
Tiger dan genderuwo itu muncul di tengah hutan yang gelap dan sepi.
"Kau sudah berani bermain-main ku, apa kau tidak tau siapa diri ku sehingga kau berani membawa ku ke sini" kata genderuwo marah.
"Aku tau siapa dirimu, kau adalah genderuwo bodoh dan lemah yang pernah aku temui di muka bumi ini" hina Tiger.
"Berani sekali kau menghina ku" suara genderuwo menggelegar dahsyat.
"Kau memang pantas untuk di hina, makhluk rendahan yang hanya di jadikan budak oleh manusia untuk menyesatkan manusia lain, hmm dasar rendahan" hina Tiger tersenyum mengejek.
Wajah genderuwo memerah mendengar hinaan itu.
"Tutup mulutmu, kau juga sama bukan aku saja" tegas genderuwo penuh penekanan.
"Jangan samakan aku dengan mu, karena kita jelas berbeda, aku di tugaskan untuk menjaga cucu dari tuan ku, berbeda dengan kau yang hanya di jadikan budak oleh dukun tak berperasaan itu" bantah Tiger.
Genderuwo semakin meradang ia menyerang Tiger dengan kekuatan sihirnya.
Spals
Sihir itu meleset, Tiger berhasil menghindar.
Tiger tersenyum sinis pada genderuwo itu.
"Itu punya mu, dan ini punya ku" kata Tiger.
Tiger tanpa aba-aba langsung menerkam genderuwo, mencabik-cabik tubuhnya dan terdengarlah suara teriakan genderuwo yang kesakitan.
"Lepaskan aku, hentikan" teriak genderuwo.
Tiger tak menggubrisnya dan malah semakin menggila.
"Arrrrgghh" teriakan genderuwo panjang.
Tubuh genderuwo tersayat-sayat oleh kuku Tiger, bulu-bulu yang menempel di tubuh genderuwo menjadi rontok, darah mengalir dengan banyak.
"Jangan pernah ganggu tuan ku lagi, kalau kau masih mau hidup di alam manusia, sampai aku tau kau masih ingin berusaha mencelakai tuan ku aku akan langsung memberimu pelajaran dan tunggulah saja kematian mu" peringatan Tiger lalu menghilang dari hadapan genderuwo.
"Akkkkhh dasar Tiger tidak berguna, apa yang sudah dia lakukan, dia merusak tubuh ku, aku harus laporkan hal ini pada Ki Suryo biar dia yang akan membereskan Tiger" kata genderuwo lalu menghilang.
Aku dan Angkasa mendekati suster bagian administrasi, setelah selesai membayar kami hendak berbalik namun sesuatu menarik perhatian kami.
"Bunda ayah" panggil ku.
Aku berlari memeluk mereka.
"Kenapa kamu sendirian, mana kakak mu?" tanya bunda menangkup wajah ku.
"Ada di sana, bunda pak Beni meninggal hiks" tangis ku kala teringat kejadian tadi.
"Kok bisa?" kaget mereka.
"T-tadi itu" perkataan ku terjeda aku tak sanggup meneruskannya.
"Tadi itu saat kami sedang berusaha membebaskan Rani, tiba-tiba orang tua Reno mengetahuinya, mereka tanpa pikir panjang menembak pak Beni hingga beliau tidak terselamatkan lagi" jawab Angkasa menceritakan kejadian tadi secara singkat.
"Huhu bunda ayah aku gagal" tangis ku memeluk tubuh mereka.
"Sudah jangan nangis, ini semua di luar dugaan kalian, kamu jangan merasa bersalah, kegagalan itu memang selalu ada, kamu jangan menyerah terus berusaha membantu mereka semaksimal mungkin, selebihnya itu terserah pada Allah, hanya dia yang tau hasil akhirnya" kata bunda menghapus air mata ku.
"Iya dek kamu jangan nangis, yang penting Rani dan Reno selamat, kita doakan saja semoga pak Beni tenang di alamnya" kata ayah.
Aku mengangguk dan tak lagi menangis.
"Ayo kita temui kakak kamu dan yang lainnya" ajak bunda.
Kami berjalan ke ruangan perawatan Rani.
Di sisi lain.
Mobil Robi memasuki desa Pongkolan yang sangat suram.
Mobil itu berhenti di depan rumah Ki Suryo, Desi dan Robi keluar dari dalamnya lalu mengetuk rumah Ki Suryo.
"Permisi Ki" kata Robi dengan mengetuk pintu.
Tak lama dari itu keluarlah Ki Suryo dari dalamnya.
"Ada apa?" tanya Ki Suryo dengan wajah dingin.
"Ki Reno dan Rani berhasil pergi dari rumah, kami ingin meminta bantuan mu agar mereka bisa kembali lagi ke sini" jawab Robi.
"Masuklah ke dalam dan tunggu dulu di sana" kata Ki Suryo.
"Baik Ki" jawab mereka menuruti.
Desi dan Robi duduk di ruang tamu yang beralaskan karpet.
Ki Suryo masuk ke dalam salah satu ruangan yang biasa di gunakan untuk bersemedi.
Ki Suryo membakar dupa lalu memejamkan mata.
Tak lama dari itu datanglah anak buah Ki Suryo yang berbeda alam dengannya.
"Ada apa Ki memanggil kami?" tanya Topen.
"Kemana Jo, kenapa dia tidak melaporkan apapun tentang anak yang akan di jadikan tumbal esok malam" kata Ki Suryo.
"Kami juga tidak tau Ki" jawab mereka.
Jo muncul di depan mereka dengan tubuhnya yang baru di hancurkan oleh Tiger.
"Ampun Ki" kata Jo.
"Jo kenapa kamu bisa seperti ini, siapa yang sudah melakukannya?" tanya mereka terkaget.
"Saya bisa seperti ini karena harimau penjaga kedua anak indigo yang membantu Reno biar bisa terbebas dari penumbalan esok malam" jawab Jo.
"Kurang ajar, kenapa mereka begitu berani membantu tumbal ku meloloskan diri, apa mereka tidak berpikir kalau mereka akan terkena imbasnya" geram Ki Suryo.
Wajah Ki Suryo amat marah mendengar hal itu.
"Saya juga tidak tau Ki, mereka memang pantas untuk di beri pelajaran biar tidak seenaknya membebaskan tumbal kita lagi" kata Jo.
"Jo dan kalian semua bawa kembali Reno dan Rani ke sini, aku mau kedua bocah itu kembali bagaimanapun caranya" perintah Ki Suryo.
"Baik Ki kami akan berusaha, kami permisi dulu" jawab mereka lalu menghilang dari hadapan Ki Suryo.
Dengan wajah kesal Ki Suryo berjalan menemui orang tau Reno.
"Bagaimana Ki?" tanya Desi.
"Anak buah ku sedang berangkat untuk membawa mereka berdua kembali, jika sampai anak buah ku tak berhasil melakukannya, kalianlah yang akan aku jadikan tumbal untuk mengantikan posisi Reno" jawab Ki Suryo.
Wajah keduanya begitu ketar-ketir mendengar hal itu.
Desi hendak bicara.
"Hak ini tidak bisa di ganggu gugat, inilah resiko yang harus kalian tuai, kalian tunggu saja di sini sampai anak buah ku kembali, awas jangan kemana-mana" perintah Ki Suryo.
"Baik Ki" jawab mereka.
Ki Suryo kembali masuk ke dalam ruangan khusus itu.
"Pa gimana ini, mama gak mau mati konyol seperti ini, mama masih mau hidup" kata Desi.
"Papa juga tidak tau ma, kita lebih baik pergi saja dari sini jangan turutin Ki Suryo, kita harus selamatkan diri" usul Robi.
"Itu ide yang bagus, ayo pa kita langsung pergi saja dari sini mumpung Ki Suryo tidak tau" ajak Desi.
"Iya ayo ma" jawab Robi.
Dengan terburu-buru mereka berdua keluar dari dalam rumah Ki Suryo dan masuk ke dalam mobil.
Robi melajukan mobil dengan kecepatan paling tinggi agar ia dan Desi bisa pergi dan tak tertangkap oleh Ki Suryo.