The Indigo Twins

The Indigo Twins
Lukisan aneh



"Enggak tau kita, samperin aja yuk" ajak ku.


Kami berdua mendekati Angkasa.


Dava memperhatikan lukisan dengan seksama.


"Bentar-bentar kok aku baru kali ini ya liat lukisan di rumah ini, perasaan papa sama mama gak suka lukisan, malahan di rumah ini gak ada satupun lukisan yang terpasang di dinding, lah kenapa di ruangan ini ada" kata Dava merasa aneh.


"Aneh, tapi bagus tau lukisannya" puji ku.


Angkasa merasa aneh dengan lukisan di depannya.


"Kok ada tulisan kecil berbahasa Jepang ada yang di paling bawah lukisan ini, ini artinya apaan sih' batin Angkasa.


Tangan Angkasa menyentuh lukisan di depannya, Angkasa menggeser sedikit lukisan itu yang begitu enteng walaupun sangat besar.


Kraacckkk


trakk


trakk


trakk


Tembok tergeser, satu persatu anak tangga membentuk jalan dari awal sampai ke akhir.


Kami semua ternganga melihat tembok di samping lukisan itu tergeser saat Angkasa menggeser sedikit lukisan itu.


"Hmm jadi ini kuncinya, pantes aja dari tadi aku merasa aneh dengan nih lukisan" kata Angkasa.


"Wahh wahh wahh gak nyangka ternyata di ruangan ini beneran ada tempat tersembunyi, aku kira ruangan rahasia itu cuman boongan aja, eeh ternyata bener-bener ada, baru kali ini aku liat ruangan bawah tanah dengan mata kepala ku sendiri" takjub ku.


"Ruangan rahasia, jadi benar di sini ada ruangan rahasianya, gak nyangka, pantes aja mama sama om melarang keras aku masuk ke sini" kata Dava.


"Hmm ternyata memang benar apa yang mereka katakan dari tadi, gak nyangka ternyata bocah-bocah ini cerdik juga" batin pak Heru ternganga.


"Macam di film-film aja nih ruangan" kata mu masih takjub melihat ruangan rahasia ini.


"Kita langsung aja masuk ke dalam, jangan buang-buang waktu, takutnya nanti ada orang yang kesini bisa berabe lagi" ajak Angkasa.


"Lest go" jawab kami.


Mereka melangkahkan kaki ke dalam ruangan rahasia, satu persatu mereka menuruni anak tangga yang begitu panjang di ruangan ini.


Angkasa menoleh ke belakang.


"Oh otomatis rupanya, pinter juga keluarga Pakerlimo membuatnya" batin Angkasa yang melihat pintu ruangan rahasia kembali tertutup saat kami kami masuk dalam.


Angkasa melihat ke kanan dan kirinya.


Hmm jadi ini tombol untuk membuka ruangan rahasia kembali, baguslah dia ada di sini, nanti saat mau keluar aku gak usah susah-susah mencarinya" batin Angkasa yang melihat tombol kecil berwarna merah yang ada di samping kirinya.


Angkasa melanjutkan langkahnya hingga tangga ini berakhir.


Aku melihat banyak barang-barang bekas yang ada di dalam ruangan ini.


Terlihat ada satu kamar yang tidak tau apa isinya.


Di sisi lain


"Bete juga nungguin mereka yang tak kunjung keluar dari ruangan aneh ini" keluh Alisa.


Reno melirik gadis di sampingnya.


"Sabar, namanya juga menunggu, semuanya itu harus butuh kesabaran jika ingin mencapai titik terbaik" jawab Reno.


Alisa mengernyitkan dahi.


"Kayak menunggu jodoh datang aja harus butuh kesabaran" balas Alisa acuh tak acuh.


"Ehh jangan salah, ini semua juga harus butuh kesabaran, bukan cuma menunggu jodoh doang yang harus butuh kesabaran, kita harus bersabar jika mau semuanya berhasil, sukses dan sebagainya" jawab Reno.


"Terserah deh, aku sudah penat nungguin mereka, nyesel aku gak ikut bareng mereka, andai aja aku ikut, mungkin aku gak akan merasakan sakitnya menunggu tanpa kepastian yang jelas" sesal Alisa.


"Nanti ikut malah nyusahin, ada apa-apa sedikit teriak, bisa-bisa mereka gagal lagi bantuin om Devan" ejek Reno yang sudah tau seperti apa watak temannya yang memang tak bisa serius kalau dalam keadaan terdesak.


"Udah di sini aja, enakan di sini kok, nanti kalau kamu ikut malah jadi beban lagi" sambung Reno.


"Kamu bisanya juga palingan berakting bak model abal-abal terus pura-pura nabrak orang dan sok tersakiti iiih menjijik" ejek Reno.


Candaan mampu membuat Alisa malu akan apa yang pernah dia lakukan.


Wajah gadis itu murka bak balon yang akan meledak, saat orang yang ada di sampingnya terus saja menghinanya.


"Eeeh lanon, asal kamu tau aku bukan model abal-abal seperti apa yang kamu ucapkan, itu semua hanya terpaksa, masa saat itu Aliza nyuruh aku buat kenalan sama kamu si manusia yang mirip dengan taplak meja, iih ogah, gengsi lah masa cewek duluan yang ngajak kenalan sih, kan gak wajar gitu" jawab Alisa.


Reno terkejut dengan teriakan Alisa yang membuat kupingnya pengang.


Reno menggosok-gosok telinganya yang pengang akibat suara Alisa yang berteriak sangat keras.


"Eeh enak aja muka aku ini ganteng ya, jangan sama kan aku dengan taplak meja, jelas-jelas kita itu berbeda ibratkan bumi dan langit paham nona" bantah Reno yang tak terima dengan perkataan Alisa.


"Eleh sama aja, GAK ADA BEDANYA" tegas Alisa membalas hinaan Reno.


Reno tak membalas ucapan Alisa, ia malas meladeni Alisa.


"Nih orang nyebelin banget, iiih andai aja dia Kutu udah aku ulek-sampai halus" batin Alisa yang sudah sangat kesal dengan Reno yang membuat moodnya makin hancur.


"Udah tau gak akan bisa bantu, masih aja bandel, di beri hati minta jantung nih anak, kembarannya memberikan tugas yang mudah untuknya, tetapi dia malah gak ada rasa bersyukurnya sedikitpun" batin Reno yang tak tau jalan pikirkan Alisa.


Mereka berdua diam beberapa saat, tak ada yang mengeluarkan suara, keduanya sibuk mengumpat dalam hati masing-masing.


tap tap tap tap


Suara langkah kaki seseorang yang terdengar jelas di tempat mereka menunggu.


"Gawat, gawat, gawat" panik Alisa setengah mati saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat.


"Kita harus sembunyi sa" ajak Reno menarik Alisa untuk bersembunyi.


Mereka berdua bersembunyi di samping tembok ruangan aneh.


Suara langkah kaki seseorang itu semakin mendekat dan sangat jelas.


Terdengar ada dua langkah kaki yang di dengar oleh mereka berdua yang sedang bersembunyi.


Langkah kaki itu berhenti tepat di depan ruangan rahasia.


"Loh kok gak di kunci" suara perempuan yang sedang membuka pintu ruangan aneh yang tak di kunci terdengar di telinga keduanya.


Kedua manusia yang sedang bersembunyi memucat takut orang misterius itu curiga.


"Tuh kan bener kamu kelupaan nguncinya" kata perempuan itu.


"Pantesan aja kuncinya hilang satu" jawab si lelaki.


"Oh tidak tuan, anda tidak kelupaan untuk menguncinya tapi kami para anak-anak luar binasa yang sudah membukanya" batin Alisa.


"Kita cek kedalam takut ada yang hilang" ajak perempuan itu.


Keduanya melangkah memasuki ruangan aneh.


Reno dan Alisa bernapas lega karena mereka berdua tak menyadari keberadaannya.


"Untung mereka gak lihat kita" syukur Alisa yang berhasil selamat.


"Sa cepat telpon Aliza kalau orang tua Dava akan ke sana, biar mereka bisa waspada akan kedatangan tamu yang bisa membuat mereka meregang nyawa" tintah Reno tegang.


"Iya-iya, untung kamu ingetin, kalau tidak bakalan ketangkep mereka nantinya" kata Alisa.


Dengan cepat Alisa mengambil ponsel lalu menghubungi ku untuk memberikan imbauan agar kami bersiap akan kedatang orang tua Dava.