The Indigo Twins

The Indigo Twins
Darah yang berceceran



Angkasa terus berusaha sekuat tenaga untuk membuka pintu bus yang sangat susah sekali.


Aku semakin tambah gemetaran kala sedikit lagi mereka akan segera sampai tepat di depan ku.


"Kasa cepetan" teriak ku yang sudah panik.


Anak kecil itu terus menangis tanpa henti.


"Aaaarrrrghh" teriak Angkasa sekeras mungkin.


Akhirnya pintu bus terbuka, Angkasa membuka lebar-lebar pintu bus.


Wajah ku tercekat kala tante China itu sudah berada tepat di depan mata ku dengan wajah pucat dan menakutkannya.


Aku menelan ludah melihat dia yang begitu menakutkan.


"Sini za" kata Angkasa.


Tanpa aba-aba Angkasa langsung menarik tangan ku dan anak kecil itu untuk keluar dari dalam bus.


Kami berdua terguling-guling di aspalan.


Tubuh ku terlempar jauh dari Angkasa dan anak kecil itu.


Di saat tubuh ku terus terguling-guling di jalanan tiba-tiba.


"Aaaw" ringis ku.


Tangan ku terluka karena terkena beling yang lancip yang berada di pinggir jalan.


Aku bangun dan memegangi tangan ku yang terus di aliri darah.


"Aliza" panggil Angkasa yang melihat ku terluka.


Dengan cepat Angkasa dan anak kecil itu berlari mendekati ku.


"Za kamu gak apa-apa?" tanya Angkasa.


Aku menatap ke arahnya dengan kondisi tangan ku yang sudah di penuhi darah.


"Ya Allah tangan kamu kenapa kok bisa sampai berdarah kayak gini?" tanya Angkasa sangat khawatir.


"Tangan aku gak sengaja terkena beling lancip itu pas aku jatuh tadi" jawab ku dengan menunjuk ke arah beling yang ada di dekat ku.


"Siniin tangan kamu" tintah Angkasa.


Tanpa banyak tanya aku memberikan tangan ku kepadanya.


Angkasa merobek sarungnya lalu membalut telapak tangan ku yang terluka agar darah tidak terus mengalir.


"Kok bisa ada beling di sini, siapa yang sudah membuang beling sembarang kayak gini" omel Angkasa.


"Aku gak tau, jangan tanya pada ku" jawab ku.


Angkasa terus membaluti telapak tangan ku yang terkena beling dengan sarung itu.


"Sakit gak za?" tanya Angkasa.


"Enggak" jawab Aliza.


'Terbuat dari apa nih bocah, tangan terluka panjang dan dalam kayak gini, dia masih bilang gak sakit, oh bunda dulu kau ngidam apa sehingga punya anak seperti ini, adakah manusia yang sekebal ini, di saat tangannya terluka sangat dalam, sampai-sampai darah yang keluar aja derasnya bagaikan air terjun" batin Angkasa menatap tak percaya.


Aku melihat ke depan.


"Iya, untung aku bisa berhasil membuka pintu bus yang sangat susah itu" jawab Angkasa.


"Kita balik yuk, aku udah capek gentayangan di tempat aneh ini, ayo kita terusin jalan, ketahuilah se tersesat apapun kita di sini, kita harus usaha agar bisa menemukan jalan keluarnya, aku sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang, aku udah capek banget ingin segera istirahat" ajak ku langsung bangun dari duduk ku.


Angkasa dan anak kecil itu ikut berdiri dari duduknya.


"Kita lanjut jalan lagi, nanti gimana kalau kita makin tersesat?" tanya Angkasa yang takut hal itu terjadi.


"Aku udah capek berada di jalan bagaikan makhluk halus yang terus gentayangan, aku pengen cepat-cepat pulang, jika sumpamanya kita nanti makin tersesat, pasti kalau kita berusaha, kita juga akan bisa menemukan jalan keluarnya, tapi kalau kita diam aja di sini, kita tidak akan bisa pulang juga" jawab ku.


"Ya udah, ayo kita cari jalan keluarnya lagi" ajak Angkasa.


Kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan.


Anak kecil tadi sudah tidak lagi menangis, bahkan ketika tubuhnya menghantam aspal yang keras, dia tidak menangis sama sekali.


Aku melirik ke arah anak kecil itu.


"Hai nama kamu siapa dan kenapa kamu bisa bersama tante China, apa kamu anaknya?" tanya ku begitu penasaran sejak tadi.


"Nama aku Arif kak, aku bukan anaknya tante China itu" jawab Arif.


"Tapi kenapa kamu bisa bersama dengan tante China?" tanya ku semakin penasaran.


"Waktu itu aku lagi main, terus ada tante-tante itu yang nyamperin aku, dia kasih aku bola tapi dengan syarat aku harus ikut dia" jelas Arif.


"Owwh gitu, kamu udah berapa lama di ajak tante China ke sini?" tanya Angkasa.


"Udah tiga hari lamanya, aku ada di sini bareng tante China yang aneh itu" jawab Arif.


"Lumayan, oh ya tante China itu bawa kamu untuk apa, apa kamu tau, gak mungkin kan tante China bawa kamu tanpa alasan yang jelas?" tanya ku berharap Arif dapat menjawab pertanyaan yang sangat ingin aku ketahui.


"Tante China itu gak punya anak, dia bawa aku biar jadi anaknya, tadi kata tante China aku mau di bawa ke tempat yang jauh dan gak akan bisa kembali pulang lagi, untung aku ketemu sama kakak yang berbeda dari tante China dan penumpang bus tadi" jelas Arif.


"Lain kali hati-hati ya, jangan gampang di ajakin sama orang gak di kenal, takut kejadian kayak gini terjadi lagi, ketahuilah apa yang kamu lihat tidak semua itu manusia, kamu harus hati-hati sama mereka yang tidak kasat mata, mereka bisa membuat kamu tidak bisa pulang lagi mau?" tanya ku.


"Enggak mau, mulai dari hari ini, Arif akan lebih hati-hati, Arif tak akan mudah di ajak oleh orang yang tak di kenal walaupun di iming-imingi mainan dan semacamnya lagi" jawab Arif yang sudah trauma dengan apa yang terjadi padanya.


"Pinter, kita jalan ke mana za, lihat tuh kita di hadang oleh tiga jalan, satu kiri, dua kanan, tiga tengah, mana yang harus kita pilih?" tanya Angkasa yang melihat ada tiga jalan yang berlawan arah dan kembali membuat ku bingung harus milih yang mana.


Pasalnya aku tak ingin tersesat lagi seperti tadi.


"Aku gak tau, aku gak mau kita salah jalan dan semakin tersesat lagi, kita harus pilih yang mana ini, ke kanan apa ke kiri, mana yang harus kita tempuh?" tanya ku meminta pendapat dari mereka berdua.


"Jangan ke kiri kak, tadi aku lihat bus itu lewat yang kiri, jika kita lewat ke sana juga, kita pasti akan semakin tersesat lagi dan mungkin kita gak akan bisa pulang" larang Arif.


"Hmm jadi kita ke kanan nih?" tanya ku.


"Kata ku juga jangan deh" jawab Angkasa.


Kami berdua menatap wajah Angkasa dengan penuh pertanyaan-pertanyaan di dalamnya.


"Kenapa?" tanya kami berbarengan.


"Kok kamu ngelarang kita lewat yang kanan, apa alasannya?" tanya ku penasaran.


"Liat tuh, ada darah berceceran, yang artinya jika kita lewat di sana, kita akan kembali di hadang sama hantu-hantu yang akan mengganggu kita dan juga lihat ada jejak kaki yang penuh dengan lumpur di sana" jawab Angkasa dengan menunjuk ke arah jalanan itu.


Terlihat jika memang ada jejak kaki yang penuh dengan lumpur serta darah makhluk yang tidak ketahui manusia atau bukan yang berceceran sepanjang perjalanan.