
"Loh kenapa aku baik loh udah mau mengambil kembali pisau ini kepada kamu malah berekspresi seperti itu" kata Dela.
"Del ku mohon bantu aku, aku masih mau hidup jangan bunuh aku, aku tak akan ngasih tau siapapun aku mohon" tintah mbk Hilda.
"Tidak bisa kau harus mati tak ada perdebatan lagi ayo matilah cepat atau ku sayat lagi?" tanya Dela.
Vroom
Vroom
"Gawat itu suara kendaraan kalau ada yang melihat aku gimana aku harus cari tempat yang aman" batin Dela panik.
"Ayo jalan" kata Dela.
Dela menarik mbk Hilda untuk masuk ke dalam hutan.
"Akkkkhh sakit Dela aku mohon lepaskan aku huhu" tangis mbk Hilda.
"No tak akan aku bodoh melepaskan mu Hilda ayo cepat jalan" jawab Dela.
Dengan tertatih-tatih mbk Hilda berjalan tangannya terus saja di tarik paksa oleh Dela.
Vroom
Vroom
"Gawat suara kendaraan itu sepertinya akan masuk ke dalam desa ini gimana ini Hilda terus saja berteriak-teriak begini bisa-bisa aku akan tertangkap oleh mereka aku tidak mau hal itu terjadi" batin Dela.
Dela mengeluarkan tali ia mengikat tangan dan kaki serta leher mbk Hilda.
Mbk Hilda memberontak membuat Dela kembali menusukkan pisau tajamnya itu.
"Akkkkh" pekik mbk Hilda.
"Diam kenapa kau tidak bisa diam sama sekali" marah Dela.
Dela mengeluarkan lakban ia menutup mulut mbk Hilda dengan itu.
"Nah kan sudah aman aku harus kemanakan Hilda tak mungkin aku biarkan dia berada di sini terus" batin Dela.
"Cangkul kenapa ada cangkul di sini apakah ini ada bantuan alam untuk ku karena aku sudah melakukan tindakan gila ini ku rasa iya wah aku mendapatkan pertolongan ini aku harus segera mengunakan cangkul ini dengan baik dan benar ya kan Hilda" kata Dela.
Mbk Hilda menggeleng kuat.
"Jangan Dela jangan bunuh aku, aku mohon lepaskan aku, aku tidak mau mati hiks hiks hiks" batin mbk Hilda menangis.
Dela dengan kekuatan penuh menggali tanah dengan cangkul itu.
"Apa yang mau Dela lakukan kenapa dia menggali tanah" batin mbk Hilda.
Tanah yang Dela gali semakin dalam saja.
"Apa yang mau Dela lakukan kenapa perasaan aku makin gak enak gini" batin mbk Hilda.
Tanah terus saja di gali oleh Dela.
"Sudah cukup kayaknya ini tak apalah kuburan mu sempit ya kan" kata Dela tersenyum menyeringai.
"Apa Dela mau menguburkan ku aku tak mau aku harus bisa pergi dari sini" batin mbk Hilda.
Mbk Hilda berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Mau ngapain mau kabur gak akan bisa sudahlah terima nasib mati di tangan ku" kata Dela.
"Aku tidak mau aku masih hidup aku pasti bisa pergi dari sini" batin mbk Hilda berusaha melepaskan tali itu.
"Di bilangin bandel kamu ini tapi kamu kuat juga sudah 2 kali loh aku membacok mu biasanya satu kali saja sudah tak akan bisa bergerak lagi kayaknya bakalan lama aku menunggu kamu mati lebih baik kamu menghembusakan nafas terakhir di dalam tanah saja lebih seru bukan" kata Dela.
"Tidak tidak tidak kamu jangan lakuin itu Dela aku masih mau hidup lepaskan aku" batin mbk Hilda.
"Ayo aku akan antarkan kamu menemui malaikat Munkar dan Nakir mereka itu baik loh yuk buruan jalan" kata Dela menyeret mbk Hilda.
"Aku gak mau aku mau hidup aku tidak mau mati huhu" batin mbk Hilda.
Mbk Hilda menangis tak bersuara saat tanah itu terus saja berjatuhan menimpa tubuhnya.
"Hiks hiks ibu tolong aku huhu" tangis mbk Hilda.
"Aduh aku melupakan sesuatu aku harus membuka lakban mu biar kau tau ada apa di dalam tanah nanti infokan pada ku ya" kata Dela membuka lakban itu.
"Tolong jangan lakukan ini pada ku Dela" tintah mbk Hilda.
Dela tuli ia kembali menutup mbk Hilda dengan tanah.
Tanah itu menutup total tubuh mbk Hilda.
"Nah kan kalau seperti ini aku bisa bebas tidak lagi memikirkan kalau apa yang aku lakukan akan ketahuan haha" tawa Dela.
"Hei Hilda baik-baik di dalam ya" teriak Dela lalu meninggalkan hutan itu.
Di dalam tanah mbk Hilda merasakan sesak akibat tak ada oksigen yang bisa di hidupnya pelan-pelan sesak di dada itu terus saja terasa.
"Ya Allah tolong hamba" batin mbk hilda.
Gelap itu yang di rasakan mbk Hilda saat ini ia tak dapat melihat apapun.
Beberapa saat kemudian mata mbk Hilda terbuka ia naik ke atas tanah.
"Aku bebas aku bebas" kata mbk Hilda.
Senyuman terukir di wajah mbk Hilda.
"Aku harus temui ibu aku harus minta dia buat tangkap Dela tak akan aku biarkan Dela melakukan kejahatan lagi" kata mbk Hilda.
Dengan semangat yang berkobar mbk Hilda berlari menuju rumahnya kembali.
"Ibu" panggil mbk Hilda.
"Ibu aku pulang" kata mbk Hilda lagi.
Senyuman yang mengambang di wajah mbk Hilda berangsur-angsur menghilang.
"Kenapa ibu seperti tidak melihat ku ada apa ini apa aku sudah meninggal tak mungkin aku yakin aku masih hidup aku tidak mungkin mati aku harus buat ibu bisa lihat aku" kata mbk Hilda.
"Ibu aku di sini ibu lihat aku kan?" tanya mbk Hilda.
Tak ada jawaban yang keluar.
"Ibu aku di sini lihat aku Bu dan katakan kalau aku masih hidup aku mohon Bu" kata mbk Hilda.
Tidak ada reaksi itu yang terjadi.
"Ibu aku di sini ibu lihat aku dan katakan kalau aku masih hidup usaha Dela untuk menghabisi ku gagal tolong katakan itu ibu aku mohon" kata mbk Hilda di serang rasa panik.
Tak ada tanggapan.
Setetes air mata mengalir di pipi mbk Hilda.
"Ada apa dengan ku apa yang sudah terjadi aku masih hidup aku tidak aku masih hidup Dela gagal membunuh ku huhu" tangis mbk Hilda.
Dengan tangan yang gemetaran mbk Hilda mengarahkan tangannya untuk menyentuh tubuh Bu Lina.
Mbk Hilda berusaha memegang tubuh Bu Lina namun tak bisa ia tak dapat memegangnya.
"Hiks hiks hiks tak mungkin aku mati tak mungkin ibu tolongin aku katakan kalau ini semua cuman mimpi semata aku mohon Bu aku tidak mau berpisah dengan ibu aku mohon" tangis mbk Hilda.
"Ibu aku mohon pada mu lihat lah aku katakan kau bisa melihat ku aku mohon pada mu" kata mbk Hilda.
Tangisan mbk Hilda begitu nyaring namun tidak ada orang yang bisa mendengarnya.
"Aku harus datangin Dela aku harus buat di berada di dalam penjara tak akan aku biarkan dia hidup bebas setelah berhasil membunuh ku" kata mbk Hilda tak terima.
Mbk Hilda berjalan menuju kos-kosan Dela.