The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri pemuda yang di ikuti kingkong 11



Reno menekan nomor pak Beni.


"Pak jemput teman-teman ku di seberang jalan, aku sudah ada di depan pintu belakang" tintah Reno pelan.


^^^"Baik den" jawab pak Beni.^^^


Pak Beni langsung berlari menuju mobil yang sedang berhenti di seberang jalan.


"Apa kalian teman-temannya den Reno?" tanya pak Beni.


"Iya pak kami teman-temannya Reno" jawab kami.


"Ayo kalian ikut saya, den Reno sudah bilang semuanya" ajak pak Beni.


"Baik pak"


Kami berdua turun dari mobil dan mengikuti pak Beni dari belakang.


Pak Beni membukakan pintu belakang.


"Ayo ikut aku, pak Beni di sini saja" kata Reno pelan.


"Baik den, bapak akan jaga di sini, kalian hati-hati" jawab pak Beni pelan.


"Baik pak" jawab kami pelan.


Kami berdua mengikuti Reno dari belakang, Reno membawa kami ke ruangan yang paling pojok.


Langkah kami berdua tiba-tiba terhenti.


Genderuwo bertubuh kecil, bermata merah, berkulit seperti kingkong berdiri di depan ruangan khusus itu.


Pelan-pelan tubuh genderuwo yang kecil itu menjadi besar dan tinggi membuat kami berdua ternganga melihatnya.


"Kalian jangan ikut campur" suara genderuwo menggelegar dahsyat.


Alisa bersembunyi di belakang ku.


"Pergi kau, jangan halangi langkah kami kalau tidak mau merasakan panas yang sesungguhnya" usir ku.


Sinar merah yang keluar dari mata genderuwo itu semakin tajam saja.


Aku menelan ludah saat tangan genderuwo itu semakin mendekati ku.


Grrrr


Suara Tiger yang tak terima.


Tiger langsung menyerang genderuwo itu, mendadak keduanya menghilang dari sini.


"Mereka sudah pergi, ayo kita harus bebaskan Rani sebelum genderuwo atau teman-temannya datang kembali" ajak ku.


"Ini ruangannya, Rani ada di dalam tapi aku tidak tau cara membukanya" kata Reno.


Aku berdiri tepat di depan pintu ruangan itu, aku mengambil kawat di dalam tas lalu memasukkannya ke dalam silinder kunci.


Ceklik


Pintu ruangan itu terbuka, senyuman manis merekah di bibir ku.


"Sudah selesai, ayo kita masuk ke dalam" ajak ku.


Aku membuka pintu selebar mungkin, mata kami terkejut saat melihat Rani yang tidak bergerak di lantai dengan mata tertutup.


"Rani" kaget Reno.


Reno mendekati Rani dengan kecemasan yang terpancar di wajahnya, aku menyentuh tubuh Rani yang benar-benar dingin.


"Rani bangun, buka mata kamu" kata Reno menepuk pelan pipi Rani.


"Dia cuman pingsan ayo kita bawa dia keluar dari sini sebelum ada yang melihat kita di sini" kata ku.


Reno menggendong tubuh mungil Rani keluar dari ruangan ini.


Craangg!


Alisa tak sengaja menyenggol vas bunga hingga pecah.


"Maaf" pelan Alisa.


"Siapa di sana?" tanya Desi.


Hati kami dag dig dug saat tau kalau ada orang yang mendengar pecahan vas bunga itu bersamaan dengan itu suara langkah kaki mendekati kami membuat kami tegang.


Miaw Miaw Miaw


Suara Alisa menirukan kucing.


"Owh cuman kucing" kata Desi.


Aku merasa lega untuk sesaat.


"Sepertinya aman, ayo kita segera pergi dari sini" kata ku.


Desi mendekati Robi dengan jus yang baru di buatnya.


"Mama bicara sama siapa tadi?" tanya Robi.


"Bukan siapa-siapa, mama tadi cuman dengar suara kucing saja" jawab Desi.


"KUCING mana ada kucing di rumah ini" kata Robi.


"Jangan-jangan" kata keduanya tersadar.


Desi berlari ke dalam kamar Reno.


"Reno kamu di mana" panggil Desi.


Desi membuka kamar mandi, kosong tak ada Reno di dalamnya.


Desi menjadi panik kala ia tak menemukan Reno di dalam kamar ia lalu kembali menemui Robi.


"Pa Reno gak ada di kamarnya, kemana dia? papa gak lihat Reno pergi kemana?" tanya Desi.


"Enggak, papa dari tadi ada diruang tamu, sebelumnya kita cek dulu ruangan khusus itu, kita lihat apakah Rani ada di sana atau tidak" jawab Robi.


Keduanya berlari ke arah ruangan itu, keduanya benar-benar sangat terkejut kala melihat pintu ruangan khusus itu terbuka dengan lebarnya.


Mereka berdua mencari Rani namun tak menemukannya juga.


"Fix ini kalau kucing itu bukan kucing asli, ayo ma kita harus cari Reno dan Rani papa yakin mereka masih belum jauh" kata Robi.


Mereka berdua berlari keluar dari rumah, mata mereka melihat kami yang sedang berlari menuju mobil.


"Berhenti" teriak Robi.


Langkah kamipun menjadi terhenti, wajah kami sangat tegang kala melihat orang tua Reno di depan gerbang.


"Gawat kita ketahuan" panik Alisa.


"Reno jangan pergi, kamu tidak boleh pergi, ayo kembali" tintah Desi dengan suara nyaringnya.


"Jangan den, aden gak boleh turutin apa kata mereka" kata pak Beni.


"Reno kamu jangan dengarin apa yang di bilang sama pak Beni, kamu gak boleh ngelawan, ayo kembalilah" teriak Robi.


Saat perdebatan itu terjadi aku dengan gereget langsung mengambil Rani lalu berlari mendekati mobil.


"Jangan den, ayo den pergi dari sini, mereka gak patut untuk di turuti" ajak pak Beni.


"Iya pak Reno tau" jawab Reno.


Ketiganya kembali berlari dan-


Doorrr


Suara tembakan itu memecah keheningan, langkah Reno menjadi terhenti ia melihat Robi yang tersenyum dengan memegang pistol, pandangan Reno beralih melihat orang yang berada di belakangnya.


Setetes air mata mengalir.


"Pak Beni" teriak Reno.


Tubuh pak Beni terjatuh ke bawah, darah keluar dari mulut, hidung dan juga dadanya.


Reno memangku pak Beni.


"Den Reno pergilah dari sini, selamatkan diri aden, jangan pedulikan saya" tintah pak Beni dengan suara lemasnya.


"Enggak pak, kita harus bisa pergi bersama" kata Reno dengan air mata yang membanjiri.


"Tidak den, aden cepatlah pergi sebelum mereka menangkap aden, jangan pedulikan saya, dek bawa den Reno pergi dari sini, pastikan dia selamat" tintah pak Beni, pelan-pelan mata pak Beni tertutup rapat.


"Pak Beni" teriak Reno kala tau kalau pak Beni sudah tidak bernyawa.


Alisa mengembuskan nafas berat, ia memegangi dadanya yang sakit, Alisa menyeka sedikit air mata.


Mata Alisa melihat kedua orang tua Reno yang berlari ke arahnya.


"Ren ayo kita pergi dari sini, sebelum mama sama papa kamu berhasil menangkap kita" ajak Alisa.


"Enggak sa, pak Beni bangun jangan tinggalin Reno" tangis Reno menggoyangkan tubuh pak Beni yang tidak bergerak.


"Ayo ren kita harus pergi, kamu harus dengarin aku, jangan buat pengorbanan pak Beni sia-sia" ajak Alisa saat melihat orang tua Reno semakin mendekat.


"Huhu" tangis Reno.


"Ayo ren kita harus pergi, sebelum mereka ke sini" teriak Alisa.


Reno masih diam saja tak menyangka kalau pak Beni akan pergi secepat ini, karena geregetan Alisa lalu menarik Reno.


Mereka berlari dengan langkah yang lemas.


"Ayo sedikit lagi" teriak ku membukakan pintu.