
"Bunda sama ayah mau kemana?" aku melihat ayah dan bunda yang keluar dari kamar dengan membawa koper besar.
"Bunda kan sudah bilang kalau kami akan berangkat keluar kota hari ini, masa kamu lupa" jawab bunda.
"Masa sepagi ini bun"
"Iya za, bunda sama ayah harus berangkat ke sana pagi-pagi sekali biar gak macet di jalan" jawab ayah.
"Kalian gak apa-apa kan bunda sama ayah tinggal?" bunda menatap ke arah kami semua.
"Gak apa-apa kok bun, bunda sama ayah hati-hati ya" jawab Alisa.
"Iya" sahut ayah.
"Bunda nanti kapan-kapan kami boleh ke sana ya?"
"Iya, nanti kalau kalian mau ke sana, hubungi bunda dulu, biar gak dadakan" jawab bunda.
"Siap bun" terbit senyuman di wajah ku karena nantinya aku tidak akan penasaran lagi dengan cabang restoran yang ada di luar kota.
"Bunda sama ayah berangkat dulu, kalian hati-hati di sini, assalamualaikum" salam bunda.
"Wa'alaikum salam" jawab kami kompak.
Ayah dan bunda berangkat keluar kota, kami menatap mobil putih itu yang pergi membawa keduanya.
Aku merasa sedih saat harus kembali berpisah dengan ayah dan bunda.
Angkasa melirik ke arah ku yang tampak manyun."Udah jangan sedih, nanti kita juga akan ke sana kok"
Aku hanya mengangguk saja.
"Nak Aliza, nak Alisa" seorang ibu-ibu datang ke rumah kami dengan tangisan yang mengiringi.
Kami langsung berlari mendekati ibu-ibu itu yang menangis dengan memanggil nama kami, beliau saat ini berada di depan gerbang.
Angkasa membuka gerbang agar bu Retno masuk ke dalam.
"Ibu kenapa, kenapa ibu nangis?" Alisa melihat bu Retno yang terus menangis.
"Nak tolong temuin anak ibu, dia hilang nak" jawab bu Retno.
"HILANG?" kami semua langsung terkejut saat mendengar kalau anaknya bu Retno hilang.
"Iya nak, dia hilang gitu aja saat udah pagi, padahal malemnya dia tidur di samping ibu, tolong temuin dia nak hiks hiks" isakan tangis bu Retno yang sangat khawatir pada anaknya yang tiba-tiba hilang.
"Dilan hilang bu?" terkejut Dita yang mendekati kami, ia kenal sekali dengan bu Retno yang merupakan ibu dari Dilan, teman mainnya.
"Iya Dita, Dilan hilang, ibu sudah cari dia ke seluruh rumah tapi tetap saja dia gak ada, ibu curiga dia di culik sama makhluk halus sama seperti Laras" jawab bu Retno.
Aku diam, sekali lagi berita anak hilang kembali terdengar di telinga ku dan kali ini aku akan berusaha untuk bisa membawa dia kembali.
"Nak tolong temuin Dilan, ibu tidak mau kehilangan dia nak hiks hiks" titah bu Retno dengan terus menangis.
"Ibu ayo kita ke dalam aja" ajak Reno.
Bu Retno mengangguk lalu kami membawa beliau masuk ke dalam rumah.
"Di belakang rumah pak RT, dia sering main di sana sama teman-temannya" jawab bu Retno.
"Dita kamu kemarin main sama Dilan kan?" Dita mengangguk cepat.
"Iya tadz, kemarin aku main sama Dilan, ada Rani, Arif dan yang lain juga, gak cuman berempat" jawab Dita.
"Seharian kemarin kalian main apa?" penasaran Ustadz Fahri, ia merasa hilangnya Dilan ini ada seseorang yang terlibat di dalamnya.
"Kemarin itu aku sama yang lain cuman main lari-larian sama nyabutin kacangnya pak Jarwo saja" jawab Dita dengan polosnya.
"Gak ada yang lain lagi?" Dita menggeleng, karena seharian kemarin dia menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman-temannya.
"Aku inget kemarin itu kami di kasih es krim sama pak Tejo" jawab Dita yang teringat hal itu.
"Pak Tejo?" aku dan Alisa merasa aneh karena setau kami pak Tejo adalah orang yang paling pelit, untuk makan saja dia perhitungan dan hari ini kami mendengar kalau dia memberi es krim pada Dita dan teman-temannya, jelas kami agak sedikit merasa aneh.
"Emang kenapa sama pak Tejo, kenapa kalian seperti kaget gitu?" penasaran Angkasa karena ia masih belum kenal keseluruhan warga-warga yang ada di desa ini.
"Pak Tejo itu pelit, dia kalau makan aja perhitungan, mangkanya aku sama Aliza ngerasa aneh ketika dengar pak Tejo ngasih anak-anak es krim" jawab Alisa.
"Enggak kok kak, pak Tejo itu gak pelit, yang pelit itu pak Jarwo, pak Tejo waktu itu ngasih roti ke Laras" bantah Dita.
"Kamu gak di kasih?" penasaran Ustadz Fahri.
"Di kasih cuman sama aku dan yang lain di tarok di pinggir sawah, tapi pas kami kembali gak ada, di antara kami yang makan roti itu cuman Laras, karena dia bilang gak makan siang" jawab Dita.
"Kapan pak Tejo yang ngasih roti itu pada kalian?" Dita mulai berpikir, ia berusaha mengingat-ingat kejadian itu.
"Kalau gak salah satu hari sebelum Laras hilang" jawab Dita.
Ustadz Fahri tampak geram secara tiba-tiba.
"Kenapa tadz, kenapa Ustadz kayak marah gitu?" penasaran Reno.
"Saya dari awal sudah menduga kalau hilangnya anak-anak di desa ini karena di jadikan tumbal" jawab Ustadz Fahri.
"APA TUMBAL" kami semua terkejut bukan main saat mendengar jawaban Ustadz Fahri.
"Iya, mereka semua hilang karena di jadikan tumbal, kalau anak yang akan di jadikan tumbal biasanya di beri makanan atau minuman terlebih dahulu, makanan dan minuman itu sama seperti alat untuk membeli nyawa mereka" jelas Ustadz Fahri yang membuat kami ternganga.
"J-jadi Laras sama Intan di jadikan tumbal?"
"Benar, mereka di jadikan tumbal mangkanya sampai saat ini gak ketemu, saya yakin orang yang sudah numbalin mereka itu adalah warga di desa ini juga" jawab Ustadz Fahri.
"Apa pak Tejo orangnya?" curiga Reno.
"Kayaknya memang dia biang keroknya, dia kan yang ngasih makanan sama anak-anak dan keesokan harinya pasti ada anak yang hilang" jawab Alisa yang sudah gedek sekali sama pak Tejo.
"Tapi bisa jadi kalau pak Tejo itu cuman suruhan orang"
"Gak mungkin za, dia itu bilang keroknya, ayo kita ke rumahnya, dia labrak dia" ajak Alisa yang sudah emosi.
"Tunggu dulu Alisa, ini kita masih belum tau pasti siapa orang yang berada di balik ini semua, kamu jangan gegabah dulu, kamu duduk dulu, sebelum kita labrak beliau, kita harus cari tau dulu apa beliau orang yang sudah buat anak-anak di desa ini hilang" Ustadz Fahri berusaha menenangkan Alisa yang sudah emosi berat.
"Kelamaan tadz, udah ayo kita ke rumahnya aja, dia itu pelakunya, gak mungkin kita salah" yakin Alisa yang terus berusaha ngajak kami ke rumah pak Tejo.