
"Za nenek-nenek itu udah hampir gak terlihat, ayo kita kejar dia, kita tidak boleh kehilangan jejaknya" panik Angkasa saat nenek-nenek tua itu sudah sangat jauh dari posisi kami.
"Iya ayo"
Kami berlari mengejar nenek-nenek tua yang semakin menjauh.
Setelah mulai mendekat kami berhenti berlari dan berjalan mengikuti nenek-nenek itu dari belakang.
"Apa mau kalian, kenapa ngikutin nenek?"
Kami sontak kaget saat nenek-nenek tua itu menyadari keberadaan kami padahal kami sudah berusaha sepelan dan serapih mungkin mengikutinya dan berharap tak akan ketahuan.
Nenek-nenek tua itu berbalik menghadap ke arah kami yang masih terkejut.
"Kenapa kalian ngikutin nenek, apa yang kalian mau?" nenek-nenek itu menatap kami dengan sinis.
"Kami hanya ingin tau ada apa di desa ini, sehingga ada orang-orang pada ke sebelah sana semua" jawab Angkasa dengan menunjuk ke arah timur yang banyak sekali warga desa yang berjalan berbondong-bondong, tak tau mau pada kemana.
"Di sini ada anaknya pak lurah yang nikah, mereka semua lagi datang ke rumah pak lurah untuk bantu-bantu, apa kalian mau ke sana juga?" aku bernapas lega saat nenek-nenek tua itu tidak curiga pada kedatangan kami.
"Iya nek, kami ingin tau siapa yang nikah" jawab Angkasa.
"Ayo ikuti nenek" kami mengikuti nenek-nenek tua itu dari belakang.
Sepanjang perjalanan aku melihat desa gaib ini yang sepi karena pastinya semua orang pada berangkat ke rumah pak lurah yang mengadakan hajatan di sana.
"Kenapa tidak ada lagi makhluk hitam yang tadi aku lihat, kemana perginya makhluk hitam itu, apa mungkin dia hanya lewat saja" batin ku yang sudah tak melihat lagi makhluk halus yang berkeliaran di desa ini.
"Mungkin saja, semoga saja tidak ganggu kami saat kami berada di sini" batin ku.
Nenek-nenek tua itu berhenti tepat di depan rumah yang terbuat dari kayu yang bersih dan terawat.
"Ayo masuk dulu, kalian belum makan siang bukan" ajak nenek tua.
"Ini di mana nek?"
"Ini di rumah nenek, kalian masuk dulu, acara di rumah pak lurah di adakan nanti malam, kalian datang ke sana nanti malam saja" jawab nenek.
"Bagaimana ini sa, apa kita akan nunggu sampai malam" bisik ku di telinga Angkasa.
"Gak apa-apa za, nanti kita juga sambil nyari tau ada apa saja di sini" jawab Angkasa dengan berbisik.
"Ayo masuk ndok, jangan sungkan-sungkan" ajak nenek lagi.
"Iya nek"
Kami masuk ke dalam rumah nenek itu yang terbuat dari kayu.
"Duduk dulu, nenek mau ambil makanan dulu" suruh nenek.
"Tidak usah repot-repot nek"
"Ah tidak, nenek tidak repot kok" jawab nenek dengan senyuman manis.
"Ratih kamu di mana, keluar ndok" panggil nenek.
Kemudian keluarlah seorang gadis yang sebaya dengan ku yang berkulit putih seperti anak albino.
Dia menatap ke arah ku dengan wajah dingin.
"Siapa mereka nek, kenapa nenek bawa kemari?" Ratih bertanya dengan nada dingin seperti tak suka pada kedatangan kami.
"Mereka ingin hadir di acara nikahannya anaknya pak lurah, jadi nenek bawa mereka dulu ke sini karena acaranya nanti malam, mereka biar istirahat dulu di sini" jawab nenek.
Ratih melirik ke arah ku, aku langsung menyunggingkan senyum.
"Kamu duduklah di sini dulu, nenek mau ambil makanan di dapur" nenek berjalan masuk ke dalam dapur.
"Kenalin nama aku Aliza" aku mengulurkan tangan ke arahnya.
Plas
Aku terkejut ketika tau kalau Ratih benar-benar tidak suka pada kedatangan kami, awalnya berpikir kalau ekspresi wajahnya memang seperti itu, namun kini aku tau kalau dia memang tak suka pada kami yang datang ke sini.
"Aku gak akan ganggu kehidupan kamu, kamu tidak usah khawatir"
"Tidak, kamu pasti akan ngancurin kehidupan aku, pergi kamu dari sini" usir Ratih.
"Ratih, jaga sikap kamu, kamu jangan marahin nak Aliza" nenek melototkan matanya ke arah Ratih.
"Bela terus dia nek, bela" marah Ratih kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Brakk
Aku terkejut saat Ratih menutup pintu dengan sangat keras.
"Nak maklumin Ratih ya, dia kalau sama orang baru memang suka gitu, aslinya dia baik kok" nenek meletakkan makanan di depan kami.
"Iya nek, kami tidak masalahin hal itu kok"
"Ayo kita makan, nenek mau ke rumah pak lurah untuk bantu-bantu lagi, nanti nenek akan jemput kalian saat matahari sudah mulai tenggelam" ajak nenek.
"Rumahnya pak lurah jauh ta nek dari sini?" penasaran Angkasa.
"Tidak, rumahnya pak lurah tidak jauh, hanya berjarak dua sawah dan 4 rumah saja" jawab nenek.
"Lumayan jauh juga nek"
"Gak jauh, sudah ayo kita makan dulu, kalian pasti lapar bukan" ajak nenek.
"Bagaimana dengan Ratih nek, dia masih ada di dalam kamarnya, apa dia gak mau makan juga" Angkasa memikirkan Ratih yang masih marah karena tak suka kami masuk ke dalam keluarganya.
"Tidak usah pikirkan dia, nanti dia akan makan sendiri, ayo kita makan" ajak nenek.
Di depan ku sudah ada banyak makanan yang kebanyakan dari hasil kebun yang sehat dan bergizi.
Aku agak ragu untuk makan makanan di desa gaib ini karena aku masih trauma pada kejadian di mana aku memuntahkan kembang karena makan makanan di keluarga gaib.
"Bagaimana ini, apa aku makan juga apa tidak" batin ku.
Aku melirik ke arah Angkasa yang makan dengan lahap.
Nenek menatap ke arah ku yang tidak ikut makan."Kenapa nak Aliza, kenapa enggak ikut makan juga, apa makanannya gak enak?"
"Bukan gitu nek"
"Kenapa za, ayo makan, makanannya enak kok" ajak Angkasa.
Aku mengangguk terpaksa aku makan makanan di desa gaib ini.
Makanan yang ku santap saat ini sangat lezat, meski sederhana namun rasanya juara.
Aku makan dengan lahap bersama nenek dan Angkasa, aku melupakan kejadian yang ku alami setelah makan di keluarga gaib itu.
"Alhamdulillah akhirnya kenyang juga" syukur Angkasa.
"Terima kasih nek sudah ngajak kami makan siang"
"Sama-sama nenek mau ke rumah pak lurah lagi, kalian tunggulah di sini, di sana ada dua kamar, kalian kalau mau istirahat silahkan, nenek akan kembali nanti untuk ajak kalian ke sana" tunjuk nenek ke arah dua kamar yang berada di sebelah kamar Ratih.
"Baik nek"
Nenek hendak membereskan bekas makan kami.
"Jangan nek, biar Aliza saja yang akan beresin, nenek kalau mau pergi ke rumah pak lurah silahkan"
"Ya sudah nenek pergi dulu, kalian tunggu di sini, jangan kemana-mana" titah nenek.
"Baik nek"
Nenek tua itu keluar dari dalam rumah ini meninggalkan aku dan Angkasa serta Ratih.