The Indigo Twins

The Indigo Twins
Di bawah pohon



"Apa mereka bilang, ada anak kelas sebelah yang udah lama gak masuk tanpa keterangan, sepertinya aku harus kasih tau yang lain tentang hal ini, nanti aku akan kasih tau mereka saat istirahat" batin Alisa.


"Semoga saja anak sebelah yang gak masuk itu adalah sosok gadis pucat yang masih belum di ketahui nama, kronologis kematiannya dan apakah ada orang yang terlibat di dalamnya atau tidak" batin Alisa penuh harapan.


Bel masuk berbunyi dengan sangat nyaring.


Tak lama dari itu ada guru yang masuk ke dalam kelas Alisa.


Selama pelajaran di mulai Alisa tidak fokus sama sekali sebab yang ada di pikirannya hanyalah gadis pucat itu.


"Kapan istirahatnya, aku pengen cepat-cepat istirahat" batin Alisa yang sudah tak sabaran.


"Kenapa lama banget sih, biasanya gak selama ini" batin Alisa.


Roy melirik Alisa yang terus memperhatikan jam yang terpampang di dinding.


"Kenapa sa?" tanya Roy.


"Gpp kok" jawab Alisa.


"Apa yang Alisa pikirkan, kenapa dia terus melihat jam itu, apa yang ingin ia lakukan sebenarnya" batin Roy yang penasaran.


Roy hanya bisa diam dengan terus menghadap ke depan meski ia tidak mendengarkan tiap-tiap menteri yang guru itu terangkan.


Teeet


Ketika mendengar suara itu senyuman langsung terukir di wajah Alisa.


Dengan cepat Alisa keluar dari dalam kelas dan berlari menuju taman.


"Alisa"


Panggil Roy namun Alisa tidak mendengar karena dia keburu pergi.


"Nanti aja aku tanyain" kata Roy.


"Ayo kita ke kantin aja" ajak Roy.


"Emang Sao yang ingin kamu tanyain pada Alisa?" tanya Doni.


"Ada deh, kalian tidak perlu tau, ayo sekarang kita ke kantin aja" jawab Roy.


Roy dan teman-temannya berjalan menuju kantin sekolah sedangkan Alisa terus berlarian di koridor.


"Aku harus temuin mereka semua, aku harus kasih tau apa yang aku dengar barusan, aku rasa mereka pasti akan senang dengan berita yang ku bawa saat ini" kata Alisa dengan terus berlari.


Saat Alisa berlari tiba-tiba.


Brukkk


Alisa terjatuh saat tak sengaja menabrak seseorang.


Alisa melihat tangannya yang lecet, kemudian ia melihat siapa yang sudah di tabrak.


"Punya mata gak sih" omel Hani.


"Tau" sahut Chelsea.


"Jalan kok gak liat-liat" marah Nadira.


"Maaf" kata Alisa.


"Lain kali kalau jalan itu pake mata, jangan asal main tabrak orang aja, kamu kira sekolahan ini punya nenek moyang mu apa main seenaknya menguasai jalan" kesal Gisel pada Alisa.


"Dasar gak berguna, ayo kita pergi tinggalin dia" ajak Bianca.


Mereka kemudian meninggalkan Alisa yang masih diam di tempat.


"Akkkh kenapa aku sial sekali, iih lama-lama aku robek aja mulut nenek lampir itu, dia kira aku takut apa" omel Alisa yang kesal juga.


"Mangkanya kalau jalan itu hati-hati"


Suara itu membuat Alisa terkejut.


Alisa langsung mendongak ke atas.


"Reno"


Terkejut Alisa saat melihat Reno yang kini berada tepat di depannya.


"Reno bantuin aku" tintah Alisa.


Tanpa di suruh Reno membantu Alisa berdiri.


"Kamu kenapa pake lari-larian segala, emang ada apaan sih, kamu di kejar sama siapa, bilang sama aku biar aku yang ngadepin" kata Reno.


"Gak ada yang ngejar aku ren, aku cuman mau pengen cepat-cepat sampai di taman, karena ada sesuatu yang ingin aku beritahukan pada yang lain" jawab Alisa.


"Sesuatu apaan?" tanya Reno.


"Ada deh, ayo kita ke taman aja langsung, nanti kamu juga akan tau apa yang aku ingin sampaikan" ajak Alisa.


Reno mengangguk lalu berjalan menuju taman bersama Alisa.


Aku dan Angkasa sudah berada di taman.


"Mana Alisa sama Reno, kenapa belum sampah di sini, apa mereka masih berada di dalam kelas ya" pikir ku saat tidak menemukan mereka di taman ini.


"Mungkin aja sih" jawab Angkasa.


"Apa kita susul aja mereka" kata ku.


"Gak usah, mereka udah datang tuh" tunjuk Angkasa ke arah mereka berdua yang mendekati kami.


Aku melihat ke arah mereka berdua yang berjalan kemari.


"Kenapa lama banget, aku kan udah bilang kalau udah istirahat langsung ke sini, biar gak banyak waktu yang terbuang" kata ku.


"Awalnya aku juga udah berusaha buat sampai di sini tepat waktu, tapi tadi itu aku gak sengaja nabrak orang, jadi agak lama, dia ngomel lagi, kan malas aku dengannya" jawab Alisa.


"Kok bisa kamu nabrak orang?" tanya Angkasa.


"Ya karena tadi itu aku pengen cepat-cepat sampai di sini, karena aku mau ngasih tau kalian sesuatu" jawab Alisa.


"Sesuatu apaan?" tanya kami kompak.


"Aku tadi dengar kalau di kelas sebelah ada anak yang tidak pernah masuk sekolah dengan tanpa adanya keterangan, nama anak itu kalau gak salah Andin" jawab Alisa.


"Sebentar-sebentar gak ada keterangan kayak gimana?" tanya ku.


"Gak ada keterangan gitu aja, dia itu udah lama gak masuk sekolah tanpa ada satupun orang yang tau dia pergi kemana, apa dia sakit atau izin kek gak ada yang tau" jawab Alisa.


"Cukup mencurigakan" kata ku.


"Nah itu mangkanya aku cepat-cepat datang ke sini buat ngasih tau kalian tentang hal ini, aku rasa dia itu gadis pucat yang selalu ngikutin kita, karena kan dia pasti gak masuk sekolah" kata Alisa.


"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Angkasa.


"Karena tadi ada teman-teman sekelasnya yang masuk ke dalam kelas aku, mereka cuman ngambil absensi, katanya sih di suruh sama bu Riska, tapi masih belum di ketahui kebenarannya" jawab Alisa.


"Buat apa teman-teman sekelasnya ngambil absensi, masa iya di suruh bu Riska, kok aku gak percaya ya" kata Reno.


"Itu masalahnya, mangkanya aku mau rembukan pada kalian tentang hal ini" jawab Alisa.


"Teman-teman sekelas Adin yang udah ngambil absensi itu jumlahnya berapa banyak?" tanya Reno.


"Kalau gak salah sekitaran 5-6 gitu" jawab Alisa.


"Kok aku merasa curiga deh sama mereka" kata ku.


"Gimana apa kalian selidiki saja mereka biar jelas?" tanya Angkasa.


"Itu harus, ayo kita selidiki mereka, kamu tau kan sa seperti apa mereka?" tanya ku


"Iya aku tau, ayo kita mulai selidiki mereka" jawab Alisa.


Kami berjalan mengikuti Alisa dari belakang.


Aku menoleh ke samping kanan, tiba-tiba tatapan mata ku menangkap gadis pucat yang di dekat pohon yang tidak terlalu jauh dari posisi ku berdiri.


"Itu bukannya gadis pucat" kata ku yang mengenali gadis pucat itu meski aku masih belum tau dia kelas berapa dan kenapa dia bisa meninggal dunia.


"Mana?" tanya mereka langsung berhenti.


"Itu, di bawah pohon" jawab ku.