The Indigo Twins

The Indigo Twins
Seperti ada seseorang yang mengikuti



"Bukan, dia itu bukan pak Prapto, kamu jangan takut sama dia, kamu di sini dulu ya, saya mau sholat jenazah dulu, lalu antarkan jenazah pak Prapto ke pemakaman umum, baru setelah itu kita susul yang lain ke rumah sakit" Dita mengangguk.


"Ya udah aku akan diam di sini, tapi sholat jenazah gak lama kan tadz?" Ustadz Fahri mengangguk.


"Enggak lama kok, kamu tunggu di sini, saya mau ambil wudhu dulu" Dita mengangguk mengerti.


Ustadz Fahri meninggalkan Dita sendirian, ia mengambil wudhu kemudian ikut sholat jenazah yang di imami Ustadz Somad, beliau sudah sepuh sehingga beliau terkadang tidak bisa mengimami warga di masjid, beliau menyuruh Ustadz Fahri untuk menjadi imam masjid selama ini.


Dita yang berada di sana sendirian mendekati ibu-ibu yang terus membicarakan pak Prapto, dukun beranak dan juga mbah Gamik.


Dita merasa ada mata yang memperhatikannya, ia melihat sekeliling halaman rumah pak RT yang lumayan luas.


"Enggak ada siapa-siapa, kenapa aku merasa kayak ada orang yang liatin aku" batin Dita yang celingukan mencari sesuatu.


Menoleh ke kanan dan ke kiri sudah Dita lakukan namun tetap saja tidak ada yang aneh menurutnya, semua orang yang ada di dekatnya adalah manusia, tidak ada makhluk halus satupun.


"Kayaknya ini cuman perasaan aku saja" batin Dita.


"Anaknya pak Rahmat sama bu Romlah itu gimana ya, apa sudah ketemu?" Dita mendengarkan baik-baik ibu-ibu itu yang kini beralih membicarakan Laras.


"Belum bu, Laras masih belum ketemu, Ustadz Fahri sama anak-anaknya bu Diana saja kembali dengan tangan kosong dari hutan, mereka tidak nemuin Laras walaupun udah nyari ke rumah mbah Gamik"


"Ya Allah kasihan sekali pak Rahmat sama bu Romlah kalau beneran Laras gak akan ketemu sama kayak anak-anak kecil yang hilang tahun kemarin dan tahun-tahun sebelumnya" perihatin bu Weni.


"Iya, kemana ya anak-anak itu, kenapa walaupun di cari ke mana-mana tetap gak ketemu, makhluk halus itu nyembunyiin mereka di mana sebenarnya?" rasa penasaran bu Hanung masih tak kunjung selesai selama ini karena memang sampai saat ini tidak ada yang bisa nemuin anak-anak yang hilang itu.


"Pasti di tempat yang jauh dan warga gak bisa nemuin" sahut bu Weni.


"Jadi Laras masih belum ketemu, mbah Gamik bilang kalau dalam 7 hari dia gak ketemu, maka dia tidak bisa kembali lagi, bagaimana ini, aku tidak mau dia pergi untuk selamanya, aku harus bisa cari dia" batin Dita yang mulai tidak tenang saat tau kalau Laras masih tidak ketemu juga.


Sholat jenazah selesai di lakukan.


Sebagian warga yang ada di sana ikut mengantarkan jenazah pak Prapto, kebanyakan yang ikut adalah kaum adam saja, di sana hanya Dita satu-satunya kaum hawa yang berani ikut mengantarkan pak Prapto ke pengistirahatan terakhirnya.


Saat sampai di pemakaman umum jenazah pak Prapto langsung di kuburkan, setelah di tutupi oleh tanah, pak RT menaburi makam pak Prapto dengan bunga, baru setelah itu Badrul menyiram makam pak Prapto dengan air laut yang asin yang sudah ia ambil bersama teman-temannya, ia hanya tidak mau pak Prapto membuat kampung Kamboja ini menjadi rusuh.


Ustadz Somad membaca doa yang di amini oleh semua orang.


Setelah selesai satu persatu warga yang berada di sana membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.


"Ayo tadz kita ke rumah sakit, aku ingin tau keadaan kak Aliza sama kak Angkasa" Ustadz Fahri mengangguk.


"Iya, ayo kita ke sana" Dita dan Ustadz Fahri berjalan pulang menuju rumah.


Sepanjang perjalanan Dita merasa ada seseorang yang mengikutinya.


Tangan Dita yang sedari tadi Ustadz Fahri genggaman mulai terasa dingin, sedingin es batu.


Ustadz Fahri menatap wajah Dita yang pucat."Kenapa, kamu takut?"


"Gak usah takut ada saya di sini" jawab Ustadz Fahri.


Dita tersenyum meski saat ini rasa takut itu tidak berkurang walau sedikitpun.


"Ayo kita cepat-cepat sampai di rumah, kita harus berangkat ke rumah sakit" Dita mengangguk lalu mempercepat langkahnya.


Dita masih merasa ada seseorang yang mengikutinya namun ia berusaha menepisnya dan terus berjalan.


Setelah cukup lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai juga di rumah.


"Loh kalian gak ikut ke rumah sakit?" mereka berlima mengernyitkan dahi.


"Rumah sakit, untuk apa kita ke rumah sakit?" tak mengerti mbk Hilda yang saat ini berada di pohon depan rumah ku bersama yang lain.


"Aliza sama Angkasa pingsan saat berada di rumah mbah Gamik, kalian gak tau kalau mereka pingsan" jelas Ustadz Fahri.


"APA PINGSAN?"


Terkejut mereka saat tau hal itu."Iya, Aliza sama Angkasa jatuh pingsan, dan sekarang mereka sedang di larikan ke rumah sakit"


"Kapan Aliza sama Angkasa di bawa ke sana?" mbk Santi terkejut saat tau berita itu.


"Lumayan lama juga" jawab Ustadz Fahri.


"Kenapa Aliza sama Angkasa bisa pingsan, apa yang terjadi sama mereka?" khawatir Tiger karena dirinya tak bisa menjaga kami sehingga sesuatu terjadi pada kami.


"Saya juga tidak tau mereka pingsan kenapa, karena saya dan yang lain nemuin mereka dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri, saya nanti akan tanya sama mereka tentang apa yang terjadi sehingga mereka bisa jatuh pingsan" jawab Ustadz Fahri.


"Pasti ini gara-gara mbah Gamik, dia memang mencari gara-gara" geram Tiger.


"Kalian emang tidak tau kalau Aliza sama Angkasa di larikan ke rumah sakit, bunda sama ayah dan lain sempat pulang loh sebelum ke rumah sakit?" mereka semua menggeleng.


"Kami beneran gak tau tadz, karena mungkin saat bunda sama ayah pulang, kami masih berada di rumah pak Jarwo, kami aja baru kembali ke sini" jawab mbk Gea.


Ustadz Fahri menghembus napas."Pantesan aja kalian gak tau kalau Aliza sama Angkasa di larikan ke rumah sakit, tau-taunya kalian malah ngungsi di rumah pak Jarwo yang lagi ada hajatan"


Mereka semua cengar-cengir karena mereka memang sedari tadi berada di rumah pak Jarwo yang saat ini tengah melangsungkan acara pernikahan putrinya yang nomor 2.


"Maaf tadz, kami kan pengen nyari hiburan juga, bosen duduk manis di sini terus" jawab mbk Santi.


"Terserah kalian deh, saya sama Dita mau ke rumah sakit, kalian jaga rumah, rumah gak ada orangnya saat ini, kalian jaga baik-baik, kalau ada bahaya yang mendekat, kalian langsung halau saja" titah Ustadz Fahri.


"Baik tadz, kami akan jaga rumah" jawab White.


Ustadz Fahri mengeluarkan motor dari dalam garasi lalu berangkat ke rumah sakit bersama Dita.