The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri suara minta tolong 9



Kami yang melihat itu semua dari kamera cctv tercekat, kami benar-benar tak pernah menyangka kalau bu Dinda akan melakukan itu semua pada mbk Laura.


"J-jadi bu Dinda yang sudah dorong mbk Laura hingga mbk Laura di tabrak dan meninggal" tercekat Alisa dengan menutup mulut saking terkejutnya.


"Ini kasus kriminal, kita harus laporin ini ke polisi, pak satpam saya minta copy rekaman cctv ini, karena akan saya jadikan barang bukti untuk laporin tersangka itu" titah Angkasa.


"Baik dek" satpam itu melakukan apa yang Angkasa inginkan.


"Za kamu telpon om, dia harus tau dan dia juga harus tangkap bu Dinda, kita gak boleh biarin dia berkeliaran bebas sementara dia sudah bikin mbk Laura meninggal" suruh Angkasa.


"Iya, aku akan bilang pada om, sebelumnya kita harus cari tau siapa orang yang nabrak mbk Laura, dia juga harus di tangkap, dia gak bisa kita biarkan gitu aja, dia juga bersalah dalam hal ini"


Mereka semua mengangguk."Ayo kita cari tau pelakunya, kita harus tangkap dia, dia gak bisa main lari dari tanggung jawab setelah buat mbk Laura meninggal dunia" tak terima Reno.


"Itu harus, dia harus mendekam di dalam penjara, gak mau tau pokoknya dia harus di tangkap" sahut Alisa.


"Ayo kita keluar aja, makasih pak sudah bantu kami"


"Sama-sama"


Kami semua keluar dari dalam ruangan cctv dengan membawa rekaman cctv sebagai bukti.


Ketika kami hendak meninggalkan restoran itu, tiba-tiba mata Dimas menangkap sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.


"Ini kayak mobil yang sudah nabrak mbk Laura" tunjuk Dimas pada mobil hitam yang terparkir rapih di restoran besar itu.


"Iya ini memang mobil yang kita cari-cari" sahut Roki yang juga mengenali mobil hitam itu.


"Kalau mobil ini ada di sini berati pelakunya juga berada di dalam restoran ini, kita harus temuin dia, dia harus di tangkap, enak aja dia main lari dari tanggung jawab" tak terima Alisa.


"Kita tunggu aja pemilik mobil ini keluar, baru kita langsung tangkap dia"


"Tapi sebelumnya za kita harus telpon polisi, biar polisi yang tangkap dia" saran Roki.


"Kalau masalah itu nanti dulu, kita lihat seperti apa dulu pelakunya, lalu ikuti, habis itu baru aku akan suruh om buat tangkap pelakunya, aku cuman takut salah orang saja"


"Benar juga, kita tunggu saja dulu pelakunya keluar, baru kita ambil tindakan selanjutnya" setuju Angkasa yang di balas anggukan oleh mereka semua.


Kami semua menunggu dari jarak yang cukup jauh, pandangan kami terus tertuju pada mobil hitam yang terparkir rapih itu.


"Mana pemiliknya, kenapa gak keluar-keluar" mulai kesal Alisa karena sejak tadi menunggu namun pemilik mobil itu masih tak kunjung keluar.


"Udah kamu jangan marah dulu, bentar lagi pemiliknya pasti akan keluar"


"Eh lihat itu pemiliknya" tunjuk Byan ke arah seorang laki-laki yang keluar dari dalam restoran dan masuk ke dalam mobil hitam itu.


"Gawat dia mau pergi" panik Roki.


"Kita harus ikuti dia, kalian bertiga tunggu di sini, aku mau ambil mobil dulu" suruh Angkasa.


"Iya, cepetan sana kamu ambil"


Angkasa, Roki, Byan dan Dimas berlari mendekati kendaraan yang terparkir sembarangan di depan sebuah rumah di jalan merpati.


Sementara kami bertiga gelisah saat mobil hitam itu akan segera pergi meninggalkan restoran.


"Bagaimana ini, mobil itu akan pergi" panik Alisa.


"Kita harus bisa hentikan dia" sahut Reno lalu berlari mendekati mobil hitam itu.


"Renoo!" terima kami saat melihat Reno yang berlari duluan, kami mengejarnya dari belakang.


"Pak, pak, pak" panggil Reno dengan mengetuk kaca mobil.


"Pak berhenti pak"


"Paaak!" teriak Reno saat mobil hitam itu melaju dengan kencang ke sebelah utara.


"Aaaahh dia melarikan diri" pekik Reno.


"Kita harus kejar dia, kita gak boleh lepasin dia" jawab Alisa.


"Mana Angkasa, kenapa lama banget" aku menunggu kedatangan mereka berempat dengan cemas karena mobil hitam itu semakin lama semakin menjauh.


Angkasa menghentikan mobil tepat di depan kami.


"Di mana mobil itu, kenapa sudah gak ada di sini?" panik Roki.


"Di sana rok, dia lari ke sana, kamu kejar dia ke sana" jawab Reno dengan menunjuk ke sebelah utara.


Roki, Byan dan Dimas langsung mengendari motornya ke jalan yang Reno tunjuk.


"Ayo kalian masuk ke dalam" suruh Angkasa


Aku dan yang lain langsung masuk ke dalam, Angkasa langsung melajukan mobil mengejar mereka yang berada di depan.


"Lebih cepat lagi sa, kita jangan biarkan dia pergi, kita harus tangkap dia" suruh Reno yang sudah panik karena takut kehilangan jejak pemilik mobil itu.


Angkasa tidak menjawab, ia fokus menyetir mobil dan terus mengejar mereka.


"Za hubungi om, kita perlu bantuan om" suruh Alisa.


Aku langsung mengangguk dan menghubungi pak Heru.


"Halo om"


"Ada apa Aliza?"


"Om cepat ke sini, Aliza bakal share lokasinya"


"Emang ada apa Aliza, tidak ada masalah apapun kan?"


"Anu om, kami lagi ngusus kasus korban tabrak lagi berinisial L yang meninggal 1 Minggu yang lalu, sekarang ini kami lagi ngejar pelakunya, om cepat bantu kami"


"Baik om akan segera ke sana"


Aku langsung memutuskan panggilan setelah mendengar jawaban pak Heru.


"Lebih cepat lagi sa"


Angkasa terus melajukan mobil dengan fokusnya, pandangannya terus tertuju pada mobil hitam yang melaju di depan kami.


Tiba-tiba mobil Angkasa berhenti.


"Aaaah kenapa pake macet segala" pekik Angkasa yang kesal.


"Gimana ini" cemas Alisa.


"Gak ada cara lain, kita harus tunggu kemacetan ini kelar" sahut Reno.


Dengan menghembusakan napas berat aku menunggu kemacetan ini usia dengan tidak tenang.


Roki dan yang lain terus mengejar mobil hitam itu.


Mobil hitam terus melaju kencang, Roki, Dimas dan Byan memepet ke mobil itu.


"Berhenti, pak berhentiii!" teriak Roki.


Pemilik mobil itu tak kunjung berhenti, dia terus melaju kencang tanpa mempedulikan mereka semua yang mengejarnya.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi, Roki dan mereka berdua sebisa mungkin tak akan pernah membiarkan mobil hitam itu lolos, mereka masih gigih mengejar mobil hitam itu.


"Pak berhenti, pak kami mohon berhenti!" Dimas berusaha menghentikan mobil itu, namun pemilik mobil itu tak kunjung berhenti.


"Pak, pak kami mohon berhentilah"


Bukannya malah berhenti mobil itu malah semakin melaju dengan kencang.


"Gawat, dia masuk ke jalan tol, kita gak bisa ikutin dia" panik Byan.


"Aaaahh licik, dia benar-benar licik" pekik Roki menghentikan motor di pinggir jalan.


Sementara mobil hitam itu terus melaju bebas melewati tol.