The Indigo Twins

The Indigo Twins
Bahaya mendekat



"Dia cuman bilang itu aja?" Angkasa ingin kembali mencari tau tentang mbah Gamik dari Dita, ia merasa akan mendapatkan informasi terbaru lagi.


Dita menggeleng."Dia bilang banyak hal pada ku"


"Apa aja Dita, kakak boleh dengar gak?"


"Iya boleh, tapi kakak jangan kasih tau mbah Gamik ya" syarat Dita.


"Iya, kami gak akan kasih tau mbah Gamik" jawab Reno.


"Cepet bilang apa aja yang kamu tau dari mbah Gamik" tak sabaran Alisa yang ingin tau percakapan Dita dan mbah Gamik kemarin.


"Dia bilang kalau dia mau nyulik anak kecil malam ini, besok pasti ada anak kecil yang hilang" jawab Dita.


Kaki terkejut mendengar hal itu."Yang bener kamu Dita?" terkejut Angkasa yang shock mendengar hal itu.


"Iya kak beneran, mbah Gamik bilang kayak gitu pada ku, lihat aja besok pasti ada anak yang akan hilang" jawab Dita.


"Waduh ini gak bisa di biarin, kita gak boleh biarkan usaha mbah Gamik sukses" Alisa tidak mau hal itu terjadi karena kasus-kasus anak-anak hilang tanpa alasan terus terjadi dari dulu.


"Jadi benar anak-anak hilang di desa ada sangkut pautnya dengan mbah Gamik"


"Kalau seperti itu kita harus waspada, kita gak boleh diamin hal ini, besok kita harus datang ke rumah mbah Gamik itu" ajak Angkasa.


Kami semua setuju."Dita apa ada lagi yang kamu dapatin dari mbah Gamik?"


"Mbah Gamik bilang kalau dalam waktu 7 hari anak itu gak di temuin, maka dia tidak akan pernah ketemu selamanya" jawab Dita.


"Ini kayak kasus tumbal" kami semua melihat ke arah Ustadz Fahri.


"Jadi mbah Gamik itu numbalin anak-anak dengan cara nyulik dia gitu tadz?"


"Bisa jadi, karena untuk mendapatkan ilmu hitam biasanya harus berani numbalin nyawa manusia, kebanyakan anak-anak kecil yang gak punya dosa yang di jadikan tumbal" jawab Ustadz Fahri.


"Tapi kan mbah Gamik itu sudah meninggal, masa dia masih numbalin nyawa orang lain untuk memperoleh ilmu hitam?" merasa tak yakin Reno.


"Bisa jadi ilmu hitam ini gak di ambil sama mbah Gamik, tapi penerusnya, sedangkan mbah Gamik berprofesi untuk menculik anak-anak kecil itu" jawab Ustadz Fahri.


"Kalau kayak gitu anak-anak kecil di rumah ini gak boleh di biarkan main di luar, karena bisa saja mbah Gamik nyulik mereka" himbau Angkasa.


"Iya, ingat kamu gak boleh main keluar, nanti ada yang nyulik ngerti" Rani mengangguk mengerti.


"Tapi masalahnya anaknya siapa yang mau di culik, di desa ini banyak anak-anak kecil?"


"Kita lihat saja anak siapa yang akan di culik, besok pasti akan ada berita anak hilang" jawab Angkasa.


"Iya, sekarang ayo kita makan dulu, baru istirahat, ini sudah malam" ajak Alisa.


"Iya ayo" kami semua bangun dari duduk dan berjalan menuju meja makan.


Kami mulai menyantap makan malam di meja makan.


"Besok libur sa, kamu udah tau kan?"


"Iya, aku udah tau, lagian kalau gak libur aku gak akan sekolah karena aku masih diskors sama bu Riska, iih gedek banget aku sama dia, kepala sekolah kok gitu amat, dia itu gak pantes jadi kepala sekolah" geram Alisa yang masih marah besar pada bu Riska.


"Udah terima aja, walaupun kamu gak bersalah, sekarang orang yang udah buat kamu diskors mendekam di penjara, mereka gak akan gangguin kamu lagi"


"Syukurlah kalau seperti itu, aku gak akan kesel lagi kalau ketemu sama mereka" jawab Alisa.


"Kita siap-siap setelah ini, biar besok bisa langsung berangkat ke rumah mbah Gamik" suruh Angkasa.


"Iya, kita mau siap-siap kok setelah ini" jawab kami.


"Za aku nginap di kamar kamu ya, aku gak berani tidur sendiri, barusan aja aku keluar kamar karena tiba-tiba kayak ada orang jalan, mangkanya aku langsung buru-buru keluar dari dalam kamar" tintah Alisa.


"Gimana ya, tadi itu Roy pamitan soalnya, mangkanya aku sedih banget sampai ketiduran dan pas bangun udah gelap banget, mangkanya aku langsung turun ke bawah, untung ada kalian" jawab Alisa.


"Kamu tau gak tadi kita ketemu sama hantu Ustadz Fahri"


"Hantu Ustadz Fahri, emang Ustadz Fahri jadi hantu?" Alisa mengerutkan alis mendengar hal itu sedangkan Ustadz Fahri menahan tawa saat dirinya di katain hantu.


"Enggak, Ustadz Fahri gak jadi hantu, cuman ada hantu yang nyerupain dia, sama kayak hantu Alisa dulu"


"Hantu aja, gak usah bawa-bawa nama aku, aku bukan hantu" tak terima Alisa.


"Kok bisa ada hantu Alisa, emang dia mau apa, kenapa nyamar manjadi Alisa?" Angkasa tidak tau tentang kasus hantu Alisa.


"Gini Aliza itu di senangin sama hantu, dan hantu itu mau Aliza jadi anaknya, sehingga anak hantu itu menyerupai aku, untuk bisa bawa Aliza ke alam gaib, begitulah cerita singkatnya" jawab Alisa.


"Oh gitu" mereka manggut-manggut mengerti.


"Terus sekarang gimana hantu Alisa itu?" penasaran Angkasa yang tak tau sama sekali pada nasib hantu Alisa setelah itu.


"Mereka sudah di beresin sama Tiger, mereka gak akan bisa datang ke sini lagi, nah dari situlah kita di jaga sama Tiger, sehingga sulit ada hantu yang berniat jahat pada kami" jawab Alisa.


"Oh pantesan Tiger terus jagain kalian" Reno mewajarkan hal itu, awal-awal dia tidak bisa melihat Tiger kini ia bisa berkat mata batin itu.


"Bahaya mendekat" suara itu terdengar di telinga ku.


Aku terdiam saat mendengar suara yang tidak asing itu.


"Ada apa za, kenapa kamu tiba-tiba diam?" Angkasa yang duduk di sebelah ku merasa aneh pada ku.


"Bahaya mendekat"


Mereka semua mengernyitkan dahi.


"Bahaya mendekat, apa maksud kamu?"


"Aku barusan dengar ada suara yang bilang 'bahaya mendekat', aku gak tau siapa yang udah bilang hal itu, tapi aku merasa gak asing sama suaranya, tapi siapa dia, kenapa aku gak inget sama sekali padanya"


Aku mulai berusaha mengingat-ingat di mana aku mendengar suara familiar itu.


"Kakek Denso, suara itu milik kakek Denso"


"Kakek Denso? kenapa kakek Denso bilang hal itu sama kamu, kenapa sama aku enggak" Alisa merasa heran karena dia tidak mendengar suara kakek Denso.


"Enggak tau juga, kakek Denso bahaya mendekat saja"


"Bahaya apa?" mereka semua mulai panik.


"Waspada aja, karena kita masih belum tau bahaya apa yang mengancam saat ini"


"Dia datang" kami langsung menoleh ke arah Dita yang sangat tenang sekali tak panik seperti yang lain.


"Siapa yang datang?"


"Orang yang bilang ada bahaya pada kakak" jawab Dita.


"Maksudnya kakek Denso, dia mana di sekarang?"


"Enggak tau, ayo kita cari saja" Alisa beranjak dari meja makan dan berlari ke kamar ku, aku menyusulnya dari belakang.


"Kenapa mereka pergi?" merasa aneh Angkasa.


"Enggak ada apa-apa kok, mereka cuman kedatangan kakeknya, kalian gak usah panik, sekarang kembalilah ke dalam kamar, istirahatlah karena besok kita akan berangkat ke rumah mbah Gamik" suruh Ustadz Fahri.


Mereka semua mengangguk lalu membubarkan diri dari meja makan dan masuk ke dalam kamar masing-masing.