The Indigo Twins

The Indigo Twins
Vonis



"Aliza, jangan tinggalin aku za" lirih Angkasa namun tak ada seorang pun yang mendengarnya, mereka sibuk dengan apa yang mereka lakukan.


Ingatan di mana moment pertama kali Angkasa bertemu dengan ku terus berputar di benaknya.


Air mata mengalir tanpa aba-aba."Za aku gak sanggup kalau kamu pergi, aku mohon jangan pergi za" batin Angkasa.


"Ayo kita berangkat ke rumah sakit pusat, kita harus lihat keadaan Aliza di sana" ajak ayah.


Angkasa menyeka air mata yang mengalir tanpa aba-aba, ia dengan cepat bangkit dari duduk dan keluar dari rumah sakit mengikuti yang lainnya.


Ayah, bunda, Alisa, Reno dan tante Zera masuk ke dalam mobil, Angkasa mengikuti mobil itu dari belakang dengan menggunakan motornya.


Sedangkan Ustadz Fahri dan Ustadz Zaki pulang ke rumah karena sudah semalaman mereka berada di rumah sakit.


Mobil yang ayah kendarai terus melaju menuju rumah sakit pusat, sesekali air mata bunda mengalir saat pikiran buruk muncul secara tiba-tiba, sepanjang perjalanan bunda terus berdoa memohon pada Allah untuk kesembuhan ku.


Angkasa yang tengah kacau terus melajukan motornya, suasana jalanan agak sepi yang membuat mereka bisa melaju kencang di jalanan.


"Za kamu yang kuat, jangan ikut pergi seperti Roy dan Andin, kamu gak boleh sampai ikut sama mereka, aku gak mau kamu pergi za, aku gak mau" batin Angkasa, sesekali air mata mengalir di pipinya.


Angkasa yang terus melajukan motor dengan pikiran yang terus tertuju pada ku.


Setelah sekitar 2 jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit pusat.


Bangunan rumah sakit pusat itu bagaikan gedung pencakar langit saking tingginya, Angkasa menatap gedung rumah sakit yang menjulang tinggi.


"Ya Allah semoga di tempat ini ada perubahan dari kondisi Aliza, Angkasa mohon ya Allah tolong sembuhkanlah Aliza, jangan ambil dia dari keluarganya" batin Angkasa memohon dengan penuh harapan.


"Ayo sa kita masuk ke dalam" ajakan Reno membuat lamunan Angkasa langsung buyar.


Angkasa mengangguk, ia mengikuti Reno dari belakang, mereka masuk ke dalam rumah sakit besar itu, mereka langsung mendekati suster yang menjaga administrasi.


"Suster pasien bernama Aliza Qiensyah ada kamar nomor berapa sus?" ayah menatap ke arah suster itu dengan cemas, ia ingin segera tau keadaan ku.


"Pasien bernama Aliza Qiensyah berada di ruangan ICU pak" jawab suster.


"Terima kasih suster"


"Sama-sama pak"


"Ayo kita ke ruangan ICU" ajak ayah.


Mereka mengangguk lalu mengikuti ayah dari belakang.


Sepanjang perjalanan banyak sekali brankar-brankar yang keluar masuk dari dalam rumah sakit, entah itu ada pasien gawat darurat ataupun yang sudah meninggal.


Angkasa tak henti-hentinya menatap ke arah pasien yang sudah di tutupi kain kafan tanda sudah tiada.


Setetes air mata mengalir di pipinya, ia hanya tak mau apa yang ia takutkan terjadi.


"Angkasa mohon ya Allah, jangan ambil Aliza, Angkasa mohon, berilah dia hidup" batin Angkasa.


Reno menatap ke arah Angkasa, ia tau bahwa pemuda itu pasti sangat sedih dengan keadaan ku yang semakin lama semakin memburuk.


"Enggak akan ada apa-apa sa, Aliza pasti baik-baik saja, dia gak mungkin ninggalin kita, dia anak yang kuat, dia pasti mampu nahan rasa sakit itu" Reno berusaha menyakinkan Angkasa meskipun dirinya juga mengalami ketakutan yang sama.


"Ayo kita lihat keadaan Aliza, semoga saja ada perubahan" ajak Reno.


"Amin"


Angkasa mengikuti Reno dari belakang, mereka terus berjalan mencari ruangan ICU tempat ku di rawat saat ini.


Tak berselang lama dari itu mereka sampai di tempat yang mereka cari-cari, mereka semua melihat ku dari kaca, mereka melihat dengan jelas betapa paniknya dokter-dokter spesialis yang berada di dalam ruangan ICU.


"Ya Allah selamatkan putri ku, jangan ambil dia dari hamba ya Allah, tolong sembuhkanlah putri ku ya Allah, hamba mohon, hanya itu yang hamba inginkan, hamba tidak ingin apapun lagi" batin bunda yang menatap sedih ke arah ku yang di kabarkan keadan ku memburuk.


Mereka semua menunggu dengan cemas di depan ruangan ICU, pandangan mereka terus menatap ke arah ku yang sedang di tangani oleh dokter.


Krieet


Pingu ruangan ICU terbuka, mereka dengan cepat langsung menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan ICU.


"Dokter bagaimana dengan keadaan Aliza?" cemas bunda, ia terus memegang tangan ayah sebagai penguatnya.


"Kondisi pasien sudah membaik dari pada sebelumnya, tapi...


"Tapi apa dok?" mereka semua langsung tegang saat ucapan dokter itu menggantung.


"Tapi kemungkinan selamat sangat kecil, melihat dari batok kepala pasien yang retak, kami memprediksi kalau pasien tidak akan mampu bertahan hidup tanpa alat bantuan itu" jawab dokter.


DEG!


Mereka terguncang hebat, di vonis seperti itu oleh dokter membuat mereka down.


Bunda langsung lemas, ia terduduk di bawah, air mata bagaikan hujan deras yang mengalir di wajahnya.


"Dokter tolong selamatkan anak saya dok, saya mohon dok, tolong selamatkan dia dok" tangis bunda dengan terus memohon.


"Kami akan berusaha menyelamatkan pasien dengan semaksimal mungkin, untuk selebihnya biar Allah yang menentukan" jawab dokter.


Mereka semua diam, dokter itu berlalu meninggalkan mereka yang menangis di depan ruangan ICU.


Angkasa terduduk di bawah, ia melihat ku dari kaca itu, air mata terus mengalir, ia menangis tanpa suara di sana.


"Aliza, Aliza kamu yang kuat za, kamu harus bisa bertahan, jangan tinggalin kami za" batin Angkasa yang sesegukan saat dokter itu memvonis seperti itu.


"Aliza bangun nak, bangunlah nak, jangan buat bunda takut, kamu harus kuat nak, kamu harus sembuh, bunda dan yang lain nunggu kamu" tangis bunda dengan terus menatap ke arah ku yang masih terbaring di brankar tanpa pergerakan.


"Aliza jangan tinggalin aku, aku akan sama siapa kalau kamu gak ada, aku mohon za kamu harus kuat, jangan sesekali kamu pergi ninggalin aku kayak Roy, aku gak mau za, aku gak mau hidup ku tanpa kamu, aku mohon kamu harus kuat, pliiis" batin Alisa yang hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Ayah, Aliza ayah, Aliza hiks hiks" tangis bunda, ia benar-benar hancur saat dokter mengatakan hal itu.


Ayah hanya diam di tempat, ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Semuanya akan baik-baik saja, Allah tidak akan tega ambil Aliza dari kita, kita berdoa saja pada Allah semoga Aliza cepat sembuh" jawab ayah setelah beberapa saat keheningan terjadi.


Mereka semua masih terus menangis di depan ruangan ICU, dalam hati mereka terus berdoa semoga aku cepat sembuh dan kembali beraktivitas seperti semula.