The Indigo Twins

The Indigo Twins
Asap hitam



Setelah beberapa menit kami berjalan akhirnya kami sampai di rumah lagi.


"Loh kalian udah pulang aja, apa kalian gak ke rumah pak Jefri, barusan kami dengar dia meninggal?" pandangan kami tertuju pada mbk Hilda yang duduk di dahan pohon bersama mbk Gea dan mbk Santi.


"Udah, sekarang Ustadz Fahri, Angkasa sama Reno lagi pada makamin pak Jefri, bentar lagi mereka juga akan pulang" jawab Alisa.


"Bagaimana dengan mbk Indri, kalian udah jaga dia baik-baik kan?"


"Udah, Indri aman bersama kita, kalian gak perlu khawatir, dia sekarang ada di dalam, sana kalian temuin dia gih" suruh Tiger.


Kami mengangguk kompak lalu berlari masuk ke dalam rumah.


"Mbk Indri, mbk Indri" panggil kami.


"Mbk Indri di mana"


"Ada apa, kenapa kalian manggil mbk?" mbk Indri mendekati kami dengan terburu-buru.


"Tidak mbk, kami cuman mau mastiin aja bagaimana keadaan mbk, mbk gak di ganggu sama makhluk halus kan?"


Mbk Indri menggeleng."Enggak, gak ada yang gangguin mbk kok, kalian tidak perlu khawatir"


"Kalian gak ke rumah pak Jefri" tatapan kami tertuju pada mbk Rinda yang baru keluar dari dapur.


"Udah mbk, pak Jefri sekarang palingan udah selesai di makamin, kami sebenernya mau ikut, tapi sama Ustadz Fahri di suruh pulang aja"


"Oh gitu, mbk mau jemput Arif, Rani sama Dita, kalian jagain Indri ya" pamit mbk Rinda.


"Iya, mbk sana jemput mereka, mereka pasti lagi nungguin mbk" persilahkan Alisa.


"Mbk berangkat dulu, assalamualaikum" salam mbk Rinda.


"Wa'alaikum salam" jawab kami semua.


Mbk Rinda keluar dari dalam rumah, ia melajukan motor menuju sekolahan mereka bertiga.


Kami duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Ustadz Fahri, Angkasa dan Reno.


"Mbk temennya pak Jarwo itu siapa saja?" Alisa mencoba mencari tau barang kali di antara teman-teman pak Jarwo terlibat dalam kasus ini.


"Teman papa banyak, tapi yang paling sering ke rumah dan bahas sesuatu yang bersifat rahasia itu cuman pak Tejo, dia yang sering ke rumah, kalau yang lain kebanyakan rekan bisnis papa yang tinggalnya pada di luar kota" jawab mbk Indri.


"Selain pak Tejo apakah ada warga yang tinggal di sini yang dekat dengan pak Jarwo?"


Mbk Indri diam, ia mulai mengingat-ingat."Kayaknya gak ada deh, mbk cuman tau papa dekat sama pak Tejo, kalau sama warga-warga lainnya mbk gak tau, karena selama ini mbk berada di kota, gak tinggal serumah sama papa"


"Terus siapa ya si gembul yang tadi kita lihat, mbk Indri hanya tau pak Tejo saja temennya pak Jarwo" Alisa penasaran sekali pada si gembul, ia ingin tau siapa si gembul itu.


"Aku gak tau sa, dia kayaknya bukan warga di desa ini"


"Gak mungkin za, dia pasti warga di desa ini juga" yakin Alisa.


"Kamu punya bukti, enggak kan?"


Alisa diam, instingnya mengatakan kalau si gembul adalah warga di desa ini.


"Aku memang gak punya bukti, tapi aku yakin banget kalau dia juga terlibat dalam kasus ini, dia pasti orang suruhan pak Jarwo yang di tugasin buat hancurin restoran" jawab Alisa.


"Nanti kita lempar masalah ini pada om, dia yang pasti akan bisa mengungkap siapa pelakunya"


"Aku belum kasih tau om loh tentang rekaman itu" Alisa teringat kembali pada rekaman pengakuan pak Tejo yang menjadi barang bukti yang kuat yang kami punya saat ini.


"Cepat kamu hubungi om, suruh dia datang ke sini, biar kita bahas kasus ini bersama-sama"


"Assalamualaikum ada apa Alisa?"


"Wa'alaikum salam, om bisa datang ke sini gak, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan pada om, ini penting"


"Kalau sekarang om gak bisa Alisa, om lagi kerja, InsyaAllah kalau nanti malam om bisa ke sana, emang ada masalah apa sa, kenapa kayaknya penting banget?"


"Masalah ini memang penting om, karena masalah ini berhubungan dengan restoran, om nanti jangan lupa datang ke sini, bunda juga akan pulang untuk ngecek langsung keadaan restoran"


"Iya om akan ke sana, om tutup dulu, om lagi banyak kerjaan, assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Pak Heru mematikan sambungan setelah mendengar jawaban Alisa.


"Gimana, apa om akan ke sini?"


"Om gak bisa ke sini, dia lagi sibuk, dia bilang akan ke sini nanti malam, kita tunggu aja om datang ke sini, baru kita berikan rekaman video itu" jawab Alisa.


"Ya udah kita tunggu om ke sini, palingan habis isya' om ke sini"


"Lama banget, ini masih jam 12, kapan malamnya, aku sudah gak sabar buat bahas masalah ini, nanti malam kita akan kembali nyelidiki pak Jarwo, kita harus bisa dapatin bukti kalau dia juga terlibat dalam masalah restoran dan juga telah membuat anak-anak di desa hilang" sahut Alisa.


"Iya nanti kita akan sediliki dia, sekarang kita tunggu saja Ustadz Fahri, Reno dan Angkasa kembali"


Kami diam menunggu kedatangan mereka bertiga.


Aku melirik ke arah Alisa yang terus memainkan hpnya, sedangkan hp ku mati karena tidak ada baterai.


Aku melihat ke bawah, aku langsung menajamkan penglihatan ku saat samar-samar aku menangkap asap hitam di lantai yang pelan-pelan mendekati seseorang.


Aku dengan cepat langsung berdiri menghalangi tubuh orang itu.


"Pergi kau!"


"Ada apa za?" panik Alisa yang langsung menatap ke arah ku.


"Pergii!"


Tiba-tiba kelima makhluk halus yang berada di depan rumah muncul di ruang tamu.


"Ada apa Aliza, kenapa kamu teriak?" penasaran mbk Gea.


Aku tidak menjawab, aku melihat ke arah lantai yang kosong, asap hitam itu hilang saat mereka muncul.


"Barusan aku lihat ada asap yang hitam banget mendekati mbk Indri, mangkanya aku teriak buat ngusir dia"


"ASAP HITAM?"


"Iya, aku lihat dia dekatin mbk Indri, mangkanya aku langsung bangun karena takut asap hitam itu nyelakain mbk Indri"


"Kamu gak lihat ada makhluk halus sebelum melihat asap hitam itu?" aku menggeleng.


"Tidak Tiger, aku tidak lihat makhluk halus di rumah ini, namun tiba-tiba aja ada asap hitam yang mendekati mbk Indri, mangkanya aku panik"


"Kayaknya asap hitam itu adalah makhluk halus, dia pasti ingin berusaha membawa Indri ke desa gaib" feeling kbk Hilda.


"Jangan bilang itu Bima yang ingin berusaha bawa mbk Indri ke alam gaib" curiga Alisa.


"Kayaknya memang iya, kita harus hati-hati ini, kita ada di depan aja dia bisa masuk ke dalam rumah ini, kita gak boleh kecolongan lagi" sahut Tiger.