The Indigo Twins

The Indigo Twins
Desa gaib



Aku dan Angkasa berdiri di depan kamar khusus yang terletak di paling pojok.


"Sa kamu buka gih kamar ini, kita harus periksa ada apa di dalam kamar ini, mudah-mudahan Laras ada di sini"


Angkasa mengangguk lalu membuka kamar tersebut.


Kami terbelalak saat melihat peralatan dukun yang terdapat di dalam ruangan pojok itu.


"Kayaknya ruangan ini di jadikan tempat mereka ngeluarin ilmu hitamnya deh" feeling Alisa.


"Kayaknya memang iya deh sa, ayo kita cari apakah benar Laras ada di sini satu tidak"


Kami melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tersebut.


Brakk


"Arrrrgghh"


Terkejut ku yang tiba-tiba pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya.


Aku memegangi dada ku dan menatap tak percaya ke arah pintu.


"Kok pintu ini ke tutup sendiri, siapa yang udah nutup pintu ini"


"Angin, kamu gak usah pikirin hal gak penting itu, ayo kita mulai nyari Laras, lalu pergi dari sini karena takutnya magrib di jalan, rumah ini jauh dari desa, kita harus keluar dari sini secepatnya" ajak Angkasa.


Aku mengangguk dengan tubuh yang gemetaran aku mulai mencari keberadaan Laras.


Aku melewati kemenyan-kemenyan yang banyak sekali di ruangan ini.


"Banyak banget, pasti mereka gunain kemenyan ini buat nyantet orang"


Kami mulai mencari keberadaan Laras, memeriksa satu persatu namun tidak ada yang kami cari-cari.


"Kok gak ada ya sa, apa Laras gak di culik sama mbah Gamik?"


"Kalau bukan mbah Gamik siapa lagi za, apa ada orang lain lagi yang nyulik anak-anak kecil" jawab Angkasa.


"Gak tau juga, tapi setahu aku dukun beranak itu cuman bantu orang yang mau ngegugurin kandungannya saja, tapi kalau mbah Gamik memang membuat satu persatu anak kecil terutama yang berjenis kelamin laki-laki mati, karena mungkin dia gak mau dukun beranak bernasib sama sepertinya"


"Aneh, aneh, aneh, kenapa kasus ini aneh sekali, sebenernya siapa yang sudah buat desa ini menjadi desa penuh gaib kayak gini" tak habis Angkasa pada keanahen yang terjadi di desa.


"Namanya juga desa Kamboja, desa penuh pemujaan, jadi wajar aja kalau ada banyak kejadian-kejsdian aneh yang berhubungan dengan hal-hal gaib"


"Za kamu udah meriksa lemari itu?" tunjuk Angkasa pada lemari besar yang terbuat dari kayu yang berada di ruangan ini.


"Belum, ayo coba kita periksa, mungkin saja Laras ada di sana"


Kami mendekati lemari besar dan tinggi itu.


Aku membuka lemari besar itu.


"Arrrrgghh"


Teriak kami yang masuk ke dalam lemari besar itu.


Aku membuka mata dan melihat sekeliling yang tampak berbeda, bukan ruangan pojok yang ku lihat, tapi hutan, kami jatuh di dalam hutan yang asing.


"Ini di mana sa, kenapa kita ada di sini, perasaan tadi kita masih berada di kamar khusus itu, kenapa sekarang malah berada di sini setelah masuk ke dalam lemari itu?"


"Iya, kenapa kita bisa berada di sini, di mana ini, kenapa aneh sekali" jawab Angkasa yang juga bingung pada tempat ini.


"Kayaknya ini kita masuk ke dalam sebuah desa, tapi pertanyaannya desa apa ini, kenapa di dalam lemari itu ada portal menuju desa aneh ini" aku bangun dari duduk dan melihat sekeliling yang aneh.


Tatapan mata ku tertuju pada gapura awal masuk desa aneh dan tak pernah aku lihat sebelumnya.


"Ayo coba kita masuk ke dalam, kita cari tau desa apa ini pada penduduk setempat"


Angkasa setuju lalu kami berdua berjalan masuk ke dalam gapura, awal masuk desa tersebut.


Saat kami menginjakkan kaki di desa itu pandangan kami langsung tertuju pada seorang nenek-nenek yang berjalan lurus ke utara.


"Mau kemana nenek-nenek itu, kenapa jalan ke arah sana, ada apa di sana?"


"Ayo kita ikuti saja, barang kali dia bisa cari tau berada di mana kita saat ini" jawab Angkasa.


Aku setuju lalu berjalan mengikuti nenek-nenek tua dari belakang.


Kami memberi jarak yang lumayan jauh agar nenek-nenek tua itu tidak menyadari keberadaan kami.


Nenek-nenek tua itu berjalan dengan langkah pelan dengan di bantu tongkat kayu yang ia pegang.


"Sa ini desa apa, kenapa sepi banget, seperti gak ada orang yang nempatin?"


"Aku juga gak tau za, kita ikutin saja nenek-nenek itu, mungkin kita akan tau berada di mana kita saat ini" jawab Angkasa.


Aku terus berjalan bersama Angkasa dengan terus mengikuti nenek-nenek tua itu.


Aku melihat sekeliling desa yang sepi dan sunyi, banyak sekali tanaman-tanaman yang tumbuh liar.


"Di mana aku sebenarnya, kenapa aku masuk ke sini, ada apa dengan desa ini, kenapa aneh sekali" batin ku yang terus merasakan keanehan pada desa ini.


Nenek-nenek itu terus berjalan dengan langkah pelan, dia tidak sadar kalau kami mengikutinya dari belakang.


Langkah demi langkah telah kami lakukan, kini kami mulai melihat rumah-rumah warga yang berjarak-jarak di desa ini.


Dari posisi kami saat ini, kami sudah mendengar suara-suara riuh yang ada di desa ini.


"Za ayo kita sembunyi" panik Angkasa.


"Kenapa, kenapa kita harus sembunyi?"


"Udah ayo ikut aku" Angkasa membawa ku bersembunyi di balik pohon besar yang ada di dalam semak-semak yang terdapat di desa.


"Ada apa sih sa?"


"Sstt jangan berisik" aku pun diam tak lagi bertanya meski aku masih bingung pada segalanya.


"Ada apa ini sebenarnya, kenapa Angkasa bawa sembunyi di sini, apa yang sebenarnya terjadi" batin ku yang masih bingung dengan keadaan saat ini.


"Sa ada apa sebenarnya, kenapa kita harus sembunyi?"


"Lihat itu" tunjuk Angkasa pada makhluk berbulu hitam yang masuk ke dalam salah satu rumah yang ada di desa.


Aku ternganga melihat makhluk hitam yang seram itu.


"Kenapa dia ada di sini?"


"Aku rasa ini bukan alam manusia za" aku semakin terkejut mendengar hal itu.


"Jangan bilang kalau kita masuk ke dalam desa gaib?"


"Aku rasa iya, kita bisa masuk ke dalam desa ini karena kita membuka lemari besar yang ada di ruangan khusus itu" jawab Angkasa.


"Terus ini gimana sa, aku gak mau berada di sini, aku mau pulang, aku gak mau terjebak lagi di alam gaib"


"Kamu jangan cemas dulu za, kita pasti akan keluar juga dari sini, tapi kita harus cari tau dulu ada apa di desa ini sehingga kita bisa masuk ke dalam desa ini, kita harus cari tau dulu, baru nyari jalan keluarnya, aku rasa ada misteri yang terdapat di desa ini" jawab Angkasa.


"Ya sudah ayo kita cari dulu, baru nyari jalan keluar dari sini"