
Kami sampai di rumah pak Jefri, di sana sudah ada banyak warga yang memenuhi rumah pak Jefri.
Aku mencari-cari keberadaan Angkasa dan Ustadz Fahri di tengah banyaknya warga yang berdatangan dan berlalu lalang.
"Di mana Angkasa sama Ustadz Fahri, kenapa pada gak ada di sini?"
Aku celingukan mencari keberadaan mereka.
"Itu mereka" tunjuk Alisa ke arah mereka yang berada di paling belakang yang agak menjauh dari keramaian.
"Ayo kita ke sana" ajak Reno.
Kami bertiga berlari mendekati mereka.
"Kamu gak apa-apa kan, gak ada yang luka kan?" khawatir Angkasa dengan menangkup pipi ku yang membuat ku tercengang dengan sikapnya.
"Enggak, aku gak apa-apa, gak ada luka apapun kok, kamu gak usah khawatir"
Reno dan Ustadz Fahri memalingkan wajah melihat itu semua.
"Aduh kenapa Angkasa pake begini, kalau dia baper gimana" batin Reno melihat ke atas pohon untuk mengalihkan pandangannya.
"Kalian berhasil kan yang cari tau?"
Mereka bertiga menggeleng kompak.
"Enggak, kita gak sempat nyari tau pak Jarwo karena pak Jefri meninggal, ceritanya nanti malam kami akan cari tau tentang pak Jarwo" jawab Angkasa.
"Tak kirain kalian udah pada dapat bukti kalau pak Jarwo yang udah bikin restoran ancur" kecewa Alisa.
"Kita gak sempat cari tau sa, karena pak Jefri itu meninggal tepat di hadapan kita, mana mungkin kita biarkan beliau yang sudah meninggal dunia begitu aja, kita urus dia dulu, kasihan kan dia" jawab Reno yang di balas deheman sama Alisa
"Oh ya kalian udah berhasil nyari tau tentang Dodo?" kami mengerutkan alis mendengar ucapan Angkasa.
"DODO, Dodo siapa?" kompak kami yang merasa asing dengan nama itu.
"Itu loh anak tukang dodol yang jualan di depan sekolah, kalian udah pada tau kan dia kenapa dia beberapa hari ini gak sekolah?" kami makin ternganga mendengar jawaban Angkasa, karena pasalnya di depan sekolah tidak ada yang jualan dodol.
Angkasa memberikan kode melalui matanya.
Kami melihat ke samping kiri yang ternyata ada pak Tejo, kami langsung paham apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Iya, ternyata bapaknya Dodo itu sakit kanker, mangkanya dia gak masuk beberapa hari ini karena ngurusin bapaknya, malah ibunya udah meninggal lagi, gak kebayang deh betapa sedihnya Dodo saat ini" jawab Alisa.
"Kita harus jenguk bapaknya Dodo, kita gak bisa diamin dia gitu aja, masa kita sebagai temannya gak punya rasa kemanusiaan" usul Reno.
"Itu harus ren, kita harus bisa jenguk bapaknya Dodo, walaupun rumah dia itu jauh dari peradaban"
"Iya aku setuju, walaupun perjalanan ke sana harus melewati gunung, melewati lembah, tapi gak masalah, kita pasti bisa jenguk dia" tambah Alisa dengan melirik ke arah Tejo dengan kesalnya.
"Kita mau jenguk dia kapan?" pertanyaan itu di ajukan oleh Reno.
"Besok aja sehabis pulang sekolah, nanti kita beri tau bunda dulu kalau bapaknya si Dodo sakit keras, biar bunda bisa tau dan gak cemas kalau kita gak pulang ke rumah" jawab Alisa.
Ustadz Fahri sedari tadi berusaha menahan tawanya, apa yang kami bicarakan ini benar-benar sangat bertolak belakang namun saling berhubungan dengan masalah restoran.
"Efek membicarakan orang di depan orangnya" batin Ustadz Fahri tergelak.
Alisa melihat pak Tejo yang sudah pergi dari sana.
"Emang bener pak Tejo yang sudah bikin restoran hancur?" Reno memastikan hal itu kembali dengan suara yang sepelan mungkin agar tidak ada orang yang mendengarnya, tempat yang kami diami memang agak sedikit jauh dari warga, jadi kami masih tenang kalau membahas hal itu.
"Iya, dia yang sudah bikin restoran ancur, aku udah berhasil rekam pengakuan dia, kita hanya tinggal kasih rekaman ini ke polisi, biar dia di tahan" jawab Alisa.
"Kita jangan bahas hal ini di sini, mata-mata ada di mana-mana, kita harus waspada, jangan sampai ada orang yang dengar dan bilang pada orang yang bersangkutan" larang Ustadz Fahri.
Kami semua mengangguk kompak, karena di sekeliling kami banyak warga, di antara banyaknya warga yang di sini, kami tidak ada yang tau mana warga yang berpihak pada pak Jarwo dan mana yang tidak.
"Pak RT kuburan sudah selesai di gali" pak Rahmat memberitahukan hal itu pada pak RT.
"Iya pak, saya akan beri tau pada pihak keluarganya" pak Rahmat mengangguk, pak RT mendekati bu Warda selaku orang yang di tinggalkan oleh pak Jefri.
"Bu Warda kuburan sudah selesai di gali, jenazah pak Jefri harus segera di makamin bu" bu Warda menatap ke arah pak RT dengan mata yang di aliri air.
"Tidak pak RT, suami saya masih hidup, dia belum meninggal, pak kenapa bapak secepat ini ninggalin ibu huhu" isakan tangis bu Warda yang tak rela kehilangan pak Jefri.
"Warda kasihan Jefri, dia sudah berpulang ndok, kamu harus bisa ikhlasin dia" Risma nenek bu Warda berusaha menenangkan bu Warda yang tengah kehilangan pak Jefri.
Bu Warda hanya terus menangis, ia tidak bisa berkata-kata lagi, ia sungguh tidak menyangka suaminya akan meninggal secepatnya ini.
"Pak RT tolong urus jenazah Jefri" suruh nek Risma.
Pak RT mengangguk, kemudian pak RT bersama dengan warga-warga lainnya mulai memandikan jenazah pak Jefri meski bu Warda melarang, ia hanya tidak menyangka jika suaminya berpulang secepat ini.
Setelah selesai di mandikan, di kafani dan juga di sholatkan, jenazah pak Jefri di antar ke pemakaman umum yang ada di desa.
Aku dan Alisa berjalan mengikuti Ustadz Fahri dari belakang yang mau mengantarkan jenazah pak Jefri ke pemakaman umum.
"Jangan ikut ke kuburan" larang Ustadz Fahri yang membuat kami mengerutkan alis.
"Kenapa tadz?" penasaran Alisa.
"Gak apa-apa cuman lebih baik kalian pulang aja, tunggu kami di sana, sebentar lagi kami akan nyussu kalian" jawab Ustadz Fahri.
"Ya udah deh tadz kami akan pulang dulu, tapi jangan lama-lama ya tadz"
"Iya, saya dan yang lain gak akan lama, sekarang kalian pulang, hati-hati ya" perintah Ustadz Fahri.
"Baik tadz, ayo sa kita pulang, kita tunggu mereka saja di rumah"
Alisa mengangguk lalu kami berdua pulang ke rumah dengan terburu-buru.
Kami berpisah dengan rombongan pengiring jenazah di jalanan yang saling berlawanan, mereka berjalan ke sebelah timur, sedangkan kami ke sebelah barat.