
"Begitulah ceritanya" Alisa menyudahi cerita yang terjadi saat kami berada di alam gaib.
"Pak Prapto itu jadi hantu?"
Alisa menggeleng."Enggak, dia gak sempet jadi hantu karena sama warga jenazahnya di siram sama air garam yang menetralkannya"
"Oh syukurlah kalau pak Prapto gak sempet jadi hantu"
"Pak RT gerak cepat, dia gak mau pak Prapto sama kayak dukun beranak yang jadi hantu dan ganggu orang-orang" jawab Reno.
"Masalah Laras itu benar-benar gak ketemu sampai sekarang?"
Mereka semua menggeleng."Enggak za, dia benar-benar gak bisa kita temuin, kita gak tau lagi mau nyari dia di mana, di rumah mbah Gamik sudah kita cari namun tidak ada dia di sana" jawab Alisa.
"Kita harus bisa nemuin dia, kasihan pak Rahmat dan bu Romlah, mereka pasti berharap kalau anaknya kembali, pokoknya kita harus bisa nemuin dia bagaimanapun caranya"
"Udah gak bisa kak, ini sudah 7 hari Laras pergi, dia tidak bisa kembali jadi manusia karena waktunya sudah lewat" jawab Dita dengan pandangan lurus ke depan.
Wajah ku langsung suram karena sekali lagi aku gagal menolong orang.
"Udah gak usah sedih, memang sudah jalan akhir hidup Laras seperti ini, kamu jangan merasa bersalah, kalian sudah berusaha, namun jika tidak berhasil mau bagaimana lagi" bunda tak ingin aku bersedih karena kegagalan ini.
"Iya bun Aliza gak sedih lagi kok, tapi Aliza mau pulang dari sini, Aliza gak mau ada di sini, ayo kita pulang, Aliza mau datang ke kondangannya anaknya pak Jarwo"
"Hemm ayah akan urus dulu kepulangan kalian" aku tersenyum lalu mengangguk.
"Makasih ayah" ayah mengangguk lalu keluar dari dalam kamar ini.
"Selama kamu di desa gaib, kamu ketemu sama Laras gak za?" aku menggeleng cepat.
"Enggak tadz, aku gak ketemu sama sekali sama Laras, dia gak ada di sana, di sana itu hanya ada mbah Gamik seorang yang aku kenali, selebihnya aku gak tau"
"Kenapa tadz, apa Ustadz mau ke sana?" Alisa melihat Ustadz Fahri yang diam.
"Enggak, saya cuman merasa kalau hilangnya Laras gak ada hubungannya sama mbah Gamik, firasat saya mengatakan ada orang lain yang sudah melakukan ini semua dan untuk mencari rasa aman dia mengunduh mbah Gamik pelaku" jawab Ustadz Fahri.
"Bisa jadi, tapi siapa orang yang patut kita curigai"
"Nanti cepat atau lambat kita pasti akan tau, yang jelas dia tinggal di desa Kamboja juga" jawab Angkasa.
"Kalian ini bisa gak sehari saja gak bicarin tentang hantu, hantu dan hantu?" tak habis pikir bunda yang telinganya terus menerus mendengar cerita-cerita horor dan aneh dari kami.
"Enggak bisa bunda, ini sudah menjadi kebiasaan kami dan sulit untuk di hilangin" jawab Alisa.
Bunda menghela napas percuma ia berusaha menghentikan kami karena kami tidak akan pernah berhenti.
"Loh kok bunda bisa ada di sini, bunda kapan balik dari luar kota?"
"Bunda dengar kalau anaknya pak Jarwo mau nikah, bunda punya hutang, ya sudah bunda pulang ke desa lagi" jawab bunda.
"Bunda masalah restoran Aliza gak bisa megang, bunda urus saja sendiri, Aliza udah gak bisa urus restoran lagi karena akhir-akhir ini Aliza sibuk ngurus kasus-kasus"
"Gak bisa bunda, kami gak bisa lagi urus restoran, kami sibuk dan masalah kami ini gak bisa di tunda-tunda harus segera di selesain, jadi bunda urus restoran sendiri, kami tidak mau urus restoran lagi, capek" jawab Alisa.
"Bunda mau nyuruh siapa buat handle restoran" bingung bunda.
"Bunda aja yang urus restoran di sini, kalau yang di luar kota biar ayah aja"
"Enggak bisa za, ayah gak bakal bisa urus sendirian karena di sana masih banyak yang belum di selesain, mangkanya mau gak mau bunda harus ikut ke sana bantu ayah, kasihan ayah ngurus restoran sendirian di sana" jawab bunda.
"Terus gimana dong bun, kami merasa kewalahan saat ada kasus besar, baru-baru ini kami sampe gak tidur karena kasus tersebut harus di urus sampai tuntas, dan hal itu membuat kami merasa gak bisa urus restoran"
"Masa kalian gak bisa urus restoran selama 1 bulan ini?" aku diam, aku masih tidak tau akan ada apa saja yang ada di depan yang akan memberatkan ku.
"Bisa tapi cuman sebulan aja kan?"
"Iya cuman sebulan aja, dalam sebulan restoran yang ada di luar kota dapat terkendali seperti restoran yang ada di sini, dan nanti bunda akan pulang, restoran yang ada di luar kota biar tante Zera kalian yang akan handle, dia bisa kok" jawab bunda.
"Kami akan usahain buat ngurus restoran selama sebulan ini, tapi kalau nanti ada kesulitan kami akan langsung hubungi bunda dan bunda harus segera pulang"
"Iya, nanti bunda akan pulang kalau ada masalah" jawab bunda.
Aku melihat ke samping kiri ku yang terdapat om Azril dan tante Lani.
"Loh kok om Azril sama tante Lani ada di sini, kapan mereka pulangnya bun?"
"Udah lama Aliza, cuman kamu sama Angkasa yang belum bangun juga" jawab tante Lani.
"Ma eyang gimana, udah sehat kan?" Angkasa teringat pada neneknya yang di bawa ke luar negeri untuk berobat.
"Kondisi eyang sudah lumayan baik, tapi sekarang eyang lagi ada di Bandung sama om kamu, dia katanya ingin berada di sana beberapa hari dulu" jawab om Azril.
"Yah Angkasa gak bisa ketemu eyang kalau kayak gitu" kecewa Angkasa yang mendengar jika eyangnya berada di tempat yang jauh.
"Kalau mau ke sana sekarang ayo, papa akan anter kamu ke sana" ajak om Azril.
"Enggak pa, Angkasa gak mau, nanti Angkasa tunggu eyang pulang aja" tolak Angkasa.
"Ayo kamu pulang, udah lama kamu berada di rumahnya tante Diana, sekarang kamu harus pulang ke rumah" ajak tante Lani.
"Enggak mau" tolak Angkasa cepat.
"Enggak mau gimana, kamu harus pulang, masa kamu selamanya mau di sana" tak habis pikir tante Lani.
"Ma aku gak mau pulang, aku mau tinggal sama ayah dan bunda aja, mama sama papa mau kemana pun silahkan, Angkasa hanya mau tinggal di desa aja" jawab Angkasa.
"Enggak bisa, kamu harus pulang, kamu sudah terlalu lama berada di rumah tante Diana dan om Rangga, sekarang kamu harus ikut kami pulang ke kota lagi" tegas tante Lani.
"Angkasa gak mau ma, Angkasa lebih suka tinggal di desa, Angkasa gak mau tinggal di kota, plis biarin Angkasa tinggal di rumah bunda sama ayah" mohon Angkasa.