The Indigo Twins

The Indigo Twins
Gawat



Mbk Indri melihat ke arah kursi yang aku tunjuk, dengan cepat dia menyeret kursi itu untuk mendekati jendela.


Mbk indri naik ke kursi dan naik ke jendela.


"Ayo mbk pelan-pelan"


Krieet


Wajah kami langsung panik saat mendengar suara pintu yang terbuka.


"Jangan pergii" teriak Bima.


Mbk Indri langsung loncat ke bawah.


"Ayo kita pergi dari sini" mbk Indri mengangguk lalu berlari bersama ku pergi dari rumah pak lurah.


Bima melihat aku membawa istrinya.


"Arrrrgghh" teriak Bima lalu berlari menuju pintu untuk mengejar kami.


Aku dan mbk Indri berlari menjauhi rumah pak lurah dengan tegang dan panik.


"Ayo mbk Indri lebih cepat lagi"


Mbk Indri terus berlari dengan kecepatan yang dia bisa, rok panjang itu membuatnya kesulitan untuk berlari, alhasil dia menyibak sedikit roknya agar tidak menyulitkannya dalam berlari.


Aku dan mbk Indri terus berlari menuju gapura yang masih sangat jauh.


"Berhenti, jangan bawa istri ku" teriak Bima.


Aku melihat ke belakang yang terdapat Bima, mbah Gamik dan nenek yang mengejar kami.


"Gawat mereka ngejar kita mbk, ayo kita harus bisa pergi dari sini secepatnya"


Mbk Indri yang melihat Bima suami gaibnya yang berlari mengejarnya semakin panik, ia berlari dengan kencang untuk menjauhinya.


"Aliza dia ngejar aku, ayo cepat bawa aku keluar" titah mbk Indri yang ketakutan.


"Ayo mbk lewat sana" tunjuk ku ke arah belakang rumah warga, aku tidak lewat di depan rumah warga karena mereka pasti akan membantu Bima, nenek dan mbah Gamik untuk menangkap kami.


Kami berlari menghindari mereka yang terus mengejar kami.


"Jangan pergi, berhenti kalian" teriak mbah Gamik yang terus mengejar kami.


"Ayo mbk Indri, lebih cepat lagi"


Mbk Indri yang di serang rasa panik terus berlari bersama ku.


"Tangkap mereka, jangan biarkan mereka pergi dari sini" perintah Bima pada orang-orang yang ada di sana.


Mereka semua yang melihat mbk Indri dan aku yang berlari membantu Bima untuk menangkap kami.


"Gawat mereka ngejar kita mbk, kita harus bisa keouse dari desa secepatnya" mbk Indri mengangguk, kami berlari dengan berpegangan tangan.


"Jangan pergi"


"Berhenti"


"Jangan bawa istri ku pergi"


"Berhenti"


"Berhenti"


"Berhenti"


Teriakan warga-warga yang mengejar kami, kami yang di kejar semakin panik dan tegang karena di belakang kami banyak sekali warga-warga yang ikut mengejar kami.


"Aliza apakah masih jauh lagi?" cemas mbk Indri yang takut di tangkap sama mereka semua.


"Hampir mbk, lihat itu gapuranya, kita harus sampai di sana secepatnya" tunjuk ku pada gapura yang sudah tidak jauh lagi.


"Ayo Aliza kita harus ke sana segera" ajak mbk Indri.


Aku mengangguk dan terus berlari, sesekali aku melihat ke belakang dan mata ku menangkap warga-warga yang terus mengejar kami yang membuat kami panik.


"Berhenti"


"Jangan ke sana"


"Berhenti kalian"


Aku tidak mendengarkan dan terus berlari ke sana bersama mbk Indri.


"Jangan ke sana, kembalilah" teriak Bima yang terus mengejar kami.


Kami keluar dari desa dengan melewati gapura itu, aku langsung menarik mbk Indri ke samping pohon yang besar untuk bersembunyi.


"Di mana mereka, pergi kemana mereka?" Bima mencari-cari keberadaan kami di dalam hutan yang berada di luar gapura yang sangat gelap.


Aku dan mbk Indri yang bersembunyi di balik pohon memejamkan dan menahan napas agar mereka tidak menyadari keberadaan kami.


"Mereka pasti ada di sini, ayo kita cari mereka" ajak mbah Gamik.


Mereka mulai menyisir hutan untuk menemukan kami.


"Aliza, mbk takut" mbk Indri memegang erat tangan ku, tangan mbk Indri benar-benar dingin, sedingin es batu.


"Mbk gak usah takut, ada aku di sini"


"Aliza bagaimana kalau mereka nemuin kita, mbk tidak mau mereka bawa mbk masuk ke desa itu lagi, mbk takut Aliza"


"Itu tidak akan terjadi mbk, Aliza gak akan biarkan hal itu terjadi, mbk tidak usah khawatir, sekarang kita diam dulu di sini, tunggu keadaan aman baru kita pergi dari sini"


Mbk Indri mengangguk dan diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


Warga-warga itu berusaha mencari kami di sekitar gapura karena mereka yakin kami tidak jauh dari sana.


"Di mana Indri, kenapa tidak ada di sini, anak kecil itu membawa Indri ku kemana?" Bima mulai putus asa saat tidak kunjung menemukan mbk Indri.


"Dia pasti ada di sini Bima, Aliza tidak akan tau cara pergi dari sini, mereka pasti sedang ngumpet, kita harus cari mereka, nenek merasa mereka tidak jauh dari sini" jawab nenek.


Aku yang mendengar hal itu hanya tersenyum mengejek.


"Siapa bilang aku tidak tau nenek, aku tau caranya, kau terlalu ngeremehin aku" batin ku.


tap


tap


tap


Telinga ku mendengar derap langkah kaki seseorang yang mendekat.


Mbk Indri langsung mengeratkan genggaman ketika mendengar suara derap kaki seseorang itu.


"Aliza" lirihnya yang mulai ketakutan.


Aku berdiri dan berjalan ke sebelah barat mencari keberadaan jurang pemisah antara alam gaib dengan alam manusia bersama mbk Indri.


"Aliza kita mau kemana?"


"Mbk diamlah, aku saat ini sedang nyari jalan keluar dari desa gaib ini"


Mbk Indri pun diam, ia terus berjalan mengikuti ku.


"Itu mereka" teriak nenek yang mengenali kami.


Kami tegang ketika mendengar suara teriakan itu.


"Tangkap mereka"


"Gawat kita harus pergi, ayo mbk ke sana" aku menarik mbk Indri untuk berlari ke sebelah barat.


"Jangan ke sana, berhenti" teriak Bima.


Kami tidak mendengarkan hal itu dan terus berlari dalam kegelapan malam yang gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali, namun hal itu tak menyulitkan tujuan kami yang ingin kembali ke alam manusia.


"Tunggu jangan lari, berhenti" teriakan demi teriakan terus terdengar di telinga kami.


Aku dan mbk Indri yang di kejar-kejar oleh mereka terus berlari lurus ke sebelah barat.


"Arrrrgghh" teriak kami saat tubuh kami masuk ke dalam jurang.


"TIDAKkkkk" teriak Bima histeris saat melihat kami masuk ke dalam jurang itu.


"Dia membawa istri ku, ayah dia membawa istri ku, ayah hukum dia, ayah" Bima meracau saat aku berhasil membawa mbk Indri pergi darinya.


"Bima tenanglah nak" pak lurah menenangkan Bima yang tidak bisa diam, ia terus berteriak-teriak karena kehilangan mbk Indri.


"Bagaimana aku bisa tenang ayah, istri ku pergi, anak kecil itu telah membawa istri ku, aku ingin dia kembali ayah, aku ingin dia kembali" titah Bima.


"Ayah akan membawanya kembali, ayo kita pulang dulu" ajak pak lurah.


Terpaksa Bima pun menurut, ia melihat sekilas ke arah jurang pemisah itu lalu berjalan mengikuti pak lurah dan warga-warga lainnya yang kembali masuk ke dalam desa.