The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hawa mencekam di rumah pak Jarwo



Mbk Indri mengambil kerudung lalu memakainya dan berlari mendekati Ustadz Zaki yang menunggunya di depan rumah.


"Sudah mas"


"Ayo kita ke sana"


Mbk Indri mengangguk, keduanya berjalan menuju rumah pak Jarwo.


tin


tin


tin


Klakson mobil yang masuk ke dalam halaman rumah membuat mereka semua berhenti.


Ayah dan bunda keluar dari dalam mobil.


"Mau kemana kalian?" penasaran bunda.


"Ke rumah pak Jarwo tante, barusan kami dengar pak Jarwo meninggal dunia" jawab Ustadz Zaki.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un" kaget mereka berdua saat tau hal itu.


"Kenapa pak Jarwo bisa meninggal?" terkejut ayah.


"Kami tidak tau om, kami ingin ke sana untuk nyari tau, di sana juga sudah ada Ustadz Fahri dan yang lain" jawab Ustadz Zaki.


"Ayo kita bareng ke sana" ajak ayah.


Mereka mengangguk lalu berjalan menuju rumah pak Jarwo.


Saat sampai di sana sudah ada banyak orang yang memenuhi rumah pak Jarwo, mereka mendekati kami yang berada di teras rumah pak Jarwo.


"Kenapa pak Jarwo bisa meninggal, apa yang sudah terjadi padanya?" penasaran bunda.


"Pak Jarwo meninggal karena ke tabrak truk bun, dia tadi sempat lari saat di rumahnya ketahuan ada mayat"


"Mayat, mayat siapa yang ada di rumah pak Jarwo?" kaget mereka.


"Gak tau, di antara banyaknya orang yang ada di sini gak ada satupun yang ngenalin, karena kebanyakan sudah menjadi tengkorak, kayaknya sudah lama mereka berada di rumah pak Jarwo sehingga gak ada satupun orang yang ngenalin" jawab Alisa.


Mereka benar-benar sangat terkejut, tak pernah terbayangkan di benak mereka kalau hal ini akan terjadi.


"Kenapa bisa di rumah pak Jarwo bisa ada mayat ya" penasaran ayah.


"Kami gak tau ayah, besok kami akan cari tau" jawab Reno.


"Pak RT kuburan sudah selesai di gali" lapor pak Rahmat yang baru balik dari kuburan.


"Sebentar saya akan lihat apakah Badrul sudah selesai mandiin jenazah pak Jarwo" jawab pak RT.


"Baik pak RT" sahut pak Rahmat.


Pak RT mendekati pemandian."Bagaimana, apakah sudah selesai?"


"Sudah pak RT" jawab mereka kompak.


"Pak, tolong angkat jenazah" titah pak RT pada warga laki-laki yang berada di halaman rumah pak Jarwo.


Para warga itu menghampiri pak RT, kemudian mengangkat jenazah pak Jarwo dan menaruhnya di ruang tamu.


"Papa" tangis mbk Indri saat melihat pak Jarwo yang kini sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Papa maafin Indri, maafin Indri pa, kenapa papa ninggalin Indri hiks hiks"


Ustadz Zaki mengusap punggung mbk Indri untuk menenangkannya.


Jenazah pak Jarwo mulai di kafani, setelah selesai baru di sholatkan.


Pelaksanaan sholat jenazah di laksanakan dengan baik, banyak warga yang ikut menyolati jenazah pak Jarwo.


Aku melihat sekeliling halaman rumah pak Jarwo, mata ku banyak menangkap makhluk-makhluk halus yang menatap ke arah warga-warga dengan tatapan tajam, mereka semua berada di luar halaman rumah, tepatnya di tempat yang gelap.


"Kenapa banyak sekali makhluk halus yang


ngamatin rumah ini, kenapa tadi gak ada, apa mungkin mereka keluar karena tau jika tuannya sudah meninggal" batin ku.


"Kayaknya mereka pada keluar karena tau pak Jarwo meninggal"


"Kok aku jadi ngeri ya za"


"Sstt kamu jangan berisik, nanti ada orang yang dengar"


Alisa mengangguk, ia pun diam tak lagi berkata apa-apa.


Aku terus melihat banyak sekali makhluk-makhluk jenis genderuwo yang berada di luar rumah pak Jarwo.


Mata mereka menyala dalam kegelapan, aku menelan ludah pahit saat melihat banyaknya genderuwo itu.


"Seram banget" batin ku.


Aku melihat ke arah warga yang sudah selesai sholat jenazah, mereka membawa keranda ke pemakaman umum.


"Kalian di sini saja, tunggu kami kembali, gak usah ikut ke sana" suruh Angkasa.


"Kamu jangan lama-lama"


"Iya, aku gak bakalan lama, tunggu di sini, nanti kita pulang bareng" perintah Angkasa.


Aku mengangguk dan menunggu mereka kembali di rumah pak Jarwo.


Angkasa dan sebagian warga lainnya mengantarkan jenazah pak Jarwo ke pemakaman umum.


Warga-warga yang berada di rumah pak Jarwo satu persatu pulang ke rumah masing-masing, di rumah pak Jarwo hanya tersisa aku, Alisa, mbk Indri, bunda dan ayah yang sengaja tidak ikut ke pemakaman umum.


"Bun ayo kita pulang saja, ini sudah malam" ajak ayah.


"Iya ayah, ayo anak-anak kita pulang" ajak bunda.


"Kami mau nunggu yang lain bun, bunda, ayah sama mbk Indri pulang aja, nanti kami akan nyusul kok"


"Ya sudah, kami pulang duluan, tapi ingat jangan kemana-mana lagi, ini sudah malam" peringatan bunda.


"Siap bun" jawab kami kompak.


"Ayo Indri kita pulang" ajak bunda.


Mbk Indri mengangguk, lalu pulang bersama ayah dan bunda.


Di rumah pak Jarwo hanya tersisa kami berdua, sepi dan sunyi, tidak ada satupun orang yang kami lihat.


"Za kok rumah ini tiba-tiba suram ya?"


"Perasan kamu mungkin"


"Tapi bener za, rumah ini kelihatan angker" Alisa mulai merinding saat menatap rumah pak Jarwo.


"Mungkin itu terjadi karena sudah tidak ada pak Jarwo, jadi rumahnya langsung suram karena di tinggal pemiliknya"


"Ayo za kita pulang aja, gak usah nungguin yang lain"


"Udah kita tunggu saja, palingan sebentar lagi mereka akan datang ke sini, kamu gak perlu takut, ada aku di sini, gak bakal ada makhluk halus yang akan ganggu kita kok"


"Iya, aku akan tetap di sini"


Alisa pasrah, ia diam di rumah pak Jarwo bersama ku, kami menunggu kedatangan yang lain.


Rasa merinding datang tiba-tiba, aku dan Alisa mulai tidak tenang, kami mondar-mandir ke sana kemari, kami ingin segera pulang tapi kami yakin kalau sebentar lagi mereka akan datang.


"Kemana mereka semua, kenapa masih belum datang, mereka nyasar kemana?" Alisa terus saja tidak bisa diam, ia terus mondar-mandir karena perasaannya yang tidak enak.


"Apa mereka udah pulang ke rumah ya za?"


"Enggak mungkin sa, mereka pasti datang ke sini dulu, Angkasa kan tadi bilang kalau dia nyuruh kita buat tunggu di sini, palingan sebentar lagi dia akan datang ke sini, kita tunggu saja sebentar"


"Baiklah, aku akan tunggu mereka sebentar lagi, kalau dalam waktu 15 menit mereka gak datang juga, kita harus pulang ke rumah, jangan tunggu mereka lagi"


Aku membalas dengan dehaman.


Kami berdua menunggu kedatangan mereka semua, suasana malam semakin lama semakin mencekam.


Suara-suara hewan memecah keheningan, semakin lama rasa merinding itu semakin menjadi, namun kami hanya bisa diam dan terus saja menunggu kedatangan mereka semua.