
Pagi harinya seperti biasa kami sarapan terlebih dahulu lalu berangkat ke sekolah bersama.
Aku berboncengan dengan Angkasa sedangkan Alisa bersama Reno.
Motor berhenti tepat di parkiran.
"Nanti kita ketemu di taman ya" kata ku.
"Iya, eh Tiger kamu mau ikut ke dalam apa enggak?" tanya Alisa.
"Enggak, kalian saja yang masuk ke dalam" jawab Tiger.
"Jaga motor kami baik-baik ya, kalau ada maling tinggal teriak aja, nanti akan ada orang yang mendatangin kamu haha" tawa Alisa kala melihat mata Tiger yang menatap malas ke arahnya.
"Mana ada orang yang mau mendekati ku, mereka saja tidak bisa melihat ku, kamu ini ada-ada saja" jawab Tiger.
"Jangan ngamuk, bye aku masuk ke kelas dulu" kata Alisa meninggalkan Tiger yang sedang kesal.
"Dasar anak itu, kenapa suka sekali membuat ku kesal" kata Tiger, matanya menatap punggung Alisa.
Dengan langkah malas Alisa melewati koridor untuk masuk ke dalam kelasnya.
Tiba-tiba air yang di campur dengan tepung menjatuhi rambut Alisa kala dia membuka pintu.
"Akkkkhh" teriak Alisa.
"Hahaha"
Tawa anak-anak kala berhasil mengerjai Alisa.
Alisa menatap mereka semua dengan tatapan tajam.
"Iiih jijik" kata anak cewek.
"Aku gak mau dekat-dekat dengannya ah" jawab temannya.
Mereka semua menatap Alisa dengan tatapan jengkel.
"Hai Mbah dukun, udah datang aja nih, biasanya kan selalu paling awal datangnya, kok sekarang enggak btw gimana rasanya mandi air tepung" kata Roy mengejek Alisa.
Alisa menatap malas ke arah Roy.
"Roy bisakah kau tidak menganggu ku, aku ini bukan Mbah dukun, kau jangan mengubah nama ku dengan seenak jidat mu bego" kesal Alisa.
"Suka-suka aku dong, kamu gak ada hak ngatur-ngatur aku" jawab Roy.
"Udah deh sa kamu gak usah pake sok tersakiti, enek kan mandi tepung haha" kata Bagas.
Mereka semua tertawa melihat Alisa.
Alisa melihat mereka semua satu-persatu.
"Becanda mu gak lucu kawan" tegas Alisa.
"Udah deh sa gak usah sok-sokan tersakiti, kita ini baik kok masih menerima orang gak waras seperti kamu" hina Roy.
Tubuh Alisa meradang mendengar hal itu, matanya melotot tajam.
"Aku masih waras, kalau aku gak waras aku tidak akan berada di sekolah, melainkan di rumah sakit jiwa" kata Alisa.
Roy tertawa dengan penuh hinaan mendengar hal itu.
"Kalau orang waras tidak akan ngomong sendiri kan, tapi kamu melakukannya" kata Roy terus tertawa.
"Aku gak gila, aku masih waras, kamu jangan menghina ku, dasar jin Thomang" hina Alisa.
Wajah Roy langsung memerah mendengar hal itu.
"KAMU" kata Roy dengan tangannya yang sudah siap melayangkan tamparan ke arah Alisa.
Alisa langsung memejamkan mata karena takut.
"Akkkhh" pekik Alisa.
Alisa membuka mata kala merasakan keanehan.
Dava melepaskan tangannya.
"Gak usah ikut campur deh kamu" kata Roy.
"Bagaimana aku tidak ikut campur, kamu itu salah, ngapain kamu mau menyakiti Alisa, apa salah dia?" tanya Dava.
"Dia menghina ku, aku tidak terima akan itu semua" jawab Roy.
"Perasaan selama ini kamu yang terus-terusan menghina Alisa duluan, kalau kamu tidak mau di hina jangan menghina, kamu urus saja diri mu sendiri, jangan mengurus hidup orang lain" tegas Dava.
"Jangan sok bijak deh, kamu itu anak berandalan, jangan sok-sokan ceramahin aku" tak terima Roy.
"Aku memang nakal, tapi senakal-nakalnya aku, aku tidak akan pernah menyakiti seorang wanita, sedangkan kau, hendak melayangkan tamparan ke arahnya bukan, kamu itu bukan lelaki sejati" marah Dava.
"Dia itu tidak berhak di lindungi, kamu mau di datangi sama teman gaibnya apa" kata Roy dengan hinaannya.
Dava melihat ke arah Alisa.
Alisa hanya menunduk, serasa air matanya hendak meluncur mendengar hal itu.
"Aku tidak peduli, yang penting aku sudah mencegah orang yang mau menyakitinya, aku tidak memandang siapa dia" jawab Dava.
Alisa memandangi Dava dengan tidak percaya.
"Apakah kau buta, di mana mata mu, dia itu akan menjadi biang kerok di sekolahan ini, kita harus mengusirnya" kata Roy menatap tak percaya.
"Dia manusia Roy, dia bukan iblis, tak bisa kau melihatnya, dia sama seperti kita, hanya saja dia memiliki kelebihan yang tidak kita miliki" jawab Dava.
"Tapi kelebihannya itu tidak ada, dia itu cuman anak yang mempunyai penyakit gangguan mental saja, tidak lebih" kata Roy.
"Kau tidak akan tau seperti apa dunia gaib itu, karena kau tidak mengalaminya, andai kau tau, mungkin kau akan mengerti kalau mereka yang tak kasat mata itu memang ada dan hidup berdampingan dengan kita, aku dapat melihatnya, sedangkan kau tidak bisa, kelebihan ini datang tanpa di undang, aku tidak menginginkannya tapi Allah memberikannya, apa yang harus aku lakukan hiks hiks" tangis Alisa.
Sungguh dia begitu sakit hati di hina seperti ini.
Roy diam, anak-anak yang mengerumuni mereka semua bungkam.
"Jangan pedulikan mereka, lakukan apa yang menurut mu benar, mereka hanya bisa berkomentar, mereka tak akan bisa mengetahui apalagi merasakannya, tenanglah ada aku yang akan melindungi mu" kata Dava.
Mata Alisa di buat meleleh mendengar hal itu, baru pertama kalinya ada orang yang sangat peduli padanya.
"Apakah kau ikut-ikutan tidak waras sepertinya?" tanya Roy.
"Aku masih waras Roy, aku tidak gila, kamu yang sebenarnya gila bukan dia" jawab Dava.
Wajah Roy begitu marah mendengar hinaan dari Dava.
"Bubar, jangan berkerumun di sini" usir Dava.
Mereka semua meninggalkan tempat ini.
Dava membalikkan badan.
"Dan untuk kau, jangan pernah menghinanya lagi, aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan tenang jika sampai kau membuatnya menangis lagi" peringatan Dava.
Roy diam, ancaman Dava tidak bisa di anggap enteng, Reno meninggalkan mereka dengan hati yang meledak-ledak.
"Jangan nangis lagi, mereka tak akan menganggu mu lagi, kalau sampai mereka menganggu mu beritahu saja pada ku, aku yang akan mengurus mereka" kata Dava menghapus air mata Alisa.
Alisa sungguh tak menyangka akan ada yang membelanya bahkan mau melindunginya.
"Terimakasih" jawab Alisa.
"Sama-sama, bersihkan rambut mu sana, aku akan tunggu di dalam kelas" kata Dava.
Alisa mengangguk lalu mendatangi kamar mandi.
Dia membersihkan rambutnya yang di siram dengan air tepung oleh anak-anak.
"OMG pemuda itu baik sekali pada ku, selamanya aku tidak akan melupakan dia, aku berjanji itu" kata Alisa sedikit merasa senang.
Setelah selesai merapihkan rambut Alisa lalu masuk ke dalam kelas.