The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kemarahan kuntilanak



"Aku menyuruh mu berhenti, kenapa kau malah semakin mengeraskan tawa mu" kata ku tak habis pikir dengannya.


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


"Hihihihihihihi"


Bukannya menjawab dia malah terus tertawa tanpa henti yang membuat ku sangat-sangat terganggu.


Angkasa sudah kesal dengan tindakan kuntilanak itu, dia melirik ke samping kanannya yang terdapat batu, ia mengambilnya lalu melemparkannya ke arah kuntilanak itu.


Plakk


Batu itu mendarat tepat di dahi kuntilanak.


Suara seram kuntilanak langsung menghilang berganti dengan tatapan mata yang sangat tajam berwarna merah, semerah darah.


Tiba-tiba darah hitam mengalir dari pelupuk mata kuntilanak yang benar-benar seram itu.


"Gawat" kata ku tercekat kala melihat kuntilanak yang seramnya minta ampun.


"Sial, ayo lari za" teriak Angkasa.


Dengan cepat aku langsung berlari meninggalkan kuntilanak yang tengah marah besar tersebut.


"Hihihihihihihi"


Tawa kuntilanak yang sangat nyaring dan terdengar sedang marah besar.


Kami berdua yang mendengar itu semua berlari secepat kilat.


"Lebih cepat lagi za, kita harus pergi, sebelum kuntilanak itu ngejar kita" teriak Angkasa yang sudah panik takut kuntilanak seram itu mengejar kami.


"Iya, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya" jawab ku masih terus berlari dengan sangat cepat.


Langkah demi langkah telah kami lakukan hanya karena takut pada kuntilanak yang terlihat sangat marah sekali setelah di timpuk pake batu oleh Angkasa.


Angkasa melihat ke belakang.


"Gawat, kuntilanak itu ngejar kita, ayo za kita harus pergi darinya, kita gak boleh sampai ketangkap sama dia" teriak Angkasa panik setengah mati kala kuntilanak itu mengejar kami dengan di sertai sorot mata seramnya.


"Iya, kita gak boleh sampai ketangkap" jawab ku masih terus berlari secepat kilat.


Kuntilanak itu masih mengejar kami, tatapan matanya begitu sangat seram, dia marah besar kala perbuatan Angkasa mampu membangkitkan emosinya.


"Kalian tidak akan bisa lari dari ku, kalian harus ku beri pelajaran, hihihihihihihi" teriak kuntilanak yang menggelar dahsyat di telinga kami yang saat ini tengah di serang rasa panik.


"Arrrrgghh jangan, jangan kejar kami, pergi kau" teriak ku yang sudah panik bukan main.


"Kalian tidak akan bisa lari kemanapun, kalian harus ku beri pelajaran, biar kalian tidak seenaknya bertindak" hardik kuntilanak itu yang sudah marah besar.


"Jangan lakukan itu, aku mohon lepaskan kami" tintah ku masih terus berlari tanpa henti.


"Aku tidak mau melepaskan kalian, kalian harus tamat" teriak kuntilanak itu sangat keras.


Angkasa yang mendengar itu semua semakin tercekat.


"Gak jangan lakukan apapun pada kami, kami masih ingin hidup" teriak ku yang sudah panik sekali.


"Tak akan aku biarkan kalian hidup, setelah kalian bermain-main dengan ku" marah kuntilanak tak main-main dengan ucapannya.


Angkasa yang hanya mendengarkan perdebatan kami di serang rasa panik.


"Aku gak bisa gini terus, aku harus gunakan sesuatu agar kuntilanak itu tidak mengejar ku, tapi apa yang harus aku lakukan, aku tidak memiliki cara apapun saat ini, bagaimana caranya aku bisa ngusir dia" batin Angkasa yang sudah kebingungan mencari solusi dari masalah yang kami hadapi saat ini.


Angkasa melihat kembali ke belakang.


Matanya menangkap kuntilanak yang wajahnya semakin bertambah seram dan menakutkan.


"Seram sekali dia, aku rasa dia gak akan bisa aku ajak berkompromi karena dia bukan kuntilanak baik, dia tergolong kuntilanak jahat, aku harus bisa lolos darinya, aku gak mau dia mencelakai ku apalagi Aliza" batin Angkasa semakin di serang rasa panik.


"Ayo za, lebih cepat lagi, kita harus pergi dari sini" teriak Angkasa yang berada di depan ku.


Tanpa menjawab aku terus berlari secepat yang aku bisa.


"Hihihihihihihi"


Aku melihat ke belakang, mata ku menangkap wajah kuntilanak yang seram sekali.


"Gawat kuntilanak itu tambah mendekat, aku harus bisa hindarin dia, aku gak boleh ke tangkap, bisa berabe jika aku sampai di tangkap olehnya" kata ku pelan dan masih terus berlari tanpa henti.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku sampai berhasil di tangkap oleh kuntilanak yang sedang marah besar itu.


Angkasa menambah kecepatan, dia berlari secepat kilat.


"Kasa jangan tinggalin aku" teriak ku takut kehilangan dia.


Angkasa menghentikan langkahnya, ia menunggu ku yang saat ini berjarak tak jauh dari posisi berdiri.


"Ayo cepetan" kata Angkasa.


Sekeras mungkin aku berlari dengan cepat untuk mendekatinya.


Setelah sampai tepat di depan Angkasa, kami langsung kembali berlari dengan bergenggaman tangan.


"Kita harus cari cara sa, kita jangan terus menerus lari kayak gini" kata ku.


"Aku gak punya cara apapun za, aku gak bisa ngusir dia za" jawab Angkasa masih lari bersama ku.


"Terus gimana ini, kita gak bisa lari terus, cepat atau lambat kuntilanak itu pasti akan menangkap kita" kata ku yang sudah di serang rasa panik.


"Kita lari aja dulu, gak ada pilihan lain" jawab Angkasa yang sudah berkeringat akibat di kejar oleh kuntilanak yang sangat seram itu.


Mendengar jawaban Angkasa, aku terus berlari secepat yang aku bisa, aku tidak mau di tangkap oleh kuntilanak itu.


"Hihihihihihihi"


Kami terus berlari tak mendongak ke atas sedikitpun, kami masih tetap fokus berlari dengan tangan yang masih berpegangan erat.


Rasa tegang dan panik menyelimuti tubuh kami kala kuntilanak itu masih tak kunjung berhenti juga.


Keringat-keringat dingin terus bercucuran sepanjang jalan.


Rasa takut terus menyatu dalam diri kami kala kuntilanak itu tidak kunjung berhenti dan terus berjalan mengejar kami.


"Hihihihihihihi"


Tawa seram kuntilanak itu lambat laun semakin bertambah seram.


"Sa aku takut" kata ku ku yang merasa begitu sangat tegang dan panik sekali.


"Kamu jangan takut, ada aku di sini, ayo lebih cepat lagi, kita gak boleh ke tangkap" jawab Angkasa terus menenangkan aku meski dirinya merasakan hal yang sama.


Aku terus berlari tanpa henti, rasa lelah tak terasa sama sekali karena ketegangan dan rasa panik begitu mendominasi sehingga rasa lelah itu hilang bagaikan di telan bumi.


"Hihihihihihihi"


Tawa kuntilanak semakin nyaring, dia masih terus mengejar kami yang membuat kami semakin ketakutan.


Tiba-tiba kuntilanak melempari kami dengan batu-batu kecil dari atas.


Kami semakin panik kala kuntilanak itu melakukan itu semua.


"Gawat" kata ku tercekat.


"Ayo sa lebih cepat lagi, kuntilanak itu terus ngejar kita" teriak ku yang sudah semakin panik akibat ulah kuntilanak itu.


Angkasa diam tak menjawab dan hanya terus berlari dengan memegang erat tangan ku, ia tidak mau melepaskan tangan ku walau sedikitpun.


Bugh


Bugh


Bugh


Kuntilanak melempari kami dengan batu-batu kecil dengan membabi buta.