
Di dalam rumah sakit.
Roy kembali teringat pada Andin, semua kenangannya bersama Andin kembali berputar iba-tiba dadanya terasa sesak.
Roy memenangi dadanya, ia kesulitan untuk bernapas.
"A-air" lirih Roy.
Roy melihat ke arah gelas yang berisikan air yang berada di atas nakas.
Ia dengan sekuat tenaga berusaha meraih gelas itu.
Craangg!
Gelas itu hancur berkeping-keping.
"Arrrrgghh"
Teriak Roy yang merasakan sakit di dadanya dan juga di kepalanya.
Alisa yang baru kembali dari toko bunga terkejut saat melihat Roy yang kesakitan sehingga ia menjatuhkan buket mawar putih yang ke bawah, ia langsung mendekati Roy.
"Roy kamu kenapa, ada apa yang terjadi?" panik Alisa.
"Arrrrgghh sakit sa" teriak Roy yang terus berusaha menahan rasa sakit itu.
Alisa yang sudah panik langsung berteriak nama dokter.
"Dokter, dokter tolong Roy"
"Dokter"
Teriak Alisa berulang kali ia sungguh panik saat melihat wajah Roy yang pucat pasi dan saat ini tengah kesakitan.
"Dokter, dokter cepat tolong Roy" teriak Alisa lagi.
Roy susah untuk napas, ia terus memegangi dadanya.
tit
tit
tiiiiiiit
Detak jantung Alisa seakan berhenti saat mendengar suara alat itu yang berbunyi.
"Roy" teriak Alisa yang melihat Roy tak lagi bergerak seperti tadi.
Setetes air mata jatuh di pipi Alisa.
"Royy"
"Roy bangun Roy, Roy jangan tinggalin aku"
"Dokter tolong Roy"
Dokter yang mendengar teriakan Alisa langsung masuk ke dalam kamar Roy.
"Dokter cepat tolong Roy" tintah Alisa yang cemas.
Tanpa menjawab dokter langsung mengecek keadaan Roy.
Alisa terus menangis ia gemetaran takut ada apa-apa pada Roy.
"R-roy b-baik-baik saja kan dok?"
"Innalilahi wa innalilahi roji'un, pasien tidak dapat kami selamatkan"
DEG!
Hancur rasanya hati Alisa saat mendengar kalimat itu.
"Enggakkkk"
"Roy kamu jangan tinggalin aku, bangun Roy, bangun, kamu jangan pergii"
Teriak Alisa dengan terus menggoyangkan tubuh Roy yang sudah tidak bergerak lagi.
Tangisan Alisa memenuhi ruangan perawatan ini.
"Roy bangun, jangan pergi Roy, kenapa kamu ninggalin aku huhu, aku mohon jangan pergi"
"Adek yang sabar, kami akan pindahkan jenazah ke kamar mayat"
"Enggakkkk, Roy masih hidup, jangan seenak kamu mau mindahin Roy ke kamar mayat" teriak Alisa yang menolak mentah-mentah suster itu yang akan berniat memindahkan Roy ke kamar mayat.
Suster itu langsung diam.
"Roy bangun, kamu bangun, kamu jangan tinggalin aku" tangis Alisa namun Roy tetap tak bergerak, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam diri Roy.
"Sudah tinggalkan dia dulu, berikan waktu untuknya bersama jenazah" suster itu mengangguk lalu keluar dari dalam kamar Roy dan menyisahkan mereka berdua.
"Roy kamu jahat, kamu jahat, kenapa kamu ninggalin aku huhu"
Tangis Alisa yang tak menyangka akan kehilangan Roy juga, ia sudah sangat senang karena memiliki teman lagi di kelasnya namun siapa sangka takdir kembali membuatnya terluka.
Alisa menangis dengan memeluk Roy, ia sungguh tak menyangka hal ini akan terjadi.
"Roy bangun" tintah Alisa lirih.
Tak ada pergerakan dari diri Roy, Roy benar-benar telah pergi untuk selamanya.
"Aliza, aku harus telpon Aliza" Alisa menyeka air mata yang terus mengalir dan berlari mendekati sofa untuk mengambil ponselnya.
tutt
tutt
tutt
"Ayo angkat za, Aliza plis angkat" mohon Alisa yang terus menangis.
tutt
tutt
"Reno, aku harus telpon dia"
Alisa beralih menelpon Reno.
tutt
tutt
tutt
"Ayo ren angkat, aku mohon angkat, Roy meninggal ren, Roy meninggal, plis kamu angkat" tangis Alisa yang masih tak menyangka hal ini akan terjadi.
tutt
tutt
"Kenapa Reno juga gak ngangkat telpon aku"
"Gimana ini, Roy kenapa kamu pergi, ku mohon jangan pergi" tangis Alisa semakin menjadi saat melihat ke arah Roy.
"Angkasa, aku harus telepon dia juga"
Alisa dengan terburu-buru menghubungi Angkasa.
tutt
tutt
tutt
"Ayo sa angkat, hanya kamu harapan aku satu-satunya, aku mohon angkat telpon aku, aku mohon sekali"
Alisa menangis kencang saat panggilan itu tak Angkasa angkat juga.
"Huhu gimana ini, siapa yang harus aku hubungin, mereka harus tau kalau Roy udah gak ada"
Alisa menangis kencang, ia memegangi dadanya yang sesak, ia tak menyangka saat orang yang baru saja ia ajak bicara kini sudah berpulang.
"Roy" lirih Alisa yang terus menitihkan air mata.
"Tante Dewi, aku harus hubungin tante Dewi, dia harus tau hal ini, bagaimanapun dia adalah orang tua Roy" Alisa teringat pada tante Dewi.
Alisa menghubungi tante Dewi.
Sekali dua kali panggilan itu tak di angkat-angkat, namun Alisa tidak menyerah ia terus menelpon tante Dewi.
"Ayo tante angkat, Alisa mohon"
Alisa tak tenang, ia terus berharap semoga tante Dewi mengangkat telpon itu.
"Ada apa, kenapa kamu terus hubungin mama, mama itu lagi sibuk, kamu ganggu aja" marah tante Dewi di seberang telepon.
"Maaf tante ini Alisa"
"Alisa, Alisa siapa, kenapa hp anak saya ada sama kamu, kamu siapanya?"
"Saya temennya tante, Alisa cuman mau bilang kalau Roy meninggal" tak kuasa Alisa saat memberitahu kenyataan itu, ia memegangi dadanya yang sesak sekali.
"APA"
"Kamu jangan bohong, dia gak mungkin meninggal, kamu jangan coba-coba nipu saya"
"Enggak tante, Alisa gak bohong, Alisa beneran, Roy baru menghembuskan napas di rumah sakit beberapa menit yang lalu, karena semalem Roy kecelakaan tante"
Di seberang telpon tante Dewi sangat terkejut ketika tau jika banyaknya panggilan dari Roy karena hal ini.
"Tante Alisa mohon datang ke sini, Alisa mohon sekali tante" tintah Alisa dengan terus menangis.
"Roy ada di rumah sakit mana, cepat share lock"
"Baik tante" Alisa melakukan apa yang tante Dewi inginkan.
Alisa menangis kencang dengan memukul tembok karena tak sanggup kehilangan Roy.
Alisa kembali melihat ke arah Roy yang kini menjadi dua.
Alisa menutup mulut tak percaya, ia langsung berlari mendekati Roy.
"Roy kenapa kamu ninggalin aku" tangis Alisa yang sungguh tak rela berpisah dengan Roy.
Roy hanya tersenyum."Maaf sa aku udah gak kuat lagi, aku gak bisa nahan rasa sakit itu, sebenernya aku masih ingin hidup, tapi takdir gak berpihak pada ku"
Alisa semakin mengeraskan tangisannya.
"Kamu jahat, kamu jahat, aku benci sama kamu" Alisa memukul dada Roy dengan bertubi-tubi.
"Maafin aku, aku sungguh minta maaf"
Alisa terduduk di bawah, ia menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri sedangkan Roy masih berada di dekat Alisa.
"Roy, kamu tega, kamu jahat, aku benci sama kamu"
Alisa terus menangis, ia akan kembali kesepian karena tidak ada Roy yang akan mengganggunya lagi.
"Huhuhu Roy"
"Sa maafin aku"
Alisa melihat ke arah Roy, namun Roy tidak lagi sendirian, karena ada Elfa dan juga Andin yang berada di depannya.
"Pergi, pergi kalian dari sini" teriak Alisa kembali memeluk tubuhnya, ia tidak mau melihat mereka lagi.
"Alisa" panggil Roy.
"Udah Roy, dia lagi butuh sendiri, ayo kita keluar saja" ajak Andin.
Roy mengangguk lalu keluar dari dalam kamar ini meninggalkan Alisa bersama raganya.
Alisa menangis sekencang-kencangnya ketika mereka pergi dari kamar ini.
"Huhuhu bunda, Roy jahat bunda, bunda tolong hukum dia"
Tangis Alisa yang tak menyangka hal ini akan terjadi, baru beberapa bulan yang lalu ia kehilangan Dava, kini ia harus berpisah dengan Roy untuk selamanya.