The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tahan amblas



Dengan berpegangan tangan kami berlari menuju gapura desa.


"Ayo za lebih cepat lagi, kita harus sampai di sana, kita tidak bisa diam di sini lagi, di sini bukanlah tempat kita, kita harus bisa keluar dari sini" ajak Angkasa dengan terus berlari di kegelapan malam yang sepi dan sunyi karena semua orang berada di rumah pak lurah.


"Iya, aku juga tidak mau berada di sini lagi, kita harus bisa keluar dari sini secepatnya, kita tak bisa lama-lama berada di sini karena takutnya ada makhluk halus yang melihat kita"


"Ayo za kita harus lebih cepat lagi, perjalanan kita masih jauh" teriak Angkasa.


Aku mengangguk dan terus berlari bersama Angkasa.


Langkah demi langkah terus kami lakukan, kami ingin segera sampai di gapura secepatnya.


Kami sudah melewati 4 rumah warga yang sepi dan sunyi itu karena pemiliknya ada di rumah pak lurah.


Kini hanya tinggal melewati dua sawah yang panjang dan luas itu.


Hanya beberapa menit kami habiskan untuk melewati sawah yang besar itu kini kami berlari mendekati gapura.


Tiba-tiba Angkasa menarik ku masuk ke dalam semak-semak.


"Ad-


"Sstt"


Aku pun diam dan tak berani bertanya karena telinga ku mendengar derap langkah kaki yang mendekat.


tap


tap


tap


Langkah kaki itu semakin mendekat.


Aku dan Angkasa diam dengan menahan napas agar kami tidak ketahuan.


tap


tap


tap


Suara langkah kaki itu menjauhi semak-semak yang di dalamnya ada kami berdua.


Aku bernapas lega saat dia sudah pergi dari sini dan keberadaan kami tidak ketahuan.


"Syukurlah dia sudah pergi" lega Angkasa.


"Kenapa kamu narik aku ke sini, emang barusan itu siapa?"


"Lihat, itu orang yang barusan lewat" tunjuk Angkasa pada makhluk berbulu hitam yang berjalan ke sebelah utara.


Aku melihat makhluk hitam itu yang terus berjalan ke sebelah utara hingga pelan-pelan tubuhnya sudah tak terlihat karena jarak yang jauh.


"Kenapa aku gak lihat dia sebelumnya ya"


"Kamu terus lihat ke belakang sedari tadi mangkanya gak lihat kalau akan ada makhluk halus yang masuk ke desa gaib ini, aku dari kejauhan udah bisa ngenalin kalau yang akan masuk ke desa adalah makhluk halus" jawab Angkasa.


"Gak aman lama-lama berada di sini, ayo kita pergi dari sini, aku gak mau berada di sini lebih lama lagi"


"Iya, ayo kita keluar dari sini secepatnya" Angkasa keluar dari dalam semak-semak di susul oleh ku.


Kami berdua kembali berjalan menuju gapura.


Aku merasa sangat lega saat kami kini sudah keluar dari dalam desa gaib.


"Ini kita harus kemana lagi, kita gak tau jalan keluar dari desa ini?"


"Kita harus cari za, pasti jalan keluarnya ada di sekitar sini" Angkasa mulai mencari jalan keluar dari desa gaib.


Aku membantu Angkasa mencari jalan keluar dari sini.


"Sa ada jurang"


"Mana" Angkasa yang berada di sebelah timur langsung berlari mendekati ku yang berada di sebelah barat.


"Jurang apa ini, kenapa berada di luar desa?" Angkasa mulai curiga pada jurang itu.


Angkasa mendekati jurang, ia ingin tau isi di dalam jurang itu.


Angkasa tak sengaja menginjak tanah yang amblas dan-


"Arrrrgghh" teriak Angkasa yang menarik ku masuk ke dalam jurang itu.


"Arrrrgghh" teriak ku terbangun, kini aku di landa kebingungan saat melihat ruangan yang serba putih bukan hutan lagi ataupun desa.


"Di mana aku ini, kenapa aku berada di sini?"


Aku merasa aneh pada ruangan itu, tatapan ku kini jatuh pada tangan ku yang di infus.


"Kenapa aku bisa berada di rumah sakit, perasaan tadi aku berada di alam gaib karena masuk ke dalam lemari gaib, kenapa sekarang tiba-tiba aku berada di rumah sakit" bingung ku yang tak tau apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Krieet


"Aliza kamu sudah bangun nak" bunda mendekati ku yang melihat ku siuman.


"Bun kenapa Aliza bisa berada di sini?"


"Kamu dan Angkasa di temukan pingsan di rumah mbah Gamik, bunda langsung bawa kamu ke rumah sakit, kenapa kamu bisa pingsan za, ada apa sama kamu?" khawatir bunda pada ku.


Aku mengernyitkan dahi karena cerita bunda bertolak belakang dengan apa yang aku alami.


"Sekarang di mana Angkasa bun, kenapa dia gak ada di sini?"


"Angkasa ada di kamar sebelah" jawab bunda.


"Aliza mau ke sana, Aliza ingin ketemu sama dia"


"Jangan nak, kamu baru siuman, nanti saja ketemu sama Angkasanya" larang bunda.


"Aliza gak mau bun, Aliza mau ke sana sekarang, ayo anterin Aliza ke sana"


"Gak usah za, aku udah di sini" pandangan ku tertuju pada Angkasa yang berjalan masuk ke dalam kamar dengan di dampingi papa dan mamanya.


Di belakang Angkasa ada Alisa, Reno, Dita, Ustadz Fahri dan ayah yang mengikutinya.


"Gimana keadaan kamu Aliza, udah mendingan?" tante Lani mendekati ku.


"Udah tante, Aliza udah mendingan, bunda Aliza mau pulang, ayo kita pulang, Aliza gak mau di sini"


"Kamu itu baru siuman, masa mau pulang aja" terkejut bunda mendengar permintaan ku.


"Aliza baik-baik aja bunda, gak ada luka serius kok, ayo kita pulang aja, Aliza gak mau di sini"


"Jangan dek, kamu masih belum sembuh total, nginep di sini beberapa hari dulu, kamu itu baru siuman setelah 7 hari kamu tidak sadarkan diri" larang ayah.


"APA 7 hari?"


Terkejut kami ketika tau sudah selama itu kami pingsan dan di rawat di rumah sakit ini.


"Iya, mangkanya kalian harus di rawat di sini dulu, sampai keadaan kalian benar-benar pulih" jawab om Azril.


"Tunggu-tunggu kenapa kita bisa selama itu pingsannya sedangkan kita tidak merasa pingsan sama sekali?"


"Iya, kita kan awalnya berada di rumah mbah Gamik, kenapa pas bangun-bangun kita udah berada di rumah sakit aja, ada apa sebenarnya ini, kenapa aneh sekali" Angkasa juga merasa bingung pada apa yang telah terjadi.


"Sebelumnya saya mau nanya kenapa kalian bisa pingsan di ruangan khusus itu?" penasaran Ustadz Fahri.


"Pingsan, kami tidak pingsan Ustadz"


"Tapi kami nemuin kalian dalam keadaan pingsan, kenapa kalian bilang gak pingsan, jelas-jelas kalian pingsan di kamar dukun itu" sahut Alisa.


"Enggak sa, aku sama Angkasa gak pingsan tapi cuman...


"Cuman apa?"


Mereka semua penasaran pada kelanjutannya.


"Cuman pas kami buka lemari besar yang ada di dalam kamar khusus itu, tiba-tiba kami masuk ke dalamnya dan berakhir di sebuah desa yang aneh sekali dan penduduk di desa itu seperti orang-orang jaman dulu yang kuno sekali"