
"Anak kecil berani sekali, aku akan buat kalian berdua pergi selamanya dari muka bumi ini" kata Ki Suryo.
Ki Suryo mengangkat tongkat kayu berkepala naga itu, mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Ketika tongkat itu hendak mendarat di kepala ku, dengan cepat aku langsung menutup mata.
"Aku tidak akan biarkan dia menyakiti Aliza" batin Angkasa.
Angkasa menepis tongkat itu hingga terlempar jauh dari posisi kami berdiri.
Seketika tornado besar itu menghilang, pasukan Gaibah dan para korban-korban Ki Surya berjatuhan ke tanah.
"Aduh, sakit sekali" pekik mbk Hilda memegang punggungnya yang sakit akibat terjatuh.
"Beraninya kau menghentikan usaha ku" teriak Ki Suryo.
Wajah Ki Suryo seperti bom yang hendak meledak, matanya melototi kami dengan tajam.
"APA mau adu mekanik" kata Alisa juga melotot tajam ke arah Ki Suryo.
"Bocah tengil sudah berani berkata seperti itu sama orang tua, memang seharusnya kau itu mati saja, aku akan membuat mu menyusul kakek mu itu" jawab Ki Suryo.
Saat Ki Suryo sedang lengah aku langsung mengambil tongkat itu.
Aku yang saat ini penuhi kemarahan dan rasa muak akan apa yang ki Suryo lakukan berdiri dengan tongkat sakti di tanganku.
"Berhenti atau ku musnahkan kau" ancam ku.
"Sialan, kenapa bocah kecil ini berani menggertak ku, huft aku harus berusaha menanggapi bocah ini dengan setenang mungkin" batin Ki Suryo.
"Apa yang akan kau lakukan hah" tawa Ki Suryo terbahak-bahak.
Aku yang sudah geram tak akan tinggal diam lagi, aku menghentak-hentakkan tongkat kayu berkepala naga ke tanah.
"Wahai tongkat sakti musnahkan Ki Suryo" teriak ku.
Tubuh Ki Suryo masih baik-baik saja, tak ada perubahan apapun.
"Kok gak musnah, aku kan ingin memusnahkan Ki Suryo, tapi kenapa Ki Suryo masihbaik-baik saja, tak terluka walau sedikitpun, gak bener nih tongkat, rusak apa ya" pikir ku.
"Hahaha kamu tak akan bisa menggunakan tongkat itu, karena tongkat itu hanya milikku dan hanya aku yang bisa menggunakannya, percuma kau mendapatkannya karena kau juga tidak akan bisa menggunakannya" kata Ki Suryo.
Aku mendengus kesal.
"Kembalikan lah tongkat itu padaku, kau juga tak akan bisa menggunakan tongkat sakti itu" tintah Ki Suryo.
"Jangan Aliza" teriak para pasukan Gaibah.
Aku memberikan kode melalui telapak tangan yang mengisyaratkan jika aku tak akan menyerahkan tongkat itu.
"Jika memang aku tidak bisa menggunakan tongkat ini, maka kau juga tak boleh menggunakannya" tegas ku lalu mematahkan tingkat itu dengan sekuat tenaga.
Krakk
Tongkat itu patah menjadi dua bagian.
"Tidakkkk" teriak Ki Suryo.
Asap hitam keluar dari tubuh Ki Suryo, Ki Suryo meraung, berteriak-teriak tak jelas dan satu persatu pengikut Ki Suryo menjadi abu.
Ki Suryo terduduk di bawah ia memegangi kepalanya yang sakit, Ki Suryo mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Aneh, kenapa Ki Suryo berubah menjadi seperti ini saat tongkat itu telah di patahkan oleh mu?" tanya Alisa.
"Kelemahan Ki Suryo ada pada tongkat itu" jawab Tiger.
Tubuh Tiger sudah kembali normal seperti sedia kala.
"Benar Alisa, kelamaan Suryo ada pada tongkat itu, dia seperti ini karena kehilangan ilmu hitamnya" kata kakek Denso.
"Cepatlah kalian pergi dari sini" kata para pasukan Gaibah kemudian menghilang setelah tugas mereka selesai.
Ki Suryo terus saja bernyanyi dengan suara keras, ia berteriak-teriak tak jelas yang membuat kami semua terganggu dengan ulahnya.
"Kita bawa aja Ki Suryo ke rumah sakit jiwa, kita tak punya cara lain selain membawa Ki Suryo yang sudah menjadi gila ke sana, masa kita bawa pulang ke rumah, kan gak mungkin" jawab Alisa.
"Eh Ki Suryo punya istri atau anak gak sih, jika ada anak atau istrinya kita serahkan aja Ki Suryo mereka?" tanya Angkasa.
"Enggak punya kayaknya, waktu itu aku yang ke sana gak ketemu sama anak dan istrinya" jawab Reno.
"Bujang lapuk dong, tak nyangka jika dukun yang aku benci ternyata tak mempunyai seorang istri di hidupnya" kata Alisa.
"Kita bawa dulu Ki Suryo ke kantor pak kades, nanti tentang apa dan gimananya biar beliau yang memutuskan, Ki Suryo kan warga di desa ini, kita tidak akan bisa semena-mena untuk memasukkan Ki Suryo ke rumah sakit jiwa tanpa izin dari sang kepala desa" usul ku.
"Sebelum itu kita bakar aja tongkat itu, takutnya nanti ada yang mengambilnya dan malah menjadi pengganti Ki Suryo untuk menyesatkan manusia lagi" saran Angkasa.
"Kamu bawa korek api gak?" tanya ku.
"Aku gak ngerokok, minta sama Reno sana" jawab Angkasa.
Mata Alisa langsung membulat sempurna kala mendengar jawaban Angkasa.
"Kamu NGEROKOK" kaget Alisa.
"Aku akan berhenti" jawab Reno dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Awas sampai aku tau kamu ngerokok, aku gak mau bicara sama kamu lagi" ancam Alisa.
"Iya, gak akan kok, sini za" tintah Reno.
Aku memberikan tongkat itu lalu Reno membakar habis tongkat itu.
"Reno" panggil mbk Reni.
"Mbk Reni" kata Alisa menatap iba ke arah mbk Reni yang sepertinya begitu merindukan Reno.
"Mbk Reni, apa mbk Reni ada di sini, di mana dia, aku ingin bertemu dengannya, ku mohon" keinginan Reno.
"Iya, di sini ada mbk Reni" jawab Alisa.
Reno melihat sekelilingnya namun ia tak menemukan mbk Reni, mendadak wajahnya menjadi sedih.
Aku melirik Angkasa.
"Sa kamu punya cara untuk mempertemukan mereka gak, selama ini aku tak pernah mempertemukan dua orang dalam dunia yang berbeda, apa kamu tau caranya?" tanya ku.
"Aku cuma dengar aja, tapi aku gak tau apa akan bisa atau tidaknya" jawab Angkasa.
"Gimana-gimana caranya, aku akan berusaha kok untuk mempertemukan dua makhluk yang berbeda alam sebisa aku?" tanya ku.
"Gini caranya, kamu pengang tangan mbk Reni lalu kamu pegang juga tangan Reno, syaratnya cuma satu, yaitu kamu harus ekstra konsentrasi untuk mempertemukan mereka berdua, tapi aku gak tau apakah itu akan berhasil atau tidak, karena aku belum pernah mencobanya, aku hanya tau dari buku cerita doang" jawab Angkasa.
"Oke aku coba dulu, hasilnya itu apa kata nanti, yang penting aku sudah mencoba, walau pada akhirnya aku tidak bisa mempertemukan keduanya" kata ku.
Aku menarik nafas.
"Bismillah bisa" kata ku.
Aku memegang telapak tangan mbk Reni lalu tangan Reno, aku memejamkan mata agar lebih berkonsentrasi untuk mempertemukan mereka berdua.
Aku terus saja berusaha berkonsentrasi penuh hingga keringat-keringat keluar membasahi dahi ku, rasa letih memang terasa tetapi aku tak menyerah sebelum mereka bisa bersitatap.
"Mbk Reni" kata Reno.
Akhirnya usaha ku membuahkan hasil, aku membuka mata setelah cukup lama aku menutupnya.
"Ren" jawab mbk Reni.
Mbk Reni langsung memeluk adiknya dalam satu tangannya yang di pegang oleh erat oleh ku.
Reno membalas pelukan sang kakak tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia begitu merindukan sosok Reni di hidupnya, keduanya saling berpelukan dan larut dalam tangisan masing-masing.