The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hilda 6



Mbk Hilda sampai di kos-kosan Dela.


"Kau harus merasakan yang namanya terkurung di dalam sel Dela aku tidak terima kau membuat ku seperti ini aku berjanji aku akan melakukan itu tunggu saja hari itu" kata mbk Hilda melihat Dela yang tidur pulas.


Mbk Hilda duduk di samping Dela, Dela tertidur sejak sore hari kini sampai malam hari dia masih tak kunjung bangun juga.


"Kamu ini tidur apa bagaimana Dela kenapa kamu tak kunjung bangun juga apa kamu juga mati hah" kata mbk Hilda.


Keringat-keringat keluar dari dahi Dela seketika tidur pulas Dela terusik.


"Bukan aku pembunuhnya bukan aku, aku tidak membunuh siapapun aku tidak membunuhnya jangan tangkap aku" kata Dela terbangun.


"Obat di mana obat ku" kata Dela mencari-cari sesuatu.


"Kemarin aku menaruhnya di sini kenapa sekarang sudah tidak ada aku harus mencarinya aku harus segera menemukannya" kata Dela di landa kepanikan.


"Kenapa Dela menjadi seperti ini apa yang sebenarnya terjadi padanya" kata mbk Hilda mengerutkan alis.


"Kemana dia kemana" kata Dela memegangi kepala.


"Obat apa yang sebenarnya Dela cari" kata mbk Hilda.


"Nah ini" kata Dela menemukannya.


Dela langsung meminum obat itu.


"Huft huft aman tenang Dela tenanglah jangan panik tidak ada yang tau kamu harus tenang" kata Dela ngos-ngosan.


"Obat penenang" kata mbk Hilda membaca.


"Ternyata psikopat membutuhkan obat penenang juga" kata mbk Hilda tersenyum.


"Nah begitulah ceritanya mengapa Dela membunuh ku cuman karena masalah cinta yang tak terbalaskan alias cinta dalam diam itu saja" kata mbk Hilda.


"Ooh seperti itu tega sekali mbk Dela itu" jawab Alisa.


"Obat penenang apa mbk Dela mengaku karena terbayang-bayang atas apa yang pernah dia lakukan pada mbk Zea dan mbk Hilda ya" kata Angkasa.


"Kayaknya iya sekarang pelakunya sudah tertangkap mbk Hilda kembali sana ke alam selanjutnya" kata ku.


"Gak mau aku masih mau bergentayangan di alam manusia dulu aku mau mengikuti kalian saja boleh gak?" tanya mbk Hilda.


"Boleh-boleh aja kita gak masalahin kok yang penting mbk tidak membahayakan kita" jawab ku.


"Loh kalian ngapain di sini?" tanya suara familiar.


"Bunda" kata kami.


"Jawab ngapain di sini?" tanya bunda.


"Ini loh Bun kita lagi memintai keterangan pada mbk Hilda selaku korbannya" jawab ku.


"Ini teman kamu itu" kata bunda.


"Iya Bun dia teman aku" jawab ku.


"Bunda kira cewek ternyata cowok tadi bunda tidak terlalu memperhatikannya" kata bunda.


Angkasa hanya tersenyum.


"Ayo kita ke depan saja jangan di sini" ajak ayah.


"Iya ayah" jawab kami.


Proses pemakaman mbk Hilda berjalan dengan lancar.


"Udah sore tau Bun kita pulang yuk" ajak Alisa.


"Ibu-ibu saya sekeluarga pamit pulang dulu assalamualaikum" kata bunda.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka.


"Za aku mau langsung pulang aja" kata Angkasa.


"Kamu hati-hati ya gak lupa kan jangan pulang?" tanya ku.


"Enggak kok" jawab Angkasa.


"Tante om semuanya Angkasa pulang dulu assalamualaikum" pamit Angkasa.


"Wa'alaikum salam" jawab kami.


Angkasa melajukan motornya meninggalkan kami semua.


"Orang mana teman kamu itu?" tanya bunda.


"Siapa nama kakeknya?" tanya bunda.


"Darmo" jawab ku.


"Ya Rabb jadi Angkasa cucunya kakek Darmo kamu tau gak papanya Angkasa itu teman masa kecil mama dulu kita sering berangkat dan pulang bareng gak nyangka loh bunda pantesan mukanya Angkasa mirip siapa gitu" kata bunda.


"Terus kenapa sekarang rumahnya kakek Darmo gak ada?" tanya Alisa.


"Mereka itu pindah ke kota tidak ada yang menempati mereka gak pernah pulang ke desa lagi bunda aja gak pernah ketemu Azril lagi setelah lulus SMA" jawab bunda.


"Kasihan bunda kehilangan teman seperjuangannya haha" tawa Alisa bersama ku.


"Dasar kalian ini" kata bunda.


"Ayo kita pulang cepatan sebelum keburu magrib" ajak ayah.


"Bun nanti om mau main ke rumah katanya" kata ku.


"Sendirian apa gimana?" tanya bunda.


"Gak tau juga om gak bilang apa-apa lagi setelah itu" jawab Alisa.


"Gimana berhasil yang membantu makhluk itu?" tanya kakek saat kami sampai di rumah.


"Berhasil dong kakek" jawab kami.


"Bau busuk kalian ini sana kalian mandi setelah itu sholat" kata nenek.


"Baik nek" jawab kami.


Kami berdua masuk ke dalam kamar masing-masing.


Angkasa sampai di rumahnya.


"Lama amat" kata Lani berdiri di ambang pintu.


"Kasusnya lumayan besar ma jadi aku masih menunggu sampai selesai tapi seru tau ma aku pengen berpetualang aja bareng taman aku" jawab Angkasa.


"Iya tapi jangan sampai terluka" kata Azril.


"Oh ya tadi itu aku ke desa Kamboja tau pa ada nenek-nenek yang kenal sama kakek Darmo namanya kalau gak salah itu nenek Darmi" kata Angkasa.


"Desa Kamboja nenek Darmi apa teman kamu itu anaknya Diana?" tanya Azril.


"Iya pa papa kenal sama tante Diana" jawab Angkasa.


"Dia teman masa kecil papa dulu" kata Azril.


"Pa hidup di desa itu nyaman tau pa adem asri tidak seperti di kota berdebu papa bangun lagi ya rumahnya kakek aku mau tinggal di sana saja" tintah Angkasa.


Azril melirik Lani.


"Ayolah ma boleh ya nanti kapan-kapan aku akan pulang ke sini kok aku gak mau jauh-jauh dari teman aku" mohon Angkasa.


"Terus mama sama papa gimana?" tanya Lani.


"Tinggal aja di sini oh ya lebih baik eyang tinggal bareng aku di desa mungkin eyang bisa sembuh nanti kan suasana di sana itu bagus buat kesehatan" jawab Angkasa.


"Ya udah nanti papa bangun kembali besok papa mau ke sana anterin papa ke sana papa mau ketemu sama Diana papa kangen sama dia" kata Azril.


"Dengan senang hati emang papa lupa jalanan ke desa Kamboja?" tanya Angkasa.


"Lupa udah lama papa gak pernah ke sana lagi" jawab Azril.


"Baiklah besok aku akan anterin bye aku mau masuk dulu" kata Angkasa masuk ke dalam kamar.


"Siapa Diana pacar papa ya" tebak Lani.


"Teman papa ma bukan pacar papa gimana mama ini" jawab Azril.


"Beneran?" tanya Lani sedikit tidak percaya.


"Beneran kenapa mama ini kok tiba-tiba jadi kayak gini" jawab Azril.


"Gpp mama cuman nanya doang masa papa gak punya rasa sama Diana itu dia kan teman masa kecil papa" kata Lani.


"Kalau papa ada rasa sama dia papa akan nikahin dia bukan mama" jawab Azril.


"Iya juga sih" batin Lani.


"Udahlah mana jangan berpikir macam-macam ayo masuk" ajak Azril.


Keduanya masuk ke dalam rumah.