
"Hantu-hantu itu tak lain adalah anak-anak yang sudah meninggal di sekolahan ini, entah itu meninggal karena di jadikan tumbal proyek atau karena di bunuh sama sesama murid yang membencinya atau juga karena meninggal tak wajar di sekolah ini"
Reno mengerutkan alis."Meninggal tak wajar, meninggal tak wajar bagaimana maksudnya?"
"Meninggal karena jatuh dari tangga, kejatuhan benda berat, atau jatuh dari balkon, tiap beberapa tahun sekali biasanya ada anak yang meninggal namun kasusnya di tutup sama sekolahan, karena bu Riska tidak mau sekolahan ini di tutup"
"Pantas aja di sini ada banyak hantunya, ternyata sekolahan ini memang banyak kejadian mistisnya, kalau sampai orang-orang di luaran sana tau tentang hal ini, mungkin saja sekolahan ini akan di tutup"
"Nah mangkanya itu bu Riska nutup kasus-kasus kematian anak-anak, dia hanya gak mau itu terjadi"
"Kamu gak tau apa-apa lagi tentang sekolahan ini?"
"Dulu ada anak yang sekelas sama aku, namanya Rifdan, dia itu ceritanya mau pergi ke rumah Rifki buat ngerjain tugas kelompok, dan tak sengaja lewat di depan sekolahan ini, saat dia ngeliat ke arah bangunan sekolah, Rifdan melihat ada bu Riska yang berjalan di balkon dengan memegang kemenyan"
"Terus apa yang terjadi sama Rifdan setelah itu?" penasaran Reno pada kelanjutannya.
"Setelah kejadian itu Rifdan jadi agak aneh, dia gampang marah, kadang nangis, kadang juga jadi anak pendiam sekali sampai gak mau ngomong walaupun ada yang nanya, orang tuanya sampai khawatir ada apa-apa sama anaknya, lalu orang tua Rifdan itu bawa Rifdan keluar kota, dia pindah sekolah karena orangnya takut jika Rifdan begini gara-gara bersekolah di sekolahan ini"
"Terus-terus lanjut lagi, aku pengen tau" tintah Reno.
"Setelah itu aku gak tau lagi bagaimana kabar Rifdan, kita lost contact, aku udah nanya sama Rifki dan yang lain, namun di antara mereka pada gak tau kabar Rifdan"
"Aku penasaran banget tau bagaimana kabarnya, apa dia masih hidup atau tidak" Reno sangat khawatir pada keadaan Rifdan.
"Kita doakan saja semoga Rifdan baik-baik saja di sana"
Reno mengangguk."Kata kamu ada anak yang datang ke sekolahan ini dan melihat penampakan sundel bolong, pernyataannya ngapain dia datang ke sekolahan malam-malam, dia kurang kerjaan apa gimana?"
"Dia itu datang ke sini karena mau ngambil buku catatan matematika yang ketinggalan lantaran besoknya akan ada ulangan, dia belum belajar, mangkanya dia rela-relain datang ke sini malam-malam hanya karena catatan itu saja"
"Dia masih sekolah di sini gak, aku pengen ketemu sama dia, aku ingin nanya sama dia tentang apa aja yang dia temuin saat berada di sekolahan malam-malam?"
"Dia udah lulus, aku gak tau lagi tentangnya, sebenarnya sih aku gak mau ngambil jurusan IPS, tapi untuk tau seperti apa kesan mistis di lantai 5, aku sampai rela-relain ngambil jurusan IPS biar nanti ketika kelas 12, aku akan tau seperti apa kejadian-kejadian mistis yang akan aku alami"
"Kamu gila apa, masa kamu rela-rela ngambil jurusan IPS hanya karena ingin tau seperti apa angkernya sekolahan ini" tak habis pikir Reno pada jalan pikiran Roy yang sungguh gila menurutnya.
"Ya mau bagaimana lagi, namanya juga penasaran" jawab Roy dengan entengnya.
tap
tap
tap
Gedebuk!
Hahahaha
Suara orang berlari, terjatuh dan tertawa terdengar dengan jelas di telinga Reno.
Reno melihat ke arah tangga yang panjang itu, ia merasa suara-suara itu berasal dari kelas 12 IPS yang terletak di lantai 5, saat ini ia berada tangga bersama Roy.
"Roy kayaknya berada di sini gak aman deh, ayo kita cari Alisa, kita harus bantu dia buat nyari jasad Andin" ajak Reno yang mulai merinding.
"Iya ayo" Roy hendak menaiki tangga untuk menuju lantai 6.
Reno langsung berhenti dan menghadap ke arah Reno."Ada apa, kenapa kamu nyegah aku?"
"Jangan lewat tangga itu, aku gak mau ke lantai 6 dengan ngelewatin lantai 5, kita lebih baik manjat aja" Roy melihat wajah Reno yang mengisyaratkan sesuatu.
"Ya udah, ayo kamu ikut aku" ajak Roy.
Reno mengangguk lalu mengikuti Roy yang tidak tau akan membawanya kemana.
Mereka berdua berjalan meninggalkan tangga itu.
Roy terus berjalan lurus ke sebelah utara, Reno mulai merasa aneh pada Roy.
"Roy kamu mau bawa aku kemana, kenapa ke arah sini, aku itu maunya ke lantai 6?" penasaran Reno yang sedari tadi hanya diam.
"Udah ikut aja, aku akan bawa kamu ke lantai 6 tanpa melewati tangga"
Reno langsung mengerutkan alis."TANPA MELEWATI TANGGA, tanpa melewati tangga bagaimana maksudnya?" Reno semakin di buat penasaran.
"Udah jangan banyak tanya, ikutin aku saja, kamu tidak usah khawatir, aku gak bakalan bunuh kamu kok"
"Emang kamu berani bunuh orang?"
"Beranilah, kenapa enggak, cuman tinggal hajar aja, apa susahnya coba"
Roy berhenti melangkah,"Sekarang kita udah sampai"
Reno langsung mengerutkan alis ketika melihat Roy berhenti di ruangan yang tidak pernah di buka.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini, aku kan mau ke lantai 6, bukan ke sini?" tak habis pikir Reno pada Roy.
"Yang bilang akan bawa kamu ke kuburan siapa, aku ini mau bawa kamu ke lantai 6 tanpa harus gunain tangga, kamu kan tadi gak mau naik tangga itu, mangkanya aku bawa kamu ke sini"
"Caranya?"
"Lihat, kamu lihat kan?" tunjuk Roy pada lorong yang terdapat di sebelah kiri yang berada di samping ruangan yang tidak pernah di buka itu.
"Apa hubungannya dengan lorong itu?"
"Tentu saja ada, di balik lorong itu terdapat jalan menuju lift"
"LIFT, di sini ada lift?" terkejut Reno karena memang di sekolahan ini tidak ada lift dan tidak ada berita untuk menambahkan lift di sekolahan ini.
"Iya, di sana ada liftnya, gak banyak orang tau, hanya aku dan Tias saja yang tau, aku ini tau dari Tias sedangkan Tias tau karena di beritahu sama almarhum Fariz"
"Pantes aku gak tau, ternyata dikit yang tau, tapi masalahnya lift itu masih hidup gak?"
"Ya masihlah, kalau gak hidup buat apa"
"Kalau seperti itu ayo kita ke sana, aku udah gak sabar mau lihat seperti apa lift rahasia yang kamu maksud"
"Ya udah ayo ikut aku" Reno mengikuti Roy yang masuk ke lorong yang kecil itu untuk menuju ke lift yang Reno maksud.