The Indigo Twins

The Indigo Twins
Fakta



Alisa hendak menjawab.


"Udah, jangan di perpanjang"


"Oh ya gimana, apa kalian udah dapatin informasi tentang Andin?" Angkasa mengalihkan topik.


"Udah, ayo kita bahas dan cocokkan" jawab Alisa.


"Kita mau bahas di mana?" penasaran Reno.


"Di taman aja" jawab Angkasa.


"Jangan sa, di sana itu ada hantunya, aku gak mau ketemu sama dia lagi" Reno masih trauma dengan apa yang barusan ia alami.


"Terus di mana dong?"


"Di belakang sekolah dekat pohon besar itu gimana?" meminta pendapat Angkasa.


"Boleh juga, ayo kita ke sana, tapi di sana gak ada orang kan?"


"Enggak ada, aku habis dari sana barusan" jawab Reno.


"Ngapain kamu ke sana?" penasaran Alisa.


Reno tak menjawab, ia masih belum bisa berdamai dengan keadaan.


"Kenapa Reno diam aja" batin Alisa merasa aneh.


"Ayo sekarang kita ke sana aja" ajak Angkasa.


Kami setuju lalu berjalan menuju belakang sekolah.


Setelah beberapa saat kami sampai juga di sana.


"Bagaimana, apa kalian udah dapat informasi tentang Andin?"


"Udah" jawab mereka.


"Jihan Fahira Andini dan Andin Prayoga itu gak masuk kenapa ren?"


"Jihan Fahira Andini itu gak masuk karena gak mau di jodohin sama orang tuanya, tapi kalau Andin Prayoga aku gak tau, aku udah nanya sama teman aku, tapi dia juga gak tau" jawab Reno.


"Kalau untuk Andin Sanjaya itu gimana, apa dia gadis pucat itu?" penasaran Alisa.


"Bukan, dia orang yang berbeda, kata Fida dia itu gak masuk sekolah karena mama sama papanya mau cerai"


"Oh ya tentang Lily Andini Fairus itu gimana sa, kamu belum bilang dia kenapa?"


"Lily Andini Fairus itu kata teman-temannya udah meninggal" jawab Angkasa.


"Meninggal"


Terkejut kami mendengar hal itu.


"Iya dia udah meninggal" jawab Angkasa.


"Kok bisa meninggal, emang meninggal kenapa?" tercekat Roy.


"Kata teman-temannya sih kecelakaan" jawab Angkasa.


"Apa mungkin Lily Andini Fairus ini yang memang beneran gadis pucat itu" dugaan Alisa.


"Gak tau juga sih, tapi nama panggilannya Lily bukan Andin" jawab Angkasa.


"Kamu gak minta fotonya?"


"Enggak, tapi aku udah nanya di mana rumahnya, kata teman-temannya dia tinggal di jalan Cempaka nomor 7" jawab Angkasa.


"Kita datangin aja rumahnya setelah pulang sekolah, mungkin aja memang dia gadis pucat itu" sahut Reno.


"Tunggu-tunggu ini ada apa sih sebenarnya, gadis pucat, Andin, apa yang sebenarnya kalian maksud?" Roy sedari tadi hanya mendengar, ia tidak tau maksud kami.


"Gimana, kasih tau gak?" Alisa meminta pendapat kami.


"Kasih tau aja, tapi kamu jangan kasih tau sama siapa-siapa ya"


"Iya aku gak akan kasih tau sama-sama siapa kok, aku janji" jawab Roy.


"Gini kami itu saat ini sedang nyelidiki kasus kematian gadis pucat yang bersekolah di sekolahan ini juga" tutur Alisa.


"Terus-terus?" penasaran Roy.


"Teka-teki, teka-teki kayak gimana?" Roy mulai penasaran pada teka-teki itu.


"4,6,8 itu angka yang dia ucapin dan dia nyuruh kita buat mecahin misteri yang ada di balik angka itu" jawab Alisa.


"Jika kita bisa mecahin misteri di balik angka itu, maka kita akan tau kenapa dia bisa meninggal" sambung ku.


"Oh jadi karena ini kalian nyelidiki Andin" paham Roy.


"Iya, kami ingin tau apakah Andin itu adalah gadis pucat yang masih belum di ketahui meninggalnya kenapa atau tidak"


"Katanya kamu kenal sama Alvia Andini bukan?" Alisa kembali memastikan hal itu.


"Iya, aku memang kenal sama dia karena kita sering pulang bareng, tapi akhir-akhir aku gak pernah lagi pulang bareng sama dia, di chat juga gak di bales, aku cek ke kelasnya juga gak ada, kata sekertarisnya dia udah lama gak masuk sekolah tanpa keterangan" jawab Roy.


"Kamu tau di mana rumahnya Andin?"


"Tau, di jalan Anggrek no 4" jawab Roy.


"Jalan anggrek no 4" kata ku.


Angkasa melihat ku yang tengah berpikir keras.


"Ada apa za?" penasaran Angkasa.


"Apa yang kamu pikirin?"


"4,6,8 itu kan angka yang gadis pucat itu ucapin"


"Iya terus kenapa?" mulai penasaran Alisa.


"4 berarti jalan menuju rumahnya, 6 artinya kelas 10 B6, sedangkan 8 itu berarti sudah selama itu ia meninggal"


"Apa itu yang di maksud sama gadis pucat itu?" merasa tak yakin Alisa.


"Mungkin saja, angka itu cocok sama angka yang gadis pucat itu beri tau kan pada kita"


"Tapi za gadis pucat itu bilang kalau angka 4,6,8 itu lengkap dengan tragedi kematiannya" tutur Angkasa.


"Iya juga sih, terus apa sebenarnya arti dari angka 4,6,8 itu?"


Mereka diam tidak ada yang menjawab.


"Angka itu masih menjadi misteri za, kita harus pecahin, pelan-pelan juga gpp yang penting pasti" jawab Angkasa.


"Roy kamu gak punya nomor wa-nya atau fotonya Andin gitu, aku mau lihat, apakah dia itu gadis pucat yang sedang kami selidiki atau bukan, biar kami itu bisa tau dan gak terlalu membuang waktu hanya karena ingin nyelidiki orang yang bernama Andin itu"


"Ada, sebentar" jawab Roy.


Roy membuka hpnya untuk menunjukkan foto Andin.


"Apa ini orang yang kalian cari?" Roy menunjukkan foto seorang wanita yang ada di layar ponselnya.


Kami semua yang melihat foto yang Roy tunjukkan terkejut.


"Ini gadis pucat itu" shock kami yang ternyata bener kalau gadis pucat itu adalah Alvia Andini.


"J-jadi Andin udah meninggal" Roy tak kalah terkejutnya, ia selama ini tidak tau kalau Andin sudah meninggal.


Kami mengangguk secara bersamaan.


"K-kok bisa"


Tak percaya Roy yang sungguh tak menyangka jika Andin yang kami maksud ternyata orang yang selama ini dekat dengannya.


"G-gak mungkin, Andin gak mungkin meninggal" Roy masih tak percaya meskipun kami sudah memberitahunya.


"K-kalian pasti bohong, Andin gak mungkin meninggal, dia pasti hanya ikut papa sama mamanya keluar kota, iya dia pasti berada bersama mereka sehingga gak masuk sekolah beberapa hari ini" Roy berusaha menolak fakta yang ada.


"Roy, gadis pucat itu memang dia, kamu harus percaya kalau Andin udah meninggal" jawab Alisa.


"Enggak sa, enggak, Andin gak mungkin meninggal, dia masih hidup, dia gak mungkin pergi secepat ini" teriak Roy yang masih tak mau mengakui fakta itu.


"Roy, kamu tenangin diri kamu, iya aku tau ini berat buat kamu, tapi kamu harus terima" Alisa menenangkan Roy yang mulai kacau.


Roy diam, ia sungguh shock pada kebenaran yang begitu menyakitkan, ia sungguh tak menyangka jika temannya akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Kamu yang sabar, ini semua udah terjadi" Alisa mengusap punggung Roy untuk menenangkannya.


Roy menyeka air mata yang jatuh secara tiba-tiba, ia tak pernah membayangkan kalau orang yang selama ini selalu bersamanya kini sudah meninggal.