
Pagi harinya.
"Bunda kita pamit dulu, assalamualaikum" salam Alisa dan Reno.
"Wa'alaikum salam" balas bunda.
Angkasa memerhatikan ku yang sadari tadi diam saja.
"Kenapa kamu za?" tanya Angkasa penasaran.
Aku menghembuskan nafas yang begitu berat.
"Aku gak nyangka jika dokter Gladis bisa sejeki itu, dia sudah tega membunuh kedua orang tuanya, mbk Ningsih yang tengah hamil besar, nenek Sun yang sudah tua renta, hingga mbk Nela temannya sendiri dan juga Rio orang yang asing yang hanya anak dari manusia yang tidak sengaja namanya sama dengan orang yang paling di benci dan di cintainya" jawab ku.
"Kan udah aku bilang, kalau dia memang sekeji itu kami gak percaya, manusia itu bisa berubah ketika amarah telah menyerangnya, mereka akan melupakan semuanya, seperti orang yang kesetanan" kata Angkasa.
"Kita harus bongkar kebusukan dokter berwajah cantik namun berhati busuk itu, dia itu tidak punya rasa iba sama sekali membunuh mereka-mereka yang tidak berdosa, apa dokter Gladis tidak mempunyai rasa takut sedikitpun ya?" tanya ku penasaran.
"Wah itu harus, kalian wajib membongkarnya, bunda gak terima jika dokter Gladis terus saja tidak mendapatkan hukuman atas apa yang telah dia lakukan, ini itu kasus berat bukan kasus yang mudah" jawab bunda.
"Iya sih Bun, tapi kita gak punya bukti untuk membuat dokter Gladis di tangkap polisi" kata Angkasa.
"Terus kalian mau mulai dari mana, kamu tau di mana semua kunci kejahatan dokter Gladis berada enggak za?" tanya bunda.
"Seingat Aliza temannya dokter Gladis yang bernama mbk Nela itu sempat memvideokan segala kejahatan dokter Gladis, tapi aku gak tau apakah dokter Gladis sudah menghapus rekaman itu atau tidak" jawab ku.
"Ya pasti di hapuslah, masa dokter Gladis akan menyimpannya, bahkan mbk Nela saja dia bunuh hanya agar kejahatannya tidak di ketahui oleh orang-orang, apalagi rekaman itu yang akan bisa membahayakan jika ada orang yang melihatnya" kata Angkasa.
"Hmm gimana ya cara menyelesaikan kasus yang begitu rumit ini, kasus ini kan sudah bertahun-tahun terpendam, apa lagi saat ini tidak bukti apapun, kalaupun mencari bukti bakalan susah, dokter Gladis pasti sudah melenyapkan semua bukti-bukti itu" kata ku.
"Kita minta bantuan makhluk halus aja" usul Angkasa.
Aku mengerutkan alis.
"Makhluk halus, emang mereka bisa bantu apa?" tanya Aliza.
"Dalam sejarah Aliza menjadi seorang anak indigo, bunda tak pernah mendengar Aliza meminta bantuan sedikitpun pada makhluk halus, baru kali ini loh bunda mendengar bantuan yang teramat aneh ini" kata bunda.
"Iya bantuan Gaibah, kita bisa meminta bantuan pada mereka yang sudah tiada yang pastinya sudah berabad-abad lamanya hidup di dua dunia, kenapa harus yang berabad-abad? karena kekuatan mereka lebih besar dari pada hantu baru" jawab Angkasa.
"Kita harus minta bantuan sama makhluk halus yang mana, yang berbulu lebat atau yang cungkring" kata ku menunjuk pada mbk Hilda dan Tiger.
Wajah keduanya langsung cemberut.
Aku tersenyum melihat itu.
"Gak usah jauh-jauh di rumah sakit ini juga ada kok banyak lagi, mereka pasti bisa membantu kita dalam mengungkap siapa dokter Gladis yang sebenarnya" kata Angkasa tersenyum melihat wajah-wajah penghuni kamar yang berstatus bukan manusia itu heran dengan rencananya.
"Terus hantu itu bisa apa?" tanya ku.
"Bisa nakut-nakutin" jawab Angkasa.
Aku mengernyitkan dahi.
"Hah maksudnya? aku gak ngerti" tanya ku.
"Gini dengarin baik-baik" jawab Angkasa.
Bukan hanya bunda dan aku saja yang penasaran dengan maksud Angkasa, para penghuni di kamar ini juga merapatkan tubuhnya, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun mereka ingin mendengarkan penjelasan rencana Angkasa.
"Kita bisa memanfaatkan hantu untuk menakut-nakuti dokter Gladis, jika hantu itu sudah hidup ribuan tahun lamanya, otomatis dia bisa merubah dirinya menjadi orang lain dan juga bisa menampakkan dirinya pada manusia biasa" kata Angkasa.
"Terus?" tanya ku.
"Nah kan nanti hantu itu bisa berubah menjadi mbk Ningsih, nenek Sun atau pun yang lainnya, tugas mereka itu cuman satu yaitu meneror dokter Gladis hingga mengakui kejahatannya dan tugas kita hanya memvideokan segalanya untuk barang bukti gitu nona" jawab Angkasa.
"Kenapa gak langsung korbannya aja, kenapa harus meminta bantuan hantu-hantu rumah sakit ini" tanya ku.
"Kita gunain juga mereka, jadi gini rencananya nanti itu...
Angkasa menjelaskan segala ide konyolnys, dia jamin jika ide tak waras ini bisa berhasil.
"Oke kita coba rencana kamu" kata ku yang tak berpikir ke arah sana sama sekali.
"Tapi nanti hantu apa saja yang akan bantuin kita?" tanya ku.
"Tuh" tunjuk Angkasa pada makhluk tak kasat mata yang menguping pembicaraan kami sejak tadi.
"Oke kita mau" jawab mereka.
Belum juga Angkasa berkata mereka langsung menyetujuinya.
"Boleh juga mumpung kita gak ada kerjaan" sahut mbk kuntilanak yang memang selalu mengikuti kami berdua karena aura kami yang bisa mengundang ketertarikan mereka.
"Oke pasukan, kita akan mulai pembahasan rencana posisi dan tugas, eh tapi kita harus cari dulu pengikut dokter Gladis agar mereka bisa tau tentang rencana kita ini" kata ku.
"Bentar aku yang akan panggilkan mereka" kata seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan langsung berlari, gadis kecil itu bersemangat sekali untuk membantu kami.
Beberapa detik kamj menunggu akhirnya pengikut dokter Gladis sampai.
"Begini semua, kami mau membantu kalian untuk bisa menangkap dokter Gladis" kata ku.
"Caranya?" tanya mereka penasaran.
"Caranya seperti ini...
Aku menjelaskan semua pada mereka.
"Bagaimana kalian setuju gak?" tanya ku.
"Setuju, kapan rencana tadi akan di lakukan?" tanya mbk Nela.
"Malam ini, kalian harus siap dengan semuanya, kalian harus bisa buat dokter Gladis mengakui kejahatannya yang sudah terpendam selama itu" jawab Angkasa.
"Kami akan berusaha melakukannya" jawab mereka.
"Sebelumnya, kalian perkenalin dulu diri kalian satu persatu" suruh ku pada 5 orang di depannya.
"Kenalin nama aku Emil anak kecil terimut, terlucu dan tercantik di rumah sakit ini" celoteh gadis kecil bernama Emil itu yang berhasil membuat yang lain tertawa dengan tingkah polosnya.
"Nama ku Santi" kata mbk kuntilanak penunggu pohon di taman itu yang setiap hari bernyanyi di tengah larutnya malam.
"Aku Gea" kata mbk kuntilanak merah di depan kami.
"Aku Leon dan ini istri aku leo" kata pasangan suami istri yang berwajah kebule-bulean itu.
"Oke kita sudah tau nama-nama kalian" kata Angkasa.
"Ceritanya ini kapan kita mulainya?" tanya mbk Gea.
"Nanti malam sekitar jam 9 pas waktu besuk habis, di situlah kita akan memulai rencana ini, aku sudah mencari tau jika malam ini dokter Gladis shift malam, ini kesempatan emas buat kita untuk menggunkan rencana ini" jawab Angkasa.
"Kayaknya kurang deh pesertanya sa" kata ku.
"Iya sih, tapi aku gak yakin kalau akan ada hantu lain yang mau membantu kita" jawab Angkasa.
"Mereka pasti mau kok, tenang kami yang akan memberi undangan dulu kepada penghuni rumah sakit ini" kata mbk Santi.
"Terimakasih mbk" jawab ku tersenyum.
"Sama-sama" kata mereka.
"Kita pamit dulu bye" kata mereka lalu menghilang satu persatu.
"Untung saja ada mereka yang mau membantu kita" syukur Angkasa.
"Ingat kalian berdua nanti harus bantuin kita juga" kata ku.
"Iya kita akan bantu kok tenang aja, mbk mau main dulu bye" jawab mbk Hilda lalu menghilang.