The Indigo Twins

The Indigo Twins
Menunggu dengan tidak tenang



Ayah dan bunda serta yang lain sampai di rumah sakit.


"Suster tolong kami" teriak ayah yang khawatir.


Suster-suster yang mendengar hal itu langsung mendekati mereka dengan membawa 2 brankar.


Tubuh kami di letakkan di dua brankar yang suster-suster itu bawa kemudian di dorong menuju ruangan UGD.


Mereka semua mengikuti suster-suster itu yang membawa kami ke sana.


"Bapak ibu mohon tunggu di sini, biar kami yang akan menangani pasien" titah dokter.


"Tolong anak kami dok" khawatir bunda pada keadaan kami.


"Baik ibu, suster bawa mereka masuk" suster-suster itu mendorong brankar masuk ke dalam ruangan UGD.


Mereka menunggu dengan tidak tenang, rasa khawatir terus menjalar ke seluruh tubuh mereka karena keadaan kami masih tidak di ketahui.


Mereka hanya takut keadaan kami mengkhawatirkan sehingga mereka tidak bisa diam.


Alisa melihat bunda yang mondar-mandir ke sana kemari dengan wajah cemas.


"Bunda tenanglah, Aliza pasti baik-baik saja"


"Bagaimana mungkin bunda bisa tenang, adik kamu sama Angkasa masih belum siuman, bunda takut mereka kenapa-napa" khawatir bunda yang cemas pada kami.


"Tapi Alisa yakin bunda mereka baik-baik saja" harapan Alisa.


"Oh ya kenapa kalian bisa berada di rumah mbah Gamik, bunda sudah larang keras kalian masuk ke dalam hutan apalagi mendatangi rumah mbah Gamik" Alisa dan Reno menunduk, karena mereka tidak tau harus menjawab apa.


"Kenapa kalian masih nekat masuk ke sana, bunda hanya tidak mau kalian kenapa-napa, sekarang lihat Aliza sama Angkasa pingsan, itu pasti karena kalian nekat masuk ke sana" marah bunda pada mereka berdua yang masih menunduk takut.


"Bunda kami ke sana karena mau nyari Laras, Laras anaknya pak Rahmat yang hilang tadi pagi, kami curiga kalau Laras di culik sama mbah Gamik, mangkanya kami datangin rumahnya buat nyari di sana" jawab Alisa.


"Walaupun ada anak hilang kalian jangan nekat masuk ke sana, karena banyak warga gak kembali setelah masuk ke dalam hutan"


"Itu kalau mereka masuk ke dalam hutan terlarang bun, kakek Denso bilang kalau siapa saja yang masuk ke dalam hutan terlarang dan saat matahari terbenam tidak keluar maka mereka tidak akan bisa keluar untuk selamanya"


"Walaupun yang bermasalah itu hutan terlarang kalian tidak boleh masuk ke dalam hutan lagi!" tegas bunda yang tidak mau anak-anaknya bernasib sama seperti kebanyakan warga yang hilang setelah masuk ke dalam hutan.


Alisa diam tak bergeming, dia kali ini tidak bisa melawan bunda yang sedang marah besar.


"Sudah bun, jangan marah-marah di sini, di sini itu rumah sakit, gak enak sama pasien-pasien yang juga di rawat di sini" bunda menghembuskan napas kasar.


"Tapi ayah mereka itu sudah berani membangkang, bunda itu cuman takut mereka kenapa-napa, enggak lebih" ayah mengusap punggung bunda untuk menenangkannya.


"Sudah bun, sudah jangan marah-marah, yang mereka lakukan itu benar, hanya saja mereka itu tidak memikirkan bahaya yang akan mengancam mereka kalau masuk ke dalam hutan"


"Kenapa ayah belain mereka, apa ayah mau anak-anak kita hilang seperti warga-warga lainnya?" salah sangka bunda.


"Bukan begitu bun, ayah tidak membela mereka, tapi bunda harus ingat kalau mereka itu dapat melihat mereka yang tak kasat mata, wajar aja kalau mereka nekat masuk ke dalam hutan demi tau ada apa saja di sana, itu saja" jelas ayah.


Bunda diam, dia masih sangat marah namun ia terus berusaha menahannya karena tidak enak pada orang-orang yang berada di rumah sakit ini.


"Bunda jangan marah-marah lagi, ini rumah sakit, harus tau tempat" bunda pun diam, ia tidak lagi memarahi Reno dan Alisa.


Krieet


Pintu ruangan UGD terbuka dan keluarlah seorang dokter dari dalamnya.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" ayah langsung mendekati dokter.


"Mereka baik-baik saja kan dok?" khawatir bunda.


"Mereka baik-baik saja, tidak ada luka dalam di tubuh mereka, hanya saja mereka harus di rawat dulu agar kami dapat memantau perkembangannya" jawab dokter.


"Alhamdulillah, ya Allah terima kasih" bunda merasa lega setelah mendengar hal itu.


"Dokter bolehkah kami masuk ke dalam?" ayah ingin sekali menemui kami berdua dan melihat seperti apa keadaan kami dengan mata kepalanya sendiri.


"Tidak di perkenankan masuk pak, tapi kami akan memindahkan pasien ke dalam kamar perawatan, mohon urus dulu administrasinya agar pasien bisa di pindahkan" jawab dokter.


"Baik dok" ayah bergegas menuju bagian administrasi.


Ayah menempatkan kami di ruangan VVIP yang bersebelahan.


Suster itu memindahkan kami ke ruangan VVIP sesuai yang ayah inginkan.


Bunda mendekati ku yang masih memejamkan mata."Aliza bangun nak, ini bunda, bunda sudah datang, kamu bangun sayang"


Tidak ada pergerakan di dalam diri ku.


"Ayah kenapa Aliza masih belum siuman juga" mulai khawatir bunda yang melihat tidak ada pergerakan di dalam diri ku.


"Mungkin sebentar lagi Aliza akan siuman bun, kita tunggu saja dulu sebentar" jawab ayah.


Mereka menunggu ku siuman di dalam ruangan perawatan.


"Ayo Dita turun" Dita turun dari motor dan mengikuti Ustadz Fahri yang masuk ke dalam rumah sakit.


Saat kakinya menginjak rumah sakit mata Dita langsung menangkap anak-anak kecil yang berlarian di rumah sakit ini.


Ustadz Fahri melihat Dita yang diam di tempat."Kenapa bengong, apa yang kamu lihat?"


"Itu" tunjuk Dita pada anak-anak kecil yang bermain di koridor rumah sakit.


"Mereka bukan manusia, ayo kita ke kamar Aliza sama Angkasa" Dita mengangguk lalu kembali berjalan mengikuti Ustadz Fahri dengan pandangan yang terus tertuju pada anak-anak kecil itu.


"Tadz kenapa mereka semua bisa meninggal?" Dita mulai penasaran pada anak-anak yang kebanyakan mengenakan pakaian rumah sakit.


"Mungkin mereka meninggal karena sakit" jawab Ustadz Fahri.


Ustadz Fahri terkejut saat Dita membenamkan wajahnya padanya.


"Kenapa Dita, kenapa kamu takut, apa yang kamu lihat?" khawatir Ustadz Fahri.


"Itu" tunjuk Dita pada suster ngesot yang berada di dekat kursi tunggu.


"Dita tidak akan mengganggu kita, ayo kita ke ruangan Aliza sama Angkasa saja" Dita mengangguk lalu berjalan bersama Ustadz Fahri dengan sembunyi-sembunyi, ia tidak mau melihat suster ngesot itu apalagi dia mengikutinya.


Ustadz Fahri masuk ke dalam kamar perawatan ku."Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua.


"Bagaimana keadaan Aliza bun?" Ustadz Fahri melihat wajah bunda yang masam.


"Tidak ada perubahan, tidak ada tanda-tanda akan siuman juga" jawab bunda lesu.


"Mungkin sebentar lagi Aliza akan siuman bun" harapan Ustadz Fahri.


"Mungkin saja" jawab bunda.


Tiba-tiba hp bunda berbunyi.


Bunda langsung panik saat melihat nama orang yang menelponnya.


"Siapa yang nelpon bun?" penasaran ayah.


"Azril ayah, ada apa ya dia nelpon bunda" jawab bunda.


"Coba bunda angkat aja, siapa tau penting" bunda mengangguk lalu mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum Diana"


"Wa'alaikum salam ada apa Azril?"


"Gimana anak aku Diana, dia baik-baik saja kan, aku mau ngomong sama dia, dari tadi aku telpon gak di angkat-angkat, aku sekarang udah berada di negara Indonesia lagi, aku kangen banget sama dia, tolong berikan hp kamu padanya, aku mau bicara"


"Azril anak kamu pingsan"


"APA PINGSAN, kenapa bisa pingsan, ada apa sama dia?"


"Aku juga masih gak tau dia pingsan kenapa, kamu ke rumah sakit gih, lihat langsung keadaan anak mu"


"Iya aku akan ke sana"


Om Azril mematikan sambungan telepon.


"Ada apa pa, kenapa panik gitu?"


"Angkasa pingsan ma, ayo kita ke rumah sakit"


"Kenapa bisa pingsan pa?"


"Enggak tau juga, ayo kita cek ke sana"


Tante Lani setuju lalu bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Angkasa.


Butuh waktu 30 menit untuk mereka sampai di sana.


Mereka langsung mendatangi bunda yang berada di kamar ku.


"Di mana Angkasa Diana?"


"Di kamar sebelah, anak mu ada di sana di temani sama suami ku"


Om Azril langsung membuka pintu kamar sebelah yang terdapat anaknya.


"Angkasa kamu kenapa nak, kenapa kamu bisa kayak gini" khawatir tante Lani yang melihat Angkasa terus memejamkan matanya.


"Kenapa anak ku bisa pingsan Diana, apa yang sudah terjadi?"


Bunda menjelaskan semuanya pada om Azril dan tante Lani tentang usaha kami yang mencari Laras ke rumah mbah Gamik yang berada di tengah-tengah hutan.