
"Iya, nanti kita selesain kasus itu, sekarang kamu habisin makanan ini dulu, baru kita pulang ke rumah" aku mengangguk lalu Angkasa menyuapi ku hingga makanan itu habis tak tersisa.
Walaupun itu makanan kesukaan ku namun kali ini rasanya agak hambar mungkin karena banyak pikiran yang memenuhi kepala ku sehingga membuat selera makan ku turun.
"Nih minum dulu" aku mengambil air yang Angkasa berikan.
"Ini obatnya, kamu minum biar cepat pulih" aku mengangguk dan meminum obat itu.
"Ayo kita pulang aja, aku udah capek banget, pengen istirahat di rumah aja"
"Iya, ayo kita pulang" ajak Angkasa.
Drrt
Drrt
Drrt
Tiba-tiba hp Angkasa berbunyi.
"Siapa sa?"
"Reno" Angkasa melihat nama Rano yang keluar.
"Ngapain dia nelpon kamu"
"Entahlah, coba aku tanyain dulu, halo ada apa ren"
"Kamu di mana, kita ada di parkiran, kenapa kalian gak ada di sini, kamu bawa Aliza kemana?" Reno dan Alisa tak dapat menemukan kami di area sekitar pemakaman umum.
"Aku bawa Aliza ke puskesmas, kalian gak usah ke sini, Aliza udah mendingan kok, kita juga mau pulang, lebih baik kita ketemu di rumah aja" usul Angkasa.
"Ya udah aku bakal pulang setelah ini, kalian cepat pulang juga" jawab Angkasa.
"Iya kami akan pulang, aku tutup dulu, kita ketemu di rumah aja" setelah mendengar hal itu Reno mematikan sambungan.
"Ayo za kita pulang, Reno sama Alisa juga mau pulang ke rumah" ajak Angkasa.
"Ya udah ayo" aku dan Angkasa keluar dari dalam puskesmas ini dan melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Sepanjang perjalanan aku menatap jalanan yang banyak sekali kendaraan yang berada di kanan dan kiri ku.
"Hati-hati aja sa, gak usah ngebut, gpp lama yang penting pulang dengan selamat" Angkasa mengangguk ia tau mungkin aku trauma pada kejadian Roy yang tewas dalam sebuah kecelakaan maut.
Kendaraan yang tadinya memenuhi kanan dan kiri sudah tidak ada karena saat ini motor sudah masuk ke dalam jalanan desa yang sepi dan sunyi, tak ada satupun orang yang ku lihat.
Di kanan dan kiri ku hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi hingga menutupi langit cerah itu yang membuat jalanan ini agak sedikit gelap.
Aku melihat ke kanan dan kiri namun tidak ada siapapun yang aku temukan.
Angkasa melirik ku dari spion."Ada apa za, apa yang kamu cari?"
"Dukun beranak sama nenek-nenek misterius itu, biasanya kan mereka selalu terlihat saat kita ngelewatin jalanan ini"
"Iya juga" Angkasa baru tersadar akan hal itu.
"Gak tau juga za, ini kan masih siang za, mungkin aja mereka masih belum muncul" jawab Angkasa.
"Mungkin sih, ayo sa cepetan aku ingin segara sampai di rumah, aku mau nanya sama Ustadz Fahri tentang dukun beranak dan nenek-nenek misterius itu, dan juga ada beberapa hal yang ingin aku tanyain padanya"
Angkasa mengangguk lalu menambah kecepatan.
Sepanjang perjalanan motor melaju tanpa hambatan, tak ada kemacetan seperti di kota, namun entah kenapa aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku.
Aku berbalik badan menghadap ke belakang namun tidak ada siapapun.
"Gak ada siapapun, kenapa aku ngerasa kayak ada orang yang ngikutin aku, apa mungkin ini cuman perasaan aku saja" batin ku.
"Mungkin aja sih, ya udah ah aku gak mau mikirin hal itu, gak penting juga" batin ku.
Motor terus melaju hingga pada akhirnya motor berhenti tepat di depan rumah.
"Kalian kemana saja, kenapa lama banget, baru aja aku mau nelpon kalian?" omel Reno yang sedari tadi kocar-kacir ke sana kemari karena kami masih belum sampai juga.
"Di jalan agak macet tadi sehingga buat kami lama nyampe ke sini" jawab Angkasa.
"Ren Ustadz Fahri ada?"
"Ada di dalam, ngapain kamu nyariin dia?" ingin tau Reno yang merasa aneh karena tiba-tiba aku bertanya tentang Ustadz Fahri.
"Ada sesuatu yang mau aku omongin, ayo kita ke sana saja" mereka berdua mengikuti ku dari belakang dan masuk ke dalam rumah.
Kami duduk di ruang tamu."Tadz bagaimana tadi malam, apakah ada orang yang udah di ganggu sama dukun beranak itu?"
"Bukannya ada lagi, tapi banyak banget karena dukun beranak itu terus neror warga-warga yang membuat banyak warga ketakutan sehingga di antara mereka gak ada yang tidur" jawab Ustadz Fahri.
"Segitunya dia buat warga ketakutan, sebenarnya apa yang dia inginkan, kenapa dia lakuin ini sama semua orang"
"Dia semasa hidupnya sering membuat warga kesusahan sehingga saat dia meninggal, dia menjadi gentayangan kayak gini" jawab Ustadz Fahri.
"Ustadz tau gak caranya buat dia berhenti gangguin orang?"
Ustadz Fahri mengangguk."Iya saya tau, nanti gusdur saya akan berangkat ke kuburannya, dia itu udah gak bisa di diamin lagi, maka saya mau gak mau harus lakuin ini biar dia gak gangguin orang-orang lagi" jawab Ustadz Fahri.
Angkasa mengerutkan alis."Ngapain ke kuburannya tadz, apa yang ingin Ustadz lakuin di sana?"
"Saya mau gunain cara yang saya punya, maka dari itu saya akan ke sana, karena dia hanya akan keluar ketika di malam hari" jawab Ustadz Fahri.
"Sebentar-sebentar kalau dia keluarnya di malam hari lalu yang biasanya berada di jalanan desa itu siapa kalau bukan dukun beranak itu?" merasa aneh Reno yang waktu itu melihat dengan jelas seperti apa dukun beranak itu dan kali ini ia mendengar berita yang membuat segalanya semakin tambah membingungkan.
"Yang kalian lihat itu bukanlah sosok dukun beranak yang asli, melainkan jin yang sudah menyerupainya, kalau yang asli masih belum keluar, dia masih ada di makamnya, setelah hari berganti menjadi gelap, biasanya dia akan keluar dan mulai gangguin orang-orang" jawab Ustadz Fahri.
"Pantes aja dia agak aneh, tapi tadz masalah nenek-nenek misterius yang di lihat sama Dita itu gimana, apa Ustadz tau siapa dia?"
"Saya masih belum tau, tadi malam dia datangin saya saat saya keluar dari dalam masjid, saya udah nanya sama warga-warga tentangnya, namun gak ada satupun yang tau siapa dia sebenarnya" jawab Ustadz Fahri.
"Kita harus cari tau tentangnya nanti malam, saat Ustadz udah balik dari kuburan dukun beranak itu kita langsung lanjut keliling kampung buat cari tau dari mana asal nenek-nenek misterius itu, aku meras aneh sama nenek-nenek itu, kenapa dia gak bisa kita lihat saat di meja makan, namun saat mau berangkat ke sekolah, dia malah berdiri di pinggir jalan saat kami udah mau keluar dari jalanan desa, sebenarnya siapa sih dia, kenapa dia datang tak di undang seperti ini, isu orang yang meninggal di desa ini kan cuman satu, kenapa ada dua orang yang gentayangan"