
Di sisi lain.
Aku dan yang lain berangkat ke sekolahan, kami sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk mencari bukti yang tertinggal terkait kematian Andin di sekolahan.
Sekitar 20 menit waktu kami tempuh untuk bisa segera sampai di sekolahan.
"Ayo kita langsung cari siapa saja yang terlibat dalam kasus pembunuhan Andin ini, kita bisa tangkap pelakunya, kita gak bisa biarkan dia hidup tenang sementara banyak pihak terluka karena tindakannya" aku berlari setelah mengatakan hal itu.
"Tunggu sa" cegah Angkasa.
Aku berhenti dan menatap aneh ke arahnya."Ada apa, kenapa kamu cegah aku?"
"Kita mau nyari pelakunya di mana, kita gak tau siapa saja yang terlibat, masa kita tanya satu persatu orang yang bersekolah di tempat ini hanya karena ingin mengungkap siapa pelakunya, kan gak mungkin" ucapan Angkasa ada benarnya, aku diam dan mulai berpikir langkah apa yang harus kami lakukan untuk bisa mendapatkan informasi terkait siapa saja yang terlibat di dalam kasus ini.
"Iya juga, terus ini gimana, apa yang harus kita lakuin?"
"Gini aja, kita lebih baik periksa cctv, mungkin saja bukti detik-detik meninggalnya Andin masih ada" saran kak Tias.
"Benar juga, kenapa kita gak berpikir ke arah sana dari kemarin-kemarin" jawab Reno yang teringat pada cctv.
"Ayo kita ke sana sebelum pak satpam dan anak-anak pada datang"
Mereka mengangguk lalu masuk ke dalam sekolah dengan melewati pintu belakang karena gerbang masih di kunci.
Kami melewati tanaman berduri itu dan berlari menuju ruangan cctv yang ada di lantai 1.
Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di depan ruangan cctv.
Reno membuka ruangan cctv itu."Pintunya di kunci, kita gak bisa masuk ke dalam"
"Duh gimana ini, apa yang harus kita lakuin, kita harus cek cctv biar kita tau siapa saja yang terlibat"
"Kalian dobrak aja pintunya, kalau pihak sekolah minta ganti rugi, aku yang akan bayar" suruh kak Tias.
Mereka berdua mengangguk lalu berusaha mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.
Setelah beberapa saat akhirnya pintu berhasil di buka.
Kami langsung masuk ke dalam ruangan cctv.
Angkasa mengotak-atik komputer untuk mencari rekaman detik-detik meninggalnya Andin.
"Stop sa"
Angkasa langsung menghentikan rekaman cctv itu.
"Putar ulang" Angkasa melakukan apa yang aku minta.
Di dalam rekaman cctv itu terdapat 6 orang gadis tak lain adalah Shena, Nadira, Chelsea, Bianca, Gisel dan Hani yang menyeret Andin ke gudang dengan paksa.
Sepanjang perjalanan ke gudang Andin terus berteriak minta tolong, namun karena sekolahan saat itu sedang sepi, semua anak pada pulang, maka tidak ada satupun orang yang menolongnya.
Mereka mengikat tubuh Andin di kursi itu dengan erat meski Andin terus memberontak dan berusaha terlepas dari cengkraman mereka, namun sayangnya hal itu tidak bisa membuatnya bebas karena jumlah mereka lebih banyak dan ia tidak bisa melawan mereka satu persatu.
"Lepasin, jangan ikat aku, lepasin aku" berontak Andin yang tak mau diam.
"Lepasin aku"
"Lepasin aku"
"Lepasin aku, apa kalian tuli"
Teriak Andin yang tak mau diam, ia terus berusaha untuk terlepas dari tali yang mengikatnya namun sangat susah.
"Ngelepasin kamu? itu gak akan mungkin" tegas Hani yang benci sekali pada Andin.
"Kenapa kalian benci banget sama aku, apa salah aku?"
"Kamu gak punya salah apa-apa sih sama kami, hanya saja kamu itu terlalu pinter sehingga derajat kami menurun saat ada kamu, mangkanya kami terus gangguin kamu" jawab Gisel.
"Kami kan udah peringatin kamu buat angkat kaki dari sini, tapi kenapa kamu gak dengarin sama sekali" gereget Chelsea yang ancamannya dan teman-temannya selama ini tak pernah sekali Andin hiraukan.
"Aku gak mau pergi dari sini, aku gak mau, kenapa kalian terus desak aku buat pergi dari sini, aku pengen belajar di sini, kenapa kalian jahat banget sama aku, aku tidak pernah ganggu kalian, tapi kenapa kalian terus gangguan aku"
"Pokoknya apapun yang terjadi aku gak mau pergi dari sini, titik gak pake koma" tegas Andin.
Shena menjambak rambut Andin dengan kasar."Kenapa kamu ngeyel banget, apa kamu gak mikirin konsekuensinya ngelawan kami apa?"
"Iya, kamu dari dulu terus ngeremehin kami, apakah kami harus tunjukkan seperti apa kami sebenarnya?" sahut Nadira.
"Lepasin aku, lepasin aku, aku mau pulang, aku gak mau di sini" berontak Andin tak mau diam.
"Kita gak akan biarin kamu pulang, kamu itu udah gak bisa di diami lagi, kamu harus kami kasih pelajaran biar kamu gak ngeremehin kami terus" Hani berjalan mendekati balok kayu yang berada di dekat pintu.
Andin menelan ludah saat ketika melihat Hani berjalan membawa balok itu dengan terus mendekatinya.
"A-apa yang mau kamu lakuin, jangan lakukan itu" gagap Andin yang gemetaran saat hani terus berjalan mendekatinya dengan sorot mata tajam.
Andin sebisa mungkin berusaha untuk terlepas dari tali yang mengikat tubuhnya, namun tak kunjung bisa.
"H-hani t-tolong j-jangan l-lakuin itu" gagap Andin saat Hani kini berada tepat di depannya dengan sorot mata tajam di tambah lagi ada balkon kayu yang di pegangnya dan hal itu membuat Andin ketakutan.
Bugh!
"Arrrrgghh"
Teriak Andin saat pukulan itu melayang tepat di tubuhnya.
Bugh
Bugh
Bugh
Hani terus menghujani tubuh Andin dengan pukulan.
Bugh
Bugh
Bugh
"Arrrrgghh sakit, hentikan huhu" tangis Andin yang tubuhnya terasa sangat sakit karena pukulan itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Hani terus menghujani tubuh Andin dengan pukulan itu.
Andin terus berteriak, menangis dan minta tolong untuk di lepaskan namun yang mereka semua lakukan hanya tertawa terbahak-bahak ketika melihatnya tersiksa.
Bugh!
Pukulan itu mendarat tepat di kepala Andin sehingga membuat darah segar keluar dari kepalanya.
Seketika Andin langsung tidak sadarkan diri saat balok kayu itu mengenai kepalanya.
Hani melempar balok kayu itu ke sembarang arah setelah melihat orang yang ia benci sudah tidak bergerak lagi.
"Mampus, rasakan itu suruh siapa terus ngeremehin kita" kesal Hani pada Andin, rasa bencinya masih tak kunjung hilang meski saat ini ia sudah membuat Andin tak bergerak lagi.
"Ayo kita tinggalin dia aja, biarkan dia bangun sendiri, dia masih kaki buat pergi dari sini" ajak Shena yang berpikir kalau Andin hanya sekedar pingsan biasa.
Mereka setuju lalu meninggalkan Andin yang tengah sekarat.