The Indigo Twins

The Indigo Twins
Pamitan



"Iya lamar-lamar aja, tapi aku gak mau nungguin kamu balik, aku mau nikah, gak mau menunggu orang yang belum tentu akan kembali atau tidak" kata Alisa.


"Emang kamu mau nikah sama siapa? emang ada yang mau apa" remeh Dava yang menganggap tak akan ada orang yang mau dengan Alisa.


"Eeh jangan salah, saya ini syantik banyak kok yang mau, tinggal pilih aja" kata Alisa tak terima Dava meremehkan dirinya.


Dava terkekeh geli melihat Alisa yang begitu percaya diri.


"Iya deh nona muda kedua" jawab Dava.


Dava tak bisa melawan Alisa, dia tak akan bisa menang dengan gadis itu yang memang jago dalam berdebat.


"Ihh kok kedua sih, pertama dong" kata Alisa.


"Iya nona pertama dan terakhir" kata Dava menuruti.


Mereka berdua saling bercengkrama, tukar cerita, dan tertawa lepas untuk yang terakhir kalinya, entah mereka akan bertemu kembali atau tidak tak akan ada yang tau, semuanya hanya takdir yang menentukan.


Dava menatap wajah Alisa terus-menerus, karena setelah ini ia tak akan bisa melihat wajah gadis yang di cintainya, Dava tak tau apakah dia akan kembali ke negara ini atau tidak sama sekali.


Di sela tawa bahagia mereka, Dava mengusap air sebening embun di sudut matanya yang sedikit mengalir.


Antara bahagia atau tidaknya Dava tak tau, iya memang bahagia bisa berkumpul kembali dengan ayahnya yang sudah lama di sekap, tapi dia juga sedih karena hari ini dia tak akan bisa melihat wajah cantik Alisa lagi.


"Sa jika kita harus berpisah dengan cara ini aku ikhlas dan semoga perpisahan ini cuma sementara, Alisa jika memang kau yang Allah takdir ku untuk ku, maka sejauh apapun aku pergi, aku pasti akan kembali dan jika memang engkau bukan untuk ku, ya aku tak bisa apa-apa, semuanya sudah menjadi ketetapan yang di atas, segalanya akan terjawab dengan seiring berjalannya waktu, tapi aku janji, aku akan tetap kembali ke sini lagi" batin Dava.


Perpisahan ini tak pernah terbayang di pikiran Dava, ia tak menyangka jika pertemuannya dengan Alisa begitu singkat namun berhasil menciptakan kenang-kenangan yang tak akan bisa untuk di lupakan.


"Sa nanti jika kita berjodoh, kita pasti akan bertemu juga kok" kata Dava dengan sangat serius.


"Santai brader, semuanya sudah ada jalannya masing-masing" jawab Alisa dengan senyuman manisnya, kini ia akan kehilangan orang yang paling menyebalkan di hidupnya.


Dava membalas senyuman Alisa, ia tau kalau semuanya sudah di atur, cepat atau lambat jika dia memang berjodoh dengan Alisa mereka akan bertemu juga.


Obrolan mereka di hentikan saat melihat seorang guru masuk ke dalam kelas.


Pelajaran di mulai dengan sangat baik.


Hari ini adalah hari terakhir Dava belajar di sekolahan SMA kebangsaan yang sudah menciptakan segala kenangan dirinya dan juga Alisa.


Saking asyiknya belajar hingga bel istirahatpun mengakhiri segalanya.


Mereka berdua segera mendatangi taman karena Dava ingin berpamitan dengan yang lainnya.


"Hai gais" sapa Alisa saat teman-temannya sudah berada di taman.


Aku membuka kotak bekal, hari ini menunya adalah nasgor makanan kesukaan ku nomer dua setelah bakso.


"Eh gimana kabar ayah kamu dav?" tanya Angkasa sampai melupakan Dava dan juga om Devan setelah insiden aku terluka, berhari-hari ia tak bertemu dan tak tau kabar selanjutnya tentang om Devan.


"Baik kok, btw terimakasih sudah mau membantu ku dan juga papa ku, aku ke sini cuman mau pamitan" jawab Dava.


Aku langsung menghentikan makan ku dan menatap Dava dengan tanda tanya.


"Mau kemana emangnya?" tanya ku dan Angkasa kompak.


Dava tersenyum menanggapi wajah-wajah di depannya yang pastinya kaget dengan apa yang barusan di katakannya.


"Aku mau melanjutkan studi di luar negeri, keluarga aku mau menetap di sana, aku gak tau bakal kembali lagi ke sini atau tidak" jawab Dava.


"Buset dah mau pergi juga, gak sekalian pergi kayak mereka yang setelah selesai urusannya hah" kata Angkasa.


Dava terkekeh saat Reno menyamainya dengan makhluk tak kasat mata yang memang pergi setelah segalanya di dunia selesai.


"Bangkek" kata Dava.


"Mau pergi kapan?" tanya ku tak menyangka jika Dava akan pergi setelah ayahnya berhasil di temukan, tapi aku sangat bersyukur jika Dava sudah kembali seperti Dava yang baik seperti dulu.


"Besok, hari ini adalah hari terakhir aku sekolah di sini" jawab Dava.


"Owh gitu, hati-hati di sana, jangan lupain kami" kata ku.


"Gak akan kok" jawab Dava.


"Syukurlah anak itu pergi, kalau dia masih ada di sini, Alisa akan menjadi miliknya, untung aja takdir berpihak pada ku kali ini, kalau tidak aku yang akan menangis darah nantinya" batin Reno senang dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Untung dia pergi sendiri, aku kan gak usah repot-repot buat menyingkirkan dia dari hidup Alisa, kemarin-kemarin aku sampai bingung karena tuh anak terus nempel di dekat Alisa, aku kan panas jadinya" batin Reno sangat senang saat tau kalau musuhnya akan pergi.


"Kamu sering-sering nelpon biar tidak pergi seperti di telan bumi" kata Alisa.


"Iya aku akan tetap hubungi kalian, nanti setelah lulus aku pasti akan kembali ke sini lagi buat nemuin kalian" jawab Dava.


"Waduh lama bener, kita aja masih kelas 1, sekitar 3 tahun lagi kita akan ketemu kembali, bisa-bisa aku keburu mati lagi" kata Angkasa.


"Hei mulut" kata ku menatap tajam ke arahnya.


"Becanda doang, jangan di anggap serius" jawab Angkasa.


"Dasar kamu ini" kata ku.


Dava terkekeh melihat wajah Angkasa yang sangat tertekan.


"Awas kamu gak boleh nakal lagi saat berada di sana" kata Alisa.


"Iya ibu Negera, hal itu tak akan terjadi lagi kok, kamu gak usah khawatir" jawab Dava.


Hari ini adalah hari terakhir kalinya kami bertemu dengan Dava.


Kami semua asyik bercanda untuk yang terakhir kalinya bersama Dava, entah pemuda itu akan kembali atau tidaknya, kami akan selalu teringat dengan segalanya yang sudah terjadi, kini persahabatan kami akan terus berjalan meski hanya bisa berkomunikasi melalui perkembangan teknologi saja.


Agar terus mengingat Dava kami mengambil foto untuk di jadikan sebagai kenang-kenangan terindah yang akan terus di ingat untuk selamanya.


Kami semua asyik ber-selfie, semuanya akan menjadi kenang-kenangan terindah di hidup kami nantinya.


Bel masuk berbunyi.


Kami membubarkan diri dari taman dan menuju kelas masing-masing.