
Ustadz Fahri mengerutkan alis."Emang ada yang palsu?"
"Ada tadz, barusan dia berada di sini, kami merasa dia bukan Ustadz yang asli, mangkanya kami waspada saat melihat Ustadz karena kami gak mau kejadian itu terulang kembali"
"Maksudnya gimana, kok saya jadi bingung, coba kalian cerita" tintah Ustadz Fahri yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Jadi gini tadz tadi itu pas kami sampai di rumah, kami dengar kalau Ustadz udah berhasil ngurung dukun beranak dari mbk Hilda, jadi kami langsung datangin Ustadz, namun ada perubahan dari dalam diri Ustadz"
"Perubahan gimana?" semakin merasa aneh Ustadz Fahri pada kejadian ini.
"Iya ada perubahan, pertama dari segi bahasa ada yang berubah, kedua suaranya terdengar serak seperti nenek-nenek, ketiga wajahnya yang pucat pasi seperti tak teraliri darah sama sekali" jawab Angkasa.
"Kapan kalian ketemu sama dia?" penasaran Ustadz Fahri.
"Barusan tadz, dia baru aja kembali ke dalam kamar Ustadz, mangkanya tadi kami kaget saat lihat Ustadz" jawab Reno.
"Barusan, kok aneh ya, sedari tadi saya keluar, saya gak berada di rumah sama sekali, kenapa bisa ada saya yang kalian temui" merasa aneh Ustadz Fahri.
"Ada apa ini?" mbk Hilda dan keempat makhluk halus itu muncul di ruang tamu.
"Iya, kenapa kalian kayak serius banget, apa yang kalian omongin?" mbk Santi mendapati wajah kami yang serius sekali seperti ada permasalah besar.
"Mereka melihat ada orang yang sama persis dengan saya, tapi ada sedikit perubahan dari diri saya, sedangkan saya sedang tidak berada di rumah" jawab Ustadz Fahri.
"Gak ada di rumah gimana, bukannya tadi Ustadz masuk ke dalam rumah dan kami gak lihat Ustadz keluar rumah sama sekali" terkejut mbk Gea, ia memang tidak melihat Ustadz Fahri keluar dari dalam rumah sampai kami tiba di rumah.
Kami bertiga langsung terkejut, kami mulai gelisah takut Ustadz Fahri yang ada di depan kami ini adalah Ustadz Fahri yang palsu.
"Iya tadi memang saya masuk ke rumah, tapi untuk menunaikan sholat saja" jawab Ustadz Fahri.
"Kok aku jadi bingung, ini sebenarnya kenapa, kok bisa gini" bingung Reno pada apa yang terjadi kali ini.
"Coba deh Ustadz cerita, biar kami ngerti"
"Jadi tadi itu....
Ustadz Fahri keluar dari kamar mandi setelah selesai wudhu, beliau menunaikan sholat magrib di dalam kamarnya sebelum waktu magrib keburu habis.
Setelah menunaikan sholat magrib, Ustadz Fahri melirik ke arah kendi yang di dalamnya terdapat dukun beranak.
"Aku harus buang kendi itu di laut secepatnya, dia tidak bisa ku taruh di sini, karena aku takut ada makhluk halus lain yang akan bebasin dia"
"Iya, aku harus berangkat ke laut sekarang juga, aku tidak mau nunggu hari esok"
Ustadz Fahri dengan terburu-buru bersiap-siap untuk berangkat ke laut yang lumayan jauh dari rumah ini.
Setelah selesai bersiap-siap Ustadz Fahri keluar dari dalam kamar dengan membawa kendi itu, sebelum pergi ia tidak lupa mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu.
Ustadz Fahri berjalan mendekati pintu, namun niatnya terpaksa ia urungkan ketika melihat genderuwo itu yang masih berada di depan pagar.
"Kenapa dia masih ada di sana, bagaimana caranya aku pergi dari sini, aku tidak bisa lewat pintu depan, aku harus lewat mana lagi?"
Bingung Ustadz Fahri yang terus melihat ke arah genderuwo itu yang masih bercakap-cakap dengan kelima makhluk halus yang berusaha untuk membuatnya tak masuk ke dalam rumah ini.
"Aku lewat pintu belakang saja, secepatnya aku harus bisa buang kendi ini di laut agar tidak ada yang berusaha untuk ngebebasin dukun beranak ini"
Ustadz Fahri bergegas keluar dari dalam rumah dengan melewati pintu belakang.
"Assalamu'alaikum pak RT"
"Wa'alaikum salam, ada apa Ustadz?" terkejut pak RT saat melihat Ustadz Fahri di depannya.
"Bolehkah saya meminjam motor pak RT?"
"Untuk apa Ustadz?" penasaran pak RT.
"Saya ingin membuang kendi ini di laut pak RT, saya sudah berhasil nangkap dukun beranak itu, sekarang dia sudah berada di dalam kendi ini, sekarang hanya tinggal membuangnya saja di laut biar dia tidak kembali mengganggu orang-orang di desa" Ustadz Fahri memperlihatkan kendi itu pada pak RT.
"Kalau seperti itu saya akan antar Ustadz saja ke sana, karena saya juga sudah lelah dengar aduan warga yang terus di ganggu oleh dukun beranak itu" Ustadz Fahri merasa senang saat pak RT mau membantunya.
"Terima kasih pak RT sudah berkenang membantu saya"
"Saya yang seharusnya berterima kasih pada Ustadz, karena Ustadz lah orang yang berani menghentikan gangguan itu dengan cara menangkap dukun beranak itu" jawab pak RT.
"Sama-sama pak"
"Ayo tadz naik, saya akan antarkan Ustadz ke sana" Ustadz Fahri naik ke motor itu lalu pak RT melajukan motor menuju pelabuhan yang lumayan jauh dari desa ini.
"Pak RT apakah posisi laut itu jauh dari sini?"
"Lumayan tadz, tapi Ustadz tidak perlu khawatir karena saya pasti akan antarkan Ustadz ke sana" jawab pak RT.
"Terima kasih pak RT"
"Sama-sama"
Motor terus melaju, di kanan dan kiri hanya ada pohon yang menjulang tinggi, hawa mencekam terus terasa di dalam diri Ustadz Fahri ketika melewati jalanan desa yang sepi dan sunyi itu.
"Kenapa hawa jalanan ini bikin merinding, biasanya walaupun jam 12 aku pulang gak kayak gini, ada apa ini sebenarnya, apa karena aku bawa kendi ini bersama ku" batin Ustadz Fahri melihat kendi itu.
"Kalau seperti itu aku harus bisa segara sampai di lautan sebelum ada kejadian yang tidak di inginkan" batin Ustadz Fahri.
"Pak RT tolong lebih cepat lagi" pak RT mengangguk lalu ngebut agar segera sampai di lautan.
Setelah sekitar 1 jam-an mereka sampai di pelabuhan yang lumayan ramai karena banyak kapal yang datang.
"Ustadz buang kendi itu di sana saja" tunjuk pak RT ke arah bagian pelabuhan yang sepi.
"Baik pak RT, pak RT tunggulah di sini sebentar" pak RT mengangguk, Ustadz Fahri berjalan menuju lautan itu.
"Bismillah semoga dia tidak kembali" harapan Ustadz Fahri lalu melempar kendi itu ke lautan.
Byur!
Kendi itu masuk ke dalam lautan dan tak terlihat lagi.
"Sekarang dia tidak akan bisa ganggu orang-orang lagi" senyum Ustadz Fahri saat sudah berhasil membereskan dukun beranak itu.
Ustadz Fahri mendekati pak RT kembali."Sudah selesai tadz?"
"Sudah pak RT, ayo kita pulang ke desa lagi" pak RT mengangguk lalu melajukan motor menuju desa lagi.