The Indigo Twins

The Indigo Twins
Di dengki orang



Aku turun ke bawah menemui yang lain.


"Ayo kita berangkat" ajak Angkasa.


"Mana Reno, kok kalian cuman berdua?"


"Nganterin adeknya, dia bilang akan ke restoran sehabis nganterin mereka" jawab Angkasa.


"Ya udah ayo kita berangkat"


Kami berangkat menuju restoran, aku bersama Angkasa sedangkan Ustadz Fahri sendirian.


Motor melaju dengan bebas di jalanan desa yang sepi dan banyak sekali pohon-pohon yang memenuhi kanan dan kiri.


Cekrik


Mata ku langsung melihat ke sebelah kiri, seseorang masuk ke dalam hutan saat aku menyadari keberadaannya.


"Siapa dia sa?"


"Mana, tidak ada siapapun di sini?"


"Itu yang masuk ke dalam hutan, barusan aku lihat ada orang yang foto-foto kita lalu masuk ke dalam karena aku berhasil lihat dia"


"Mungkin dia di suruh sama seseorang, kita harus waspada aja, bahaya semakin lama semakin mengintai kita"


Aku diam, aku masih terus memikirkan orang misterius itu.


"Siapa dia, kenapa dia main foto-foto aku, apa tujuannya ngelakuin itu, pasti dia di suruh sama seseorang yang benci sama aku, apa orang itu pak Jarwo ya?" batin ku.


"Gak salah lagi, pasti dia biang keroknya, aku harus lebih waspada lagi" batin ku.


Angkasa terus melajukan motor menuju restoran, jalanan desa yang panjang itu sudah usai dan kami bertemu dengan jalanan raya yang besar dan banyak sekali kendaraan-kendaraan yang melintas.


Dengan hati-hati Angkasa melajukan motor menuju restoran, setelah sekitar 27 menit barulah kami sampai di restoran.


Ketika sampai di restoran aku tertegun kala melihat karyawan-karyawan yang berkerumun di depan restoran.


"Kok pada gak masuk?"


"Non restoran di rusak"


"APA"


Aku langsung terkejut saat mendengar ucapan salah satu karyawan.


"Lihat itu non, ada orang yang ngerusak restoran"


Aku melihat banyak kaca restoran yang pecah, kursi dan meja banyak yang patah dan berserakan di mana-mana.


"Siapa yang sudah ngelakuin ini semua"


Aku mengepal erat tangan ku, mereka semua menggeleng cepat.


"Saya tidak tau non, saat saya sampai di sini, restoran sudah begini"


"Ini pasti ada yang dengki za" feeling Angkasa.


"Bagaimana ini, kita gak mungkin bisa kerja kalau restoran kacau kayak gini"


"Kamu telpon bunda dulu, kasih tau beliau biar beliau tau keadaan restoran saat ini" suruh Ustadz Fahri.


Aku langsung menghubungi bunda.


"Ada apa nak?"


"Bun restoran di rusak sama seseorang"


"APA"


"Kenapa bisa di rusak sama orang, siapa pelakunya?"


"Aliza gak tau bun, saat sampai di restoran kondisi restoran sudah kayak gini, ini gimana bun?"


"Kamu tetap berada di sana, bunda akan suruh om kamu biar datang ke sana"


"Baik bun"


"Bunda nyuruh kita tetap di sini, karena om akan ke sini" mereka berdua mengangguk dan menunggu kedatangan pak Heru.


Aku melihat ke arah restoran yang rusak berat.


"Siapa sebenarnya yang sudah berani-beraninya ngelakuin ini semua"


"Pasti dia orang yang gak suka sama keluarga kita"


"Tapi siapa sa, selama ini ayah dan bunda gak punya musuh, mereka selalu ramah sama orang-orang, gak pernah cari gara-gara, tapi kenapa masih ada aja orang yang dengki"


"Itulah manusia, melihat manusia lain di atasnya ia pasti akan berusaha untuk menjatuhkannya" sahut Ustadz Fahri.


Aku menghembuskan napas tatapan ku jatuh pada seorang pria yang memakai pakaian berwarna hitam, wajahnya di tutupi oleh masker berwarna hitam tengah berdiri di seberang jalan, terlihat dia sedang berbicara pada orang yang berada di seberang telepon.


"Siapa dia, kenapa sepertinya dia terus ngamatin restoran ini?" batin ku mempertajam pengelihatan.


"Apa dia orang yang di suruh untuk ngancurin restoran" batin ku mengepal erat tangan ku.


"Heiii"


Orang itu langsung lari ketika mendengar suara teriakan ku.


"Jangan lari"


"Kamu mau kemana za" Angkasa menarik tangan ku yang hendak lari.


"Aku mau ngejar dia, aku yakin dialah orang yang sudah berani ngancurin restoran, kita harus tangkap dia"


Aku kembali melihat ke depan, namun sudah tidak ada dia yang ingin aku tangkap.


"Pergi kemana dia, kenapa cepat banget ngilangnya"


"Dia pasti sudah pergi za, percuma kita ngejar dia, karena dia gak akan bisa kita tangkap"


Aku mendengus kesal."Iih geram, awas saja kalau dia kembali ke sini lagi dan bikin masalah lagi, akan aku laporkan dia ke polisi biar dia masuk penjara"


Salah satu di antara banyaknya orang yang berkerumun di depan restoran merasa ketar-ketir saat mendengar ancaman ku.


"Aliza" aku langsung menoleh ke arah seseorang yang memanggil ku.


"Om lihat ada orang yang sudah ngerusak restoran, om tolong tangkap pelakunya"


"Iya, ayo masuk ke dalam, om ingin melihat keadaan di dalam" ajak pak Heru, aku dan Angkasa serta Ustadz Fahri mengikutinya dari belakang.


Di dalam semuanya kacau balau, pecahan piring-piring memenuhi lantai, banyak kursi-kursi dan meja yang patah, aku ternganga melihat itu semua.


"Ini siapa sebenarnya yang sudah berani ngancurin restoran, dia punya dendam apa, kenapa tega sekali"


"Dia pasti gak suka sama keluarga kita" sahut Angkasa.


"Kamu pernah nyakitin hati orang gak?" aku menggeleng cepat.


"Enggak om, selama ini Aliza gak pernah nyakitin orang lain, mangkanya Aliza heran kenapa bisa ada orang yang dengki dan ngelakuin hal ini semua ke Aliza"


"Kamu saat ini gak lagi nyelesain kasus apapun?" aku terdiam, saat ini masih ada kasus yang sangat besar yang masih belum aku tangkap pelakunya.


"Ada kan, berati dia yang sudah ngelakuin ini semua"


"Masa iya om"


Aku masih setengah tidak percaya kalau kasus besar di desa akan berakibat separah ini pada ku.


"Siapa lagi yang akan tega ngelakuin ini semua kalau bukan dia, kamu saat ini lagi nyelesain kasus apa?"


"Misteri hilangnya anak-anak di desa dan juga perayaan yang tengah di selenggarakan di desa, aku merasa kedua kejadian itu saling berhubungan, mangkanya aku nekat buat nyelidikin pelan-pelan, aku gak pernah berpikir kalau itu semua akan membuat restoran jadi kacau balau kayak gini"


"Itu kasus besar za, kenapa kamu nekat sekali cari tau tentang misteri itu, itu kan sudah terjadi pada masa lampau, kenapa kamu masih nekat, apa mbk Diana gak ngelarang kamu?"


"Ngelarang, cuman sudah terlanjur, ya sudah Aliza terusin aja, sekarang pelan-pelan Aliza udah dapat informasi-informasi penting yang terdapat di desa"


"Kamu sudah tau kenapa anak-anak di desa bisa hilang?" aku menggeleng cepat.


"Masih belum om, sekarang kami curiga pada pak Tejo, orang kaya nomor 2 di desa, dia yang saat ini kami curigai"