The Indigo Twins

The Indigo Twins
Gatal-gatal



Kingkong itu bernapas lega saat melihat punggung kami yang sudah menjauh dari dalam hutan ini.


"Eh kalian tau gak tadi di dalam hutan itu aku dengar suara tangisan, kingkong itu bilang kalau suara tangisan itu dari anaknya jin, tapi aku gak percaya"


"Mungkin aja itu bukan suara tangisannya anaknya jin, kakak gak cari dia apa?" dugaan Dita.


"Aku sudah nyari tapi gak ada apa-apa, hutan ini cuman ada banyak makhluk halus saja, gak ada satupun manusia yang aku lihat"


"Lalu untuk apa pak Jarwo dan pak Tejo masuk ke dalam hutan itu ya?" mulai penasaran Angkasa pada tujuan mereka.


"Apa mungkin di sana ada nyi Gayatri, mereka mungkin adalah murid-murid nyi Gayatri" feeling Reno.


"Bisa jadi, ayo kita cepat-cepat pulang aja, aku udah gak tahan lagi, tangan aku gatal-gatal, aku pengen cepat-cepat obatin biar gak makin parah" ajak Alisa yang terus menggaruk tangannya.


Kami mengangguk, lalu mempercepat langkah menuju rumah.


Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami sampai di rumah.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam, kakak dari mana aja, kok pada pergi?" Rani dan Arif mendekati kami yang baru pulang.


"Tadi kakak ada urusan, kamu gak sekolah, apa mau kakak antar?" tawar Reno.


"Mau" jawab Rani cepat.


"Kak Alisa kenapa, kok garuk-garuk?" penasaran Arif yang melihat Alisa terus menggaruk tangannya.


"Kena ulat, minggir sebentar, aku mau ke kamar" Arif dan Rani menepikan tubuhnya, Alisa lewat dan berjalan dengan terburu-buru menuju kamarnya.


"Kalian udah pada sarapan belum?"


"Belum kak" jawab mereka kompak.


"Ayo kita sarapan dulu"


Mereka semua setuju lalu berjalan mendekati meja makan yang di sana sudah ada mbk Rinda dan mbk Indri.


"Mbk Indri gak di ganggu sama siapa-siapa kan?"


Mbk Indri menggeleng cepat."Enggak kok Aliza, sedari tadi gak ada yang gangguin mbk"


"Mbk Indri ada yang bilang kalau mau terlepas dari Bima, mbk Indri harus nikah lagi, apa mbk Indri punya calon?"


Mbk Indri tiba-tiba terdiam, lalu menggeleng."Gak ada, mbk gak punya calon karena papa ngelarang mbk dekat sama laki-laki selama ini"


"Terus ini gimana, bisa gak ya mbk Indri bebas dari Bima?" agak tak yakin Reno.


"Kita doakan saja semoga mbk Indri bisa terlepas dari Bima" sahut Ustadz Fahri.


"Tadz teman Ustadz kapan sampai di sini?"


"Beliau bilang sekitar 3-4 hari, karena saat ini beliau lagi pulang kampung, jadi gak bisa datang nanti sore" jawab Ustadz Fahri.


"Lama banget lagi, bagaimana kalau Bima bawa mbk Indri sebelum temen Ustadz datang" khawatir Angkasa yang teringat pada kejadian tadi malam.


"Semoga saja mbk Indri gak di bawa sama Bima, nah untuk itu kita harus jaga mbk Indri, jangan biarkan dia sendiri karena takutnya Bima bisa membawa mbk Indri kembali ke sana" perintah Ustadz Fahri.


"Kalau seperti itu lebih baik Indri tidur bareng saya aja tadz, kalau sendirian takutnya suami gaibnya masuk ke dalam dan bakal bawa dia" usul mbk Indri.


"Boleh, biar mbk Indri juga gak sendirian di dalam kamar" jawab Ustadz Fahri.


"Mbk kita mau berangkat ke restoran, mbk jagain mbk Indri ya di sini, jangan biarkan dia sendiri, kalau bisa kemana-mana mbk Rinda bawa, biar gak ada celah bagi Bima buat bawa dia pergi"


"Siap non, Indri akan aman bersama saya" jawab mbk Rinda.


"Ayo kita makan aja, lalu siap-siap berangkat ke restoran" ajak Angkasa.


Kami mulai menyantap makanan yang ada di depan dengan lahap.


Aku berjalan menaiki tangga, belum sempat aku membuka pintu, mata ku tiba-tiba melirik ke arah kamar Alisa yang tertutup rapat.


"Alisa udah sembuh gak ya?"


"Coba deh aku periksa aja"


Aku mendekati kamar Alisa dan berdiri menatap ke arah kamar itu yang masih tertutup rapat.


"Sa, kamu di dalam kan, aku masuk ya?" tidak ada jawaban yang ku dengar.


"Kok gak jawab, apa dia ada di kamar mandi?"


"Aku harus periksa" aku membuka kamar Alisa yang kebetulan tidak di kunci.


"Sa" aku tercekat ketika melihat Alisa yang tidak bisa diam, tangannya terus saja menggaruk-garuk badannya yang terasa gatal.


"Sa kamu kenapa?"


"Gatal za, aku gak tahan, gimana ini" Alisa terus menggaruk badannya yang membuat banyak bintik-bintik merah yang keluar.


"Kamu duduk dulu, biar aku olesin minyak dulu" Alisa duduk di tempat tidur, aku mengambil kotak P3K yang berada di dalam laci.


Aku mengambil minyak yang khusus untuk menghilangkan gatal-gatal, aku mengolesi minyak itu ke bagian tubuh Alisa yang banyak bentol dan bintik-bintik merah.


"Gatal za, gimana ini, aku gak kuat, aku mau mandi aja"


"Eh jangan!"


"Kenapa, kenapa aku gak boleh mandi?"


"Kalau kamu mandi rasa gatalnya akan semakin meningkat"


"Terus sekarang aku harus gimana za, ini gatal banget, aku gak tahan"


"Kamu usahain jangan garuk-garuk dulu, nanti dia akan sembuh sendiri"


Alisa menjalankan perintah ku, ia diam berusaha menahan dirinya agar tetap diam tak lagi menggaruk bagian tubuhnya yang terasa gatal.


Alisa mulai tidak bisa diam, rasa gatal itu semakin lama semakin menjadi.


"Arrrrgghh gatal" Alisa menggaruk tangannya dengan kasar, sampai-sampai mengeluarkan darah.


"Sa jangan di garuk kayak gitu, nanti pada berdarah"


"Gatal za, kalau udah luka baru rasa gatalnya berhenti"


"Tapi gak kayak gini juga, jangan di garuk-garuk biar gak makin gatal" Alisa diam, aku terus mengoleskan minyak itu pada badan Alisa berharap menghilangkan rasa gatal-gatal itu.


"Sa aku sama yang lain mau ke restoran, kamu di sini aja ya, kamu jagain rumah"


"Gak mau za, aku mau ikut aja"


"Jangan sa, kamu lagi gak memungkinkan buat kerja, besok aja kalau mau ikut, hari ini kamu jagain rumah aja"


"Ya udah deh aku akan duduk diam di sini, besok baru aku akan kerja lagi"


"Ini olesin sendiri, aku mau mandi, nanti mereka pada nungguin aku, kan gak enak jadinya"


"Iya, pergi sana, jangan malam-malam pulangnya, aku takut di rumah sendirian"


"Ada mbk Rinda sama mbk Indri, masa kamu masih takut"


"Masih, pokoknya jangan malam-malam"


Aku membalas dengan dehaman lalu kembali ke dalam kamar ku untuk bersiap-siap berangkat ke restoran.


Melakukan ritual mandi sebentar, setelah selesai aku mengganti pakaian ku dengan baju khusus pegawai restoran.