The Indigo Twins

The Indigo Twins
Takut Tiger



Bel nyaring berbunyi.


Seketika suara bel itu mengalihkan perhatian ku.


"Ayo sa kita langsung ke kelas, aku gak mau telat lagi kayak tadi" ajak ku trauma dengan kejadian yang tadi menimpa ku.


"Iya ayo" jawab Angkasa.


Aku dan Angkasa berlari menuju kelas dengan secepat kilat, kami tidak mau telat dan di hukum lagi seperti tadi.


"Kasihan tuh dua orang haha" tawa Alisa menatap punggung kami.


"Aku mau ke kelas dulu, nanti kita ketemu di perkiraan aja" kata Reno.


"Siap" jawab Angkasa.


Keduanya melangkah meninggalkan taman dan menuju kelas masing-masing.


Alisa melangkah menuju kelasnya dengan langkah yang sangat santai, ia nampak malas untuk masuk ke dalam kelas.


"Bismillah aja semoga gak ada gangguan dari mereka yang bermata dua" kata Alisa dengan mengembuskan nafas.


Alisa melewati koridor, tatapannya tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu seakan tengah menunggu kedatangannya.


"Ngapain tuh anak ada di sana, hadeh males banget aku ketemu lagi sama dia, pen cepat lulus gimana caranya ya" batin Alisa sudah mumet dengan segalanya.


Dengan langkah malas Alisa melangkah mendekati seseorang itu.


Dia melencangkan tangan untuk menghalangi Alisa masuk ke dalam.


"Apa mau mu?" tanya Alisa menatap musuh bebuyutannya itu.


"Jangan dok berani deh, ingat udah gak ada Dava yang melindungi mu, dia sudah pergi, dia tidak akan bisa melindungi mu lagi" jawab Roy.


"Apa hubungannya sama Dava, kamu jangan sok hebat deh" kata Alisa.


Tatapan mata Alisa menatap tajam ke arah Roy tanpa berkedip.


"Jangan belagu nanti ku hajar tau rasa" kata Roy lalu masuk ke dalam kelas begitu saja.


"Manusia yang aneh, iih kenapa dia pake satu kelas sama aku sih, pen pindah rasanya hati ini, huft sabar Alisa kamu harus sabar, cuman tinggal 3 tahun lagi kok, akkkhh 3 tahun itu lama, aku gak sanggup lama-lama berada di dalam posisi ini" kata Alisa.


Dengan malas Alisa masuk ke dalam kelas dan menunggu guru datang.


Di sisi lain.


"Akhirnya nyampe juga" kata ku.


"Wihh gak telat lagi nih, malahan datang lebih awal tau, ada angin apa nih" ejek Roki yang duduk tepat di belakang ku.


Aku menoleh ke belakang dengan tatapan mata malas.


"Ihh bhawel, bisa diam gak sih, gak usah ngurusi hidup orang bisa gak" kata ku yang sedang tidak bersahabat.


"Gak bisa, aku gak bisa diam memang, kenapa kau" jawab Roki.


"Nih anak kalau di ladenin akan merambat kemana-mana mulutnya, males banget aku harus berdebat dengan dia" batin ku.


Aku tidak menghiraukan dia lagi, aku mengeluarkan buku dari dalam tas dan mengikuti pelajaran terakhir.


Bu Riska masuk ke dalam kelas, beliau yang mengisi pelajaran terakhir hari ini.


Aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik kali ini meski Roki dan teman-temannya terus saja mengganggu ku tapi aku berusaha tak memperdulikannya.


"Aliza oh Aliza" panggil Roki dengan suara pelan.


Sungguh suara pelan itu membuat ku tak fokus ke pelajaran.


"Ada-ada saja ulah mereka, iih menyebabkan sekali, mereka pasti mau aku di hukum seperti tadi, dasar teman tidak berhati" batin ku kesal.


"Sabar za sabar, kamu jangan kepancing dengan mereka, kamu harus tetap tenang, ingat jangan ladeni mereka" batin ku berusaha untuk tidak tenang di era pertempuran yang sesungguhnya.


"Aliza ku yang cantik" panggil Roki lagi.


"Ck apaan sih Roki ini, bisa diam gak sih, gak usah godain pujaan hati ku" batin Angkasa yang tak suka dengan perbuatan Roki.


"Aliza" panggilnya lagi.


Aku menghembuskan nafas kasar, aku menoleh ke belakang dengan tatapan maut.


Mulut keempat anak yang menganggu ku langsung terdiam.


"Bisa diam gak sih, lama-lama ku getok pala mu juga hahh" ancam ku yang sudah sangat terganggu dengan ulahnya.


"Kenapa Aliza?" tanya Bu Riska.


Aku langsung kembali menghadap ke depan menatap ke arah beliau.


"Ini Bu Roki gangguin saya terus yang membuat saya gak bisa konsentrasi" jawab ku.


"Benaran Roki?" tanya Bu Riska.


"Enggak kok Bu, ini Aliza cuman minta tanda tangan saya" jawab Roki berbohong.


Aku mengernyitkan alis mendengar jawabannya yang tak masuk akal.


"Ogah aku minta tanda tangan sama orang


tukang pendusta seperti mu, GAK SIDO AKU" tegas ku.


"Dasar pembual, pintar sekali Roki mengarang cerita yang tak benar sama sekali, huft menyebalkan" batin ku.


"Hmm Roki kamu pindah aja kalau masih mau gangguin Aliza" suruh Bu Riska.


"Enggak Bu enggak" jawab Roki.


"Roki-roki kalau mau mengarang cerita, ya jangan cerita yang tidak masuk akal kali, mana ada anak yang akan percaya sama ucapan situ, emang kamu itu aktor apa sehingga Aliza ingin meminta tanda tangan mu" batin Angkasa tergelak.


Roki menatap Angkasa yang berusaha menahan tawanya.


"Dasar tuh anak, senang banget kayaknya, awas saja kau ya" batin Roki menatap tak suka.


Aku kembali bernapas lega karena Roki sudah tak lagi mengganggu ku.


Kringggg


Bel pulang berbunyi.


Anak-anak bersorak gembira kala mendengarnya.


"Ayo sa kita langsung ke parkiran aja" ajak ku.


"Iya ayo" jawab Angkasa dengan suara lemas.


Aku mengernyitkan alis mendengar jawaban Angkasa yang tampak tak semangat.


"Kamu kenapa, kok kayak gak semangat gitu?" tanya ku.


"Enggak apa-apa, ayo kita ke parkiran aja" jawab Angkasa.


Aku dan Angkasa berjalan menuju parkiran, aku tak lagi bertanya tentang sikapnya yang tiba-tiba aneh.


Saat sampai di sana sudah ada Reno dan Alisa.


"Ayo kita langsung pulang aja, eh tunggu-tunggu pak poci itu kemana kok gak nyamperin kita lagi?" tanya Alisa merasa aneh.


"Gak tau juga, kemana ya dia" kata ku melihat ke kanan dan kiri.


Angkasa ke sebelah timur, terlihat seorang pocong bermata hitam tangan bersembunyi di dekat pohon pisang.


"Itu dia orangnya" tunjuk Angkasa padanya.


Aku menatap aneh ke arahnya.


"Kenapa dia bersembunyi di sana" kata ku merasa bingung.


"Dia takut pada ku, kalian samperin sana dan bilang kalau aku tidak akan membahayakannya" jawab Tiger.


"Ayo kita samperin dia, kasihan dia pasti sangat membutuhkan bantuan kita" ajak ku.


Kami melangkah mendekati pocong pisang itu.


"Hai pak poci" sapa ku.


"Kalian kapan mau membantu ku?" tanya pak poci.


"Sekarang, tapi kami mau pulang dulu buat minta izin sama ayah dan bunda, pak poci ikutlah bersama kami, kami tidak tau di mana jalan menuju rumah warga di desa sebelah yang pak poci maksud" jawab ku.


"Aku takut padanya, dia akan mencelakai ku" kata pak poci melihat Tiger dengan takut.


"Tidak pak poci, dia itu baik, dia tidak akan mencelakai pak poci, pak poci tenang saja, ayo ikutlah pulang bersama kami" ajak Alisa.


Pak poci mengangguk lalu ikut bersama kami pulang ke desa Kamboja.