
Angkasa berjalan menuju rumah pak Jarwo yang masih jauh sekali, suasana desa sepi dan sunyi, tidak ada satu orangpun yang terlihat di mata Angkasa.
"Sepi banget desa ini, kenapa orang-orang pada gak ada yang kelihatan, apa mereka lagi ada di rumah pak Jarwo semua ya?"
"Mungkin aja, tapi masa iya gak ada yang duduk di rumah aja, kenapa aku merasa perayaan itu seperti menghipnotis orang-orang untuk datang ke sana"
"Ada apa sebenarnya di balik perayaan itu, kenapa firasat ku mengatakan kalau perayaan itu membawa dampak buruk?"
"Aku juga yakin sekali kalau orang-orang yang menciptakan perayaan itu memiliki tujuan tertentu, aku harus bisa tau misteri apa yang ada di balik perayaan itu, aku yakin aku pasti bisa ngungkap semua kebusukan yang terdapat di dalam perayaan itu"
Janji Angkasa yang terus berjalan menuju rumah pak Jarwo.
Di pertengahan jalan Angkasa melihat ada selendang hitam yang terbang.
"Itu bukannya selendang yang waktu itu aku lihat?"
Selendang hitam itu terbang ke arah utara.
"Mau kemana dia, aku harus kejar dia" Angkasa mengejar selendang hitam yang semakin menjauh.
Selendang itu terbang dengan bebas, Angkasa terus mengejarnya, ia tidak akan biarkan selendang hitam itu lolos.
"Mau kemana kau, aku tidak akan biarkan kau pergi" Angkasa dengan gigih berlari mengejar selendang itu.
Selendang itu terus terbang, Angkasa meloncat untuk menangkap selendang yang tidak terlalu tinggi itu.
"Arrrrgghh" pekik Angkasa saat ada bayangan hitam yang melintas cepat dengan menabrak tubuhnya sehingga ia hampir saja terjatuh.
Angkasa melihat sekelilingnya yang tampak kosong, tidak ada satu makhluk halus pun yang Angkasa lihat.
"Tidak ada siapapun, lalu makhluk astral mana yang barusan nabrak aku?"
Angkasa merasa aneh, ia terus melihat sekeliling mencari keberadaan makhluk halus itu namun tetap saja tidak ada.
Angkasa kembali melihat ke arah selendang hitam yang hampir saja tidak terlihat karena saking jauhnya.
"Tidak, aku tidak boleh kehilangan dia, aku harus kejar dia" Angkasa kembali mengejar selendang hitam yang semakin menjauh.
Angkasa tidak akan biarkan selendang hitam itu lolos, ia ingin sekali menangkap selendang hitam itu yang membuatnya penasaran beberapa hari ini.
Angkasa menghentikan langkah saat selendang hitam itu menghilang ketika sampai di rumah Pak Baida'i.
"Kemana selendang itu, kenapa tiba-tiba hilang, dia pergi kemana?"
Angkasa mencari-cari keberadaan selendang hitam itu namun tetap saja tidak ada, selendang itu benar-benar hilang tak berbekas.
"Arrrrgghh aku kehilangan dia" kesal Angkasa yang melampiaskannya dengan cara berteriak.
Angkasa mengacak rambutnya, ia menghembuskan napas kasar lalu pergi dari rumah pak Baida'i.
"Ini semua gara-gara makhluk astral itu, kalau dia tidak nabrak aku, aku gak bakal kehilangan jejak selendang hitam itu, sebenarnya siapa makhluk astral yang udah nabrak aku barusan, padahal udah selangkah lagi aku bisa dapatin selendang hitam itu"
Geram Angkasa yang terus mengomel di sepanjang perjalanan.
Sepanjang perjalanan Angkasa terus mengomel tak jelas, ia begitu marah besar pada makhluk halus yang sudah mengacaukan segalanya.
Angkasa menghentikan langkah ketika teringat sesuatu.
"Eh aku kan di suruh buat jemput Ustadz Fahri"
Angkasa menepuk jidatnya."Kenapa aku bisa lupa, ini semua gara-gara selendang hitam itu, dia yang sudah buat tujuan awal ku berantakan, ayo Angkasa kamu harus jemput Ustadz Fahri, mereka semua pasti lagi nungguin kamu, kamu harus pulang secepatnya sebelum ada apa-apa sama mereka"
Angkasa berlari menuju rumah pak Jarwo yang sudah tak seberapa jauh.
Setelah sekitar 5 menit akhirnya Angkasa sampai di rumah pak Jarwo yang sudah di penuhi oleh orang-orang yang datang entah itu warga dari kampung Kamboja maupun dari kampung Penari.
Angkasa masuk ke dalam rumah pak Jarwo, ia mencari keberadaan Ustadz Fahri di tengah banyaknya orang-orang desa yang memenuhi rumah pak Jarwo.
"Di mana Ustadz Fahri, kenapa gak ada di sini" batin Angkasa yang celingukan mencari keberadaan Ustadz Fahri.
Angkasa memperhatikan satu persatu orang yang hadir di acara perayaan itu namun tidak ada satu orang pun yang ia cari-cari.
"Ustadz Fahri, bunda, ayah dan yang lain gak ada di sini, terus mereka pada kemana, masa iya mereka masih berada di rumah bu Weni?" batin Angkasa merasa tak yakin.
Angkasa hendak masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Ustadz Fahri namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia melihat ke arah seseorang yang duduk di kursi bersama para warga-warga lainnya.
"Itu bu Weni, beliau ada di sini, jadi gak mungkin Ustadz Fahri masih berada di rumahnya" batin Angkasa yang melihat ke arah bu Weni yang fokus menonton perayaan di depan.
"Aku harus cari Ustadz Fahri di sekitar sini" batin Angkasa.
Angkasa berkeliling namun tidak ada Ustadz Fahri yang ia temukan,alhasil Angkasa berdiri di ambang pintu gerbang dengan perasaan bingung karena apa yang ia cari-cari tak ketemu juga.
"Kemana Ustadz Fahri, kenapa gak ada di sini, masa dia berada di masjid?"
"Angkasa" panggilan itu membuat Angkasa menoleh ke sebelah kanan.
"Ustadz, kenapa Ustadz keluar dari sana?" Angkasa merasa aneh saat melihat Ustadz Fahri keluar dari samping rumah pak Jarwo yang gelap gulita.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita pulang ke rumah, ayah sama bunda dan yang lain juga sudah pada pulang" ajak Ustadz Fahri.
Angkasa mengangguk lalu keduanya pulang dengan terburu-buru karena takut ketahuan.
"Ada apa tadz, kenapa Ustadz kayak habis maling" Angkasa berani bertanya ketika sudah mulai menjauh dari rumah pak Jarwo.
"Sembarang kamu ini, saya tidak maling, saya cuman takut ada orang yang lihat saya, mangkanya saya buru-buru pergi dari sana" jawab Ustadz Fahri.
"Ustadz kenapa kok keluar dari samping rumah pak Jarwo, apa yang Ustadz cari di sana?"
"Saya tadi lihat ada makhluk halus yang keluar dari sana, pas saya cek ternyata di sana ada banyak dupa yang berjejer rapi yang berjarak sekitar 10 cm saja, selain dupa saya melihat ada kembang tujuh rupa di sana"
Angkasa tercekat."Kok bisa di sana banyak begituan tadz, siapa yang udah naruh?"
"Siapa lagi kalau bukan pemilik rumah itu, ayo kita cepat-cepat pulang ke rumah, sebelum mereka lapor pada tuannya" Angkasa mengangguk lalu keduanya berjalan menuju rumah dengan terburu-buru.