The Indigo Twins

The Indigo Twins
Pergerakan makhluk di dalam rumah



"Begitulah ceritanya kenapa mbk bisa terjebak di dalam desa gaib itu" mbk Indri menyudahi ceritanya.


Angkasa tampak diam dengan wajah lesu."Kok aku takut ya suami mbk Indri bakal gangguin masyarakat di desa ini, aku juga punya firasat kalau dia gak bakal lepasin mbk Indri gitu aja"


"Itu yang aku pikirkan sejak tadi, bagaimana caranya kita lepasin mbk Indri dari suaminya?" bingung Reno, ia tidak memiliki cara apapun yang dapat di lakukan saat ini.


"Kita tunggu aja Ustadz Fahri pulang, dia pasti tau kok caranya" jawab Alisa.


Kami menunggu kedatangan Ustadz Fahri, telinga kami terus mendengar suara perkelahian dan juga teriakan yang terjadi di luar rumah.


"Sa coba kamu cek Ustadz Fahri udah datang apa belum"


"Aku gak mau za, aku takut, mereka semua pasti lagi ngusir suami gaibnya mbk Indri" jawab Alisa.


Aku menghembuskan napas, terpaksa aku mengeceknya sendiri.


Aku melihat situasi di luar dari kaca, terlihat mereka berlima yang sedang berusaha menghalau genderuwo yang tak lain adalah Bima agar tidak masuk ke dalam rumah ini.


"Ada Ustadz Fahri gak za?" aku menggeleng cepat dengan mata yang terus melihat ke luar.


"Enggak, Ustadz Fahri gak kelihatan, kayaknya dia lagi berada di rumah pak Jarwo deh mangkanya lama balik ke sini"


"Di luar masih ada suami gaibnya mbk Indri?" penasaran Reno.


"Iya, di luar masih ada suaminya mbk Indri, mereka berlima lagi halau dia agar tidak masuk ke dalam rumah ini" aku kembali duduk bersama mereka.


"Mereka bisa usir mas Bima gak ya, mbk takut banget sama dia" khawatir mbk Indri yang wajahnya mulai pucat.


"Mbk tenang aja InsyaAllah mereka itu bisa halau suami gaib mbk, mbk tidak usah khawatir, ada kami di sini, kami gak akan biarin mbk di bawa sama dia" mbk Indri merasa sedikit tenang untuk sesaat.


Wussshhhh


Mata ku menangkap bayangan hitam yang melintas di dapur.


Praang!


"Allahu Akbar" kaget kami kala mendengar suara panci yang jatuh ke bawah.


"Siapa yang ada di dapur?" penasaran Alisa karena di antara kami masih tetap berdiam diri di ruang tamu tak ada yang beranjak sedikitpun.


"Apa mungkin mbk Rinda?" pikir Reno.


"Coba deh kamu cek sa" titah Angkasa.


"Aku mana berani, za sana kamu yang cek gih" suruh Alisa.


"Iya, kalian tunggu di sini" mereka mengangguk lalu aku bangkit dari duduk dan berjalan mendekati dapur.


Aku mengerutkan alis saat tidak ada satu perabotan pun yang jatuh ke lantai, semua perabotan yang ada di dapur masih tersusun rapi di tempatnya masing-masing.


"Gak ada apapun di sini, lalu berasal dari mana suara panci jatuh itu?" bingung ku yang menatap aneh pada sekeliling dapur ini.


"Apa mungkin bukan berasal dari dapur ya"


Aku masih diam di tempat, rasa bingung dan aneh memenuhi kepala sebab suara panci jatuh yang barusan terdengar di telinga ku saat di cari tidak di temukan.


"Di sini gak ada apapun, lebih baik aku kembali ke depan aja"


Aku kembali melangkah keluar dari dapur dan mendekati mereka.


"Siapa yang ada di dapur?" penasaran Alisa.


"Enggak ada siapa-siapa"


"Loh kalau gak ada siapa-siapa kenapa ada suara panci jatuh?" merasa aneh Angkasa.


"Kayaknya tikus yang udah jatohin, udah gak usah di pikirin, gak penting juga" aku sengaja tidak memberi tau mereka karena aku tidak mau mereka semakin takut pada keadaan seperti ini, di tambah lagi saat ini tidak ada orang dewasa yang melindungi kami.


"Kayaknya suara perkelahian di depan sudah gak ada deh" Reno kini sudah tidak mendengar suara perkelahian yang heboh di depan.


"Coba deh kamu cek apakah di luar masih ada suami gaibnya mbk Indri atau tidak" suruh Alisa.


Reno bangkit dari duduk dan melihat situasi di luar dari jendela, matanya tak melihat siapa-siapa, mbk Hilda, dua Kun, Tiger dan White saja tidak ada di depan.


"Udah, mereka berlima juga pada gak ada di depan, kemana ya mereka?" Reno kembali duduk di samping Angkasa.


"Palingan mereka lagi bawa pergi suami gaibnya mbk Indri agar gak datang ke sini" jawab Angkasa.


"Mudah-mudahan aja suami gaibnya mbk Indri gak ganggu kita lagi ataupun mbk Indri" harapan Reno.


"Amin"


Aku yang duduk dengan menghadap ke utara melihat ke arah kamar ku yang berada di atas, tak sengaja mata ku menangkap bayangan yang melintas dengan cepat.


"Siapa di sana, apa dia yang tadi udah jatuhin panci di dapur" batin ku.


"Ustadz Fahri kenapa lama banget, kemana dia, apa dia beneran ke rumah pak Jarwo" Alisa mulai tak tenang sebab Ustadz Fahri tak kunjung pulang juga padahal waktu isya' sudah lewat dari tadi.


"Coba deh sa kamu telpon, suruh beliau pulang"


Alisa mengangguk lalu menghubungi Ustadz Fahri.


tutt


tutt


tutt


"Gak di angkat, kayaknya Ustadz Fahri lagi ada di rumah pak Jarwo deh" dugaan Alisa.


"Gimana ini, Ustadz Fahri pasti bakal lama pulang ke sini lagi" Reno mulai gelisah, ia merasakan ada bahaya yang mendekat sehingga perasaannya menjadi gak menentu.


"Susul aja ke sana, percuma kita nelpon dia terus, karena di sana itu berisik, pasti Ustadz Fahri gak akan angkat telpon dari kita"


"Tapi siapa yang mau nyusul Ustadz Fahri ke sana, aku gak mau, aku takut di jalan ketemu sama hantu" tak mau Alisa.


"Biar aku aja yang ke sana, ren kamu tunggu di sini, jaga mereka, aku akan kembali ke sini secepatnya" suruh Angkasa.


"Iya, aku akan jaga mereka, awas jangan lama-lama" peringatan Reno.


"Iya" Angkasa keluar dari dalam rumah dan berjalan menuju rumah pak Jarwo.


Kami berempat yang berada di rumah menunggu dengan tidak tenang.


Wussshhhh


Sekali lagi aku melihat ada bayangan hitam yang melintas di depan kamar ku.


"Siapa dia sebenarnya, kenapa bisa masuk ke dalam rumah, mereka berlima kenapa biarin ada makhluk halus yang masuk" batin ku yang mulai merasa tak aman sebab aku merasakan pergerakan makhluk halus di dalam rumah ini.


Klontar


Klontar


Klontar


Alisa kembali mendengar suara derap kaki seseorang yang menggunakan terompah, dia langsung memeluk lengan ku dengan ketakutan.


"Ada apa sa, kenapa kamu ngumpet?"


"Kalian dengar gak?" kami diam dan mulai mendengarkan apa yang Alisa maksud.


"Enggak ada apapun tuh, emang kamu dengar apa?" Reno tidak mendengar suara derap kaki yang Alisa dengar.


"Aku dengar suara orang yang jalan tapi kayak makai terompah di sini, masa kalian pada gak dengar?" kami semua menggeleng kompak.


"Kami gak dengar apa-apa sedari tadi" jawab Reno.


"Masa cuman aku aja yang dengar?" Alisa merasa aneh, ia masih yakin kalau apa yang dia dengar itu beneran nyata bukan halusinasi.


"Mungkin kamu cuman salah dengar" pikir mbk Indri.


"Masa iya aku cuman salah dengar" Alisa merasa tak yakin jika apa yang tadi ia dengar salah.


"Mungkin aja, kita tunggu Angkasa pulang dengan bawa Ustadz Fahri dan yang lain" mereka semua mengangguk dan menunggu kedatangan mereka.