The Indigo Twins

The Indigo Twins
Gelembung-gelembung misterius



Angkasa dan Ustadz Fahri menangkap ikan dengan jaring.


Keranjang yang mula-mula kosong kini sudah full dengan ikan.


Karena di rasa sudah cukup mereka lalu naik kembali ke atas.


"Nih za cukup gak?" tanya Angkasa.


"Cukup kok, kamu kasih ke Alisa sana" jawab ku yang masih membuat bumbu.


Angkasa memberikan keranjang itu pada Alisa dan Reno.


"Nih bersihin, awas gak bersih" kata Angkasa.


"Iya, tenang aja" jawab Reno.


Angkasa mendekati ku kembali.


"Capek" kata Angkasa.


Angkasa merebahkan tubuhnya, kepala Angkasa tidur di paha ku, ku masih fokus membuat bumbu, aku memberikan dia yang tidur di paha kum


"Jangan tidur" kata ku yang melihat mata Angkasa mulai terpejam.


"Gak akan kok, masih lama lagi gak?" tanya Angkasa.


"Nih udah selesai, tinggal nunggu Alisa dan Reno selesai membersihkan sisik-sisik ikan itu, baru setelah itu kita bakar" jawab ku.


"Masih lama lagi, nanti bangunin kalau sudah selesai" tintah Angkasa.


"Iya" jawab ku.


Alisa dan Reno tampak memeriahkan sisik-sisik ikan mas yang sangat banyak.


"Kenapa sih ikan itu harus memiliki sisik, gak tau apa kalau keberadaan sisiknya itu membuat orang kesusahan buat ngebersihinnya" kata Alisa.


Reno tidak menjawab pertanyaan tak masuk akal yang Alisa ajukan.


"Kenapa gak kayak ayak aja yang gak punya sisik, kan enak gak susah-susah aku ngebersihinnya" kata Alisa.


"Ayam memang gak punya sisik, tapi dia punya bulu yang jauh lebih ribet buat bersihinnya" jawab Reno.


"Terus apa dong yang gak ribet, aku kan pengen makanan yang prosesnya itu simpel, gak memakan waktu yang cukup lama buat memasaknya?" tanya Alisa.


"Tahu, dia makanan yang simpel tanpa di cuci, tanpa sisik ataupun bulunya, tapi sayangnya lama matengnya" jawab Reno.


"Kok tahu sih, aku kan gak terlalu suka sama tahu" kata Alisa.


"Terus apa yang kamu suka?" tanya Reno.


"Aku suka mie ayam, nanti anterin aku beli mie ayam" jawab Alisa yang penggemar berat mie ayam.


"Giliran mie ayam aja nomor satu" kata Reno.


"Iya dong, kan mie ayam itu enak, aku suka, aku suka, aku suka" jawab Alisa.


"Woy udah belum?" tanya ku.


"Hampir tunggu saja sebentar" jawab Alisa.


"Cepetan, jangan lama-lama, aku udah laper" kata ku.


"Iya" jawab mereka.


Mereka mempercepat proses membersikan sisik-sisik ikan mas dan ikan mujair itu.


"Udah, ayo kita bakar" kata Alisa.


"Sa bangun" kata ku dengan menepuk pipi Angkasa.


Angkasa membuka mata.


"Udah selesai, ayo kita bakar" kata ku.


Angkasa langsung bangun dan mendekati Ustadz Fahri.


Setelah ikan sudah selesai di cuci, kami semua membakar satu persatu ikan mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar.


Bau harum tercium di seluruh tempat ini.


"Iya aku juga gak sabar" jawab Rani.


"Ayo kita ke sana" ajak Dita.


Mereka berdua mengangguk lalu mendekati kami semua yang sedang sibuk membakar ikan.


"Wahai anak-anak cilik, kalian duduk di sana ya, jangan di sini nanti kena asap oke" suruh Alisa.


"Oke kak" jawab mereka kompak.


Mereka bertiga mendekati karpet dan duduk di sana menunggu ikan mas sudah selesai di bakar.


Selesai ikan di bakar kami semua makan dengan lahap sambil bercanda.


"Weh nanti setelah ini kita mandi di air terjun yok" ajak Reno.


"Rani ikut kak" kata Rani.


"Iya nanti, Rani mau nambah gak?" tanya ku.


"Iya" jawab Rani.


Aku menambahkan nasi dan juga ikan bakar ke piring Rani.


"Ganteng banget tau" kata mbk Gea.


Para tukang ghibah yang ada di atas pohon terus saja memerhatikan pemuda-pemuda yang sedang makan di atas karpet, di bawah terik sinar matahari yang di halangi pohon di atasnya.


"Ustadznya tampan, aaah kapan dia jadi milik aku" kata mbk Santi yang terlalu larut dalam mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan tersebut.


"Menjadi milik mu haha, mbk-mbk sadar jangan kebanyakan nonton drama, kita ini beda alam, gak akan bisa bersatu mbk, kalau pun bisa, salah satu di antara kita harus rela tak bangun-bangun lagi selamanya" batin Angkasa yang mendengar itu semua.


Kami yang ada di bawah mbak-mbak sosialita memang mendengar apa yang ketiganya katakan sedari tadi.


"Bibirnya Angkasa itu iiih gemes, sungguh gereget aku melihat wajah Angkasa yang bagaikan pangeran kerajaan" kata mbk Santi.


"Enak bener mereka makan aku gak di ajak" kata mbk Gea.


Aku langsung mendongak ke atas.


"Wahai para mbak-mbak sosialita berdaster putih hingga ke merah, jika anda semua ingin makan, noh ada bunga tuh, sana habisin gpp, tapi jangan sama pohon-pohonnya ya" kata ku menunjuk ke arah bunga-bunga yang memang ku tanam di pinggir danau untuk memperindah danau ini.


"Emang kita kebo apa makan rumput" jawab mbk Gea.


k


Kedua pemuda yang mendengar itu terkekeh geli.


"Ya kalau gak makan bunga, kalian mau makan apa, tanah, enggak kan" kata Alisa.


Mereka mengembuskan napas berat, mereka bertiga yang ada di atas pohon terbang ke bunga mawar yang ada di samping kanan tepat di pinggir danau.


"Wihh banyak bener bunga mawar ini" takjub mbk Gea melihat banyak sekali bunga mawar yang bermekaran.


Bunga mawar yang aku tanam di pinggir danau memang banyak jenisnya, mulai dari yang berwarna putih hingga ke merah.


"Berbagai macam jenis lagi, gak nyangka kita bisa makan semua jenis bunga mawar hari ini" kata mbk Santi.


"Ini pasti Aliza yang tanam, soalnya aku pernah liat kalau di balkon Aliza ada banyak bunga-bunga, tapi sayangnya tak ada bunga melati ataupun kantil" kata mbk Hilda.


"Nanti kita makan juga yuk" kata mbk Gea.


Aku yang mendengar itu semua langsung melotot tajam.


"Ish di beri hati malah minta jantung, awas aja kalau sampai kalian makan bunga-bunga aku yang ada di balkon, akan ku kubur kalian hidup-hidup" ancam ku.


"Waduh gam mau lah aku di kubu,r gak berani lah aku kalau kayak gitu" kata mbk Gea pelan yang sudah bergidik ngeri dengan ancam ku.


Ketiganya langsung terdiam dan mulai memakan bunga mawar dengan lahap tanpa banyak bicara Kahi.


Selesai makan seperti kata Reno


kami semua mandi di air terjun.


"Akhirnya seorang Alisa Qieansyah dapat merasakan air danau lagi setelah sekian lama Aliza melarang keras diri ku pergi ke danau" kata Alisa yang begitu bahagia sekali.


"Segarnya" kata Alisa saat tubuhnya menyentuh air danau.