihat ke kanan dan kirinya namun tidak ada siapapun yang ia temukan.


"Apa mungkin itu suara tangisan hantu" dugaan Alisa yang langsung bergidik ngeri.


"Gak mungkin sa, masa hantu, aku ngerasa itu suara tangisan orang deh" jawab Angkasa.


"Kalau beneran orang kenapa gak kelihatan, itu pasti hantu" Alisa masih tetap yakin dengan pendiriannya.


Aku berusaha mendengarkan baik-baik suara tangisan itu.


Hiks hiks hiks


Suara tangisan itu dekat sekali, aku melihat sekeliling ku, tatapan ku jatuh pada seseorang yang menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri di samping rumah warga.


"Sa"


"Apa?" penasaran Alisa.


"Lihat" Alisa melihat apa yang aku tunjukkan.


"Sana kalian dekati dia, dia butuh kalian" suruh Angkasa.


Kami mengangguk lalu mendekatinya.


Hiks hiks hiks


"Risa" panggil kami.


Risa mendongak menatap ke arah kami dengan air mata yang terus mengalir.


"Risa kamu yang sabar ya, kami tau kamu sangat kehilangan Andin" Alisa berusaha menenangkan Risa yang pasti sangat terpukul.


"A-andin k-kenapa d-dia p-pergi" tak menyangka Risa yang di tinggal pergi oleh Andin.


Aku menghapus air mata yang mengalir itu."Kamu yang sabar, doakan saja semoga Andin tenang di alam sana, kita memang ingin Andin kembali kumpul lagi, namun itu mustahil untuk terjadi, Andin itu sekarang udah bahagia Risa, dia sudah tidak tersiksa lagi, jadi kamu jangan sedih ya, karena nanti Andin akan ikutan sedih di alam sana saat melihat kamu sedih"


"Iya Risa kamu jangan sedih, nanti Andin sedih juga, kamu gak mau kan Andin sedih?" Risa menggeleng.


Risa mengangguk lalu menyeka air mata dan bergegas pulang ke rumahnya.


Aku dan Alisa menatap punggung Risa yang pelan-pelan tak terlihat karena jarak yang cukup jauh.


"Ayo kita pulang, ini sudah malam" ajak pak Heru.


Kami mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkan desa ini.


Angkasa, Reno dan Roy terus melajukan motor meninggalkan desa ini dengan di ikuti pak Heru dari belakang.


Setelah cukup lama berkendara akhirnya kami keluar juga dari dalam jalanan yang amat menyeramkan itu.


Kami dan Roy berpisah setelah sampai di jalan raya karena arah tujuan kami yang berbeda.


"Anak-anak kalian langsung pulang ya, om ada urusan, maaf om gak bisa anter kalian pulang"


"Iya om gak apa-apa, om urus aja urusan om, jangan pikirkan kami, kami akan hati-hati kok" jawab Alisa.


"Kalau ada apa-apa nanti langsung hubungi om, om akan langsung bantu kalian" perintah pak Heru.


"Baik om"


Mobil polisi kemudian melaju ke arah yang berbeda dengan arah kami berempat.


Malam semakin larut, aku melirik jam yang menunjukkan pukul 00, namun kami masih belum sampah di rumah jjga.


Jalanan yang kami lalu saat ini amat sepi tak ada orang yang melintas, hanya dua motor kami yang melaju bebas di jalanan raya yang biasanya selalu macet.


"Sa kok sepi ya, biasanya kan walaupun kita pulang malam, jalanan gak sesepi ini?"


"Mungkin aja orang-orang udah pada tidur za, mangkanya gak ada yang keluyuran, kamu jangan khawatir, gak akan ada apa-apa kok" Angkasa berusaha menenangkan ku yang mulai gelisah.


Aku mengangguk dengan terus melihat jalanan yang benar-benar sepi.


"Kemana semua orang ya, kenapa gak ada yang keluar rumah, apa mereka pada tidur semua, tapi biasanya kan di jam segini masih ada satu atau dua orang yang keluar, tapi kenapa malam ini gak ada satupun" batin ku yang merasa aneh.


Aku terus melihat sekeliling hingga motor ini masuk ke dalam jalanan desa yang sepi dan sunyi.


Hawa mencekam langsung menyerang ku ketika motor ini masuk ke dalam jalanan desa yang gelap gulita, memang ada beberapa lampu yang terpasang di pinggir jalan namun cahayanya remang-remang.


Angin semilir menerpa wajah ku namun entah kenapa bulu kuduk ku malah berdiri semua.


"Ada apa ini, kenapa suasananya mencekam kayak gini" batin ku.


Angkasa yang mendengar suara hati ku hanya diam saja dan terus melajukan motor menuju rumah.


Aku terus melihat ke kanan dan kiri, tiba-tiba mata ku melihat dukun beranak yang tengah berdiri di dekat pohon besar dengan senyuman sinisnya.


Dari senyumannya aku sudah dapat merasakan kalau dia memang tengah menunggu kedatangan kami.


Hihihihihihihi


Tawa itu terdengar di telinga kami berempat.


Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain tak mau melihat wajahnya yang seseram itu.


"Seram banget, pantas aja Alisa nangis-nangis saat melihatnya" batin ku.


Alisa yang melihat dukun beranak itu langsung membenamkan wajahnya ke punggung Reno.


"Kenapa dia ada lagi, gak tau apa kalau orang lagi takut" batin Alisa yang gemetaran saat matanya tak sengaja melihat dukun beranak itu lagi.


Motor yang aku tumpangi lewat tepat di depan dukun beranak itu.


"Jangan ikutin kami, jangan ikutin kami" batin ku yang sangat takut sekali.


Dukun beranak itu masih diam di tempat, ia hanya melihat ke arah kami berempat dengan tatapan seram dan terus mengeluarkan tawa seramnya.


Angkasa dan Reno melajukan motor dengan kecepatan tinggi saat sudah melewati dukun beranak itu.