
"Sabar dulu sa, jangan gegabah nanti bisa berakibat fatal"
"Aku gak bisa sabar lagi za, dia harus di kasih pelajaran, dia sudah ngilangin temen kecil kita, aku mau hajar dia, aku gak terima Intan mati gara-gara dia" geram Alisa yang ingin sekali mencabik-cabik tubuh pak Tejo.
"Sebentar-sebentar pak Tejo itu orang kaya?" pertanyaan itu di ajukan oleh Ustadz Fahri.
"Iya tadz, dia orang kaya sama kayak pak Jarwo dan pak Tono, mereka bertiga memang menempati posisi orang terkaya di desa ini"
"Masuk akal kalau dia numbalin anak-anak demi kekayaan" batin Ustadz Fahri.
"Pak Tejo sama pak Tono itu kerja apa?" Alisa diam, ia tidak lagi mengamuk.
"Kalau gak salah, pak Tejo sama pak Tono itu gak di ketahui kerja apanya, tiba-tiba kaya gitu" jawab Alisa.
"Bisa jadi kalau pak Tejo dan pak Tono orang yang selama ini numbalin anak-anak di desa" curiga Ustadz Fahri pada mereka.
"Tadz ayo kita sekarang ke sana saja, kita harus cari tau kebelakangnya dulu, baru kita labrak dia"
"Iya, ibu Retno jangan bilang sama siapa-siapa dulu tentang hal ini, karena kami masih belum tau kebenarannya" titah Ustadz Fahri berharap bu Retno bisa di ajak berkompromi.
"Iya tadz, saya tidak akan bilang sama siapa-siapa, saya mohon tolong temukan anak saya, saya gak mau kehilangan dia tadz" jawab bu Retno, ia sangat takut Dilan bernasib sama seperti Laras dan Intan yang hilang dan sampai saat ini tidak di temukan juga.
"Iya bu, kami akan berusaha untuk nemuin anak ibu, ibu doakan saja semoga usaha kami di lancarkan"
"Iya nak, ibu pasti akan doakan kalian, ibu pamit pulang dulu, nanti kalau kalian sudah berhasil nemuin anak ibu, tolong langsung hubungi ibu" titah bu Retno.
"Iya bu, kami akan langsung hubungi ibu kalau kami sudah berhasil nemuin Dilan" jawab Alisa.
"Ibu pamit dulu assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
Bu Retno pulang kembali ke rumahnya.
"Ayo kita langsung berangkat ke rumah pak Tejo, kita harus selidiki dia" mereka semua setuju lalu bangkit dari duduk dan berjalan keluar dari rumah.
"Dita kamu jangan ikut ya" suruh Ustadz Fahri.
"Gak mau tadz, aku mau ikut nyari Dilan" ngotot Dita.
"Ya sudah biarkan saja tadz, di antara kita semua hanya dia yang tau dan kenal dekat dengan Dilan" jawab Angkasa.
"Ya udah, ayo kita berangkat" ajak Ustadz Fahri.
Kami semua melangkahkan kaki keluar dari rumah.
"Tunggu-tunggu" Alisa tiba-tiba menghentikan langkannya yang membuat kami semua menatap aneh.
"Kenapa sa?"
"Mbk Indri gimana, masa kita tinggalin dia di rumah?" Alisa teringat pada mbk Indri ia hanya khawatir mbk Indri di bawa sama suami gaibnya.
"Gini aja, kalian suruh mbk Rinda jagain mbk Indri, jangan biarkan dia sendirian biar gak ada celah untuk Bima membawanya ke alam gaib" suruh Ustadz Fahri.
"Bentar aku mau beri tau mbk Rinda dulu"
Aku masuk kembali ke dalam rumah dan mendekati mbk Rinda yang tengah masak.
"Mbk Rinda" mbk Rinda langsung menoleh ke arah ku.
"Mbk aku sama yang lain mau pergi, kami titip mbk Indri, jangan biarkan dia sendirian karena takutnya suami gaibnya datang"
"Baik non, mbk gak akan biarkan hal itu terjadi, non tidak usah khawatir, Indri akan aman bersama mbk" aku merasa sedikit tenang untuk meninggalkan mbk Indri di rumah ini.
"Makasih mbk"
"Sama-sama non"
Aku berjalan kembali mendekati mereka yang menunggu ku di teras rumah.
"Gimana, apa mbk Rinda setuju?" aku mengangguk cepat.
"Iya tadz, mbk Rinda setuju, ayo kita langsung berangkat saja, kita gak boleh nunda-nunda waktu lagi"
Mereka semua mengangguk lalu bangkit dari duduk dan kembali berjalan menuju rumah pak Tejo.
"Kalian pada mau kemana?" Alisa menatap ke arah mbk Hilda yang duduk manis di dahan pohon bersama yang lain.
"Kita ada urusan mbk, mbk jaga rumah ya, jangan sampai ada makhluk halus yang masuk ke dalam rumah, kalau sampai aku tau ada makhluk halus yang masuk ke dalam rumah, kalian semua akan aku usir" ancam Alisa yang membuat mereka bergidik ngeri.
"Gak bakal sa, kami gak akan teledor lagi, kamu tidak usah khawatir" jawab mbk Santi.
"Ya udah kami mau berangkat dulu, jaga rumah baik-baik" titah Reno.
"Siap" mereka semua setuju, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah pak Tejo.
"Rumahnya bu Retno itu di mana, jauh gak dari sini?" penasaran Angkasa yang tidak tau letak rumah bu Retno.
"Itu loh rumah pak Baida'i, bu Retno itu istrinya pak Baida'i" jelas Alisa.
Angkasa tiba-tiba terdiam."Selendang hitam itu kemarin hilang ketika sampai di rumah pak Baida'i, apa mungkin hilangnya Dilan ada hubungannya sama selendang hitam itu" batin Angkasa.
"Kenapa sa, kenapa kamu tiba-tiba diam?"
"Enggak kok, gak ada apa-apa" jawab Angkasa yang masih menyembunyikan selendang hitam itu dari kami.
"Tadi malam selendang hitam itu memang hilang saat sampai di rumah pak Baida'i dan paginya ada berita anaknya pak Baida'i hilang, waktu itu juga sama saat Laras hilang, kayaknya selendang hitam itu ada hubungannya sama hilangnya Laras dan Dilan" batin Angkasa yang terus memikirkan selendang hitam.
"Itu rumahnya pak Tejo?" tunjuk Ustadz Fahri pada rumah yang besar namun lebih besar rumah pak Jarwo.
"Iya tadz, itu rumahnya pak Tejo, dalang dari ini semua" Alisa masih geram sekali dengan pak Tejo, ia kehilangan Intan karena ulah pak Tejo.
"Itu pak Tejo keluar, ayo kita sembunyi" panik Angkasa saat melihat pak Tejo yang akan keluar dari rumahnya.
Dengan cepat kami masuk ke dalam semak-semak sebelum pak Tejo melihat kami.
Pak Tejo keluar dari dalam rumahnya dengan santai, tampak tenang tidak ada kecemasan sama sekali yang terpancar di wajahnya.
"Dia mau kemana?" Reno melihat pak Tejo yang berjalan ke sebelah selatan.
"Apa mungkin dia mau ke rumahnya pak Jarwo ya?" feeling Angkasa karena jalanan sebelah selatan itu memang mengarah pada rumah pak Jarwo.
"Kita harus ikutin dia, dia adalah biang keroknya, kita harus tangkap basah dia" Alisa memberikan tatapan tajam pada pak Tejo yang terus berjalan.
"Ayo kita ikutin pak Tejo, semoga saja kita bisa nemuin titik terang dari misteri ini" ajak Ustadz Fahri.
Kami semua mengangguk setuju lalu keluar dari dalam semak-semak, dengan perlahan-lahan kami mengikuti pak Tejo dari belakang.